KARMA

KARMA
Menemukanmu


Tetesan air mata yang terus mengalir menganak sungai di pipi halus itu menjadi teman Mesya membawa langkahnya. Mesya tak tau harus kemana saat ini, dia hanya mengikuti kemana kakinya akan membawanya.


Mesya kira, beberapa hari yang lalu adalah sebagai titik dimana kebahagiaannya akan di mulai kembali. Namun nyatanya dia salah, kehancurannya belum juga selesai sampai saat ini.


Sekarang Mesya kembali sendiri, hanya anak dalam kandungannya yang ia punya seperti saat awal dia keluar dari rumahnya.Tak tau harus kemana, dan mengadu kepada siapa


mengingat ucapan Kusworo tentang Bisma tadi.


Tentu saja hati Mesya bagai tertusuk ombak mengetahui tabiat Bisma berada di sampingnya beberapa hari ini.


Memang salah Mesya sendiri karena percaya dengan kata-kata manis Bisma. Bukankah sedari awal Mesya tau kalau Bisma tidak menyukai wanita seperti dirinya.


"Ternyata, membalas ku dengan menghancurkan perasaanku lebih sakit daripada hidup terlunta-lunta di jalan dan mengais makanan sisa Kak. Kalau menginginkan anak ini saja, tapi kenapa juga kamu harus mengatakan cinta kepadaku. Sialnya lagi, aku tidak bisa melihat kebohongan itu di matamu!! Kamu benar-benar telah berhasil menyakiti jiwa dan ragaku Kak"


Mesya mengusap besarnya dengan masih sesenggukan. Lapar dan haus benar-benar sudah tidak di rasakan Mesya lagi. Ia kembali berjalan mencari tempat berlindung dari kerasnya duni


Tiba-tiba Mesya teringat akan Nenek Asri, Nenek penjual kerupuk yang menjadi penolongnya.


Meski dia belum pernah ke rumah Nenek Asri, tapi Mesya pernah di beri petunjuk oleh Nenek.Asri waktu itu.


"Permisi Pak, saya mau tanya rumahnya Nenek Asri menjual kerupuk di mana ya??"


Bapak-bapakberkumis tebal itu tampak terkejut dengan pertanyaan Mesya.


"Memangnya ada perlu apa Neng?? Kalau boleh tau Neng ini siapanya Nenek Asri??"


"Saya hanya ada perlu sebentar dengan Nenek Asri Pak. Jadi kalau boleh tau, rumahnya yang mana ya Pak??"


Lagi-lagi Bapak itu terlihat kebingungan dan tampak terdiam sejenak.


"Pak??" Panggil Mesya lagi karena Mesya tak kunjung mendapatkan jawabannya.


"Siapa Pak??" Seorang wanita keluar dari rumah di belakang pria tua yang sejak tadi bicara dengan Mesya itu.


"Ini Bu, dia cari rumahnya Nenek Asri. Mau ada perlu katanya" Ucap Bapak tadi kepada wanita yang Mesya perkirakan adalah istrinya.


"Hah?? Yakin Neng??"


"I-iya Bu, bisa minta tolong dimana rumahnya Bu??" Mesya heran kenapa menunjukkan rumah saja harus kaget seperti itu.


"Nih rumahnya, sebelah kita persis. Tapi Nenek Asri sudah meninggal seminggu yang lalu karena kecelakaan"


JEDEERRR....


"Inalillahi.." Gumam Mesya.


"Nenek Asri meninggal Bu??" Tanya Mesya masih tak percaya.


"Iya, korban tabrak lari" Jawab wanita tadi.


"Ya Allah Nenek. Maafkan Mesya yang tidak tau apa-apa" Pipi Mesya yangs sempat kering kini kembali basah.


"Ya sudah terimakasih Pak, Bu. Saya permisi"


Kini Mesya sudah tak punya harapan lagi. Tak ada yang bisa membantunya saat ini. Dia juga tidak ingin menemui Bisma sama sekali.


*


*


*


Setelah menemui Kusworo tadi, Bisma dan Ferry memutuskan untuk berpisah mencari Mesya. Mungkin dengan cara itu, akan lebih cepat menemukan wanita yang kini dicintai Bisma itu.


"Kamu di mana Sya?? Apa kamu dan anak kita baik-baik saja??"


Hari sudah mulai sore namun Bisma juga belum mendapatkan kabar dari Ferry dan anak buahnya yang lain.


Awan gelap juga semakin menghiasi langit sore ini. Tampaknya sebentar lagi ribuan bulir air akan turun membasahi Bumi. Tak ayal itu membuat Bisma semakin khawatir dengan keadaan Mesya.


Bisma terus memacu mobilnya dengan pelan, matanya juga terus melihat ke sisi kiri dan kanan tak pernah lengah sedikitpun.


Bisma menghentikan mobilnya di sebuah taman yang mulai sepi karena hari yang telah gelap. Rintik-rintik hujan juga mulai turun bertepatan saat Bisma keluar dari mobilnya.


Pria yang tak ingin kehilangan wanita yang dicintainya dua kali itu memilih turun dari mobilnya dan mencari Mesya dengan berjalan kaki. Tak peduli tubuhnya yang mulai basah dengan air hujan, Bisma tetap berjalan tak berarah.


Di kegelapan dengan penerangan yang sangat minim, Bisma masih terus menyusuri taman yang cukup luas itu. Entah kenapa perasaannya ia begitu dekat dengan Mesya saat ini.


Hingga Bisma melihat sekilas bayangan wanita yang berjalan pelan di tengah hujan.


"MESYA!!" Panggil Bisma.


Bisma mengejar wanita yang ia yakini adalah Mesya itu. Dari postur tubuh serta baju yang pernah ia beli untuk Mesya dulu, Bisma yakin jika itu Mesya.


"MESYA, DIMANA KAMU!! INI AKU, AYO KITA PULANG!!" Teriak Bisma karena tiba-tiba dia kehilangan wanita yang sempat di lihatnya tadi.


Bisma berlari ke sana kemari, memeriksa di balik pohon juga di warung-warung di dekat sana yang telah tutup dan tak terpakai.


"MESYA!! AKU TAU ITU KAMU!! KELUARLAH, AYO KITA PULANG!!"


Sementara seorang wanita yang telah bayah kuyup duduk di balik pohon dengan membekap bibirnya sekuat mungkin agar tak mengeluarkan suara tangisannya.


Mesya tadi langsung berlari menyembunyikan dirinya karena melihat Bisma yang datang menghampirinya.


Meski hujan turun tak begitu deras namun berhasil membuat badan Mesya menggigil di balik pohon.


"AKU TAU KAMU PASTI MARAH DAN TIDAK MAU BERTEMU DENGANKU!! TAPI AKU MOHON PERCAYALAH PADAKU!! JANGAN DENGARKAN ORANG LAIN!!"


Bisma terus berteriak agar Mesya mendengarkan penjelasannya.


"AKU TIDAK PERNAH BOHONG DENGAN PERASAANKU KEPADAMU SYA. AKU TULUS MENCINTAIMU, AKU TULUS MENYAYANGI KALIAN BERDUA!!"


Bisma bersyukur saat ini hujan bisa membasahi wajahnya hingga bisa menyamarkan air matanya.


"AKU MEMANG BUKAN LAKI-LAKI BAIK KARENA TELAH MENYAKITIMU. TAPI AKU SELALU BERUSAHA MENEBUS SEMUA KESALAHANKU KEPADAMU SYA!! AKU INGIN MELINDUNGI KAMU DAN ANAK KITA, AKU INGIN KAMUS SELALU ADA DI SAMPINGKU SAMPAI AKHIR NANTI. SEKARANG HANYA KAMU WANITA SATU-SATUNYA YANG AKU CINTAI DI DUNIA INI. JADI AKU MOHON PERCAYALAH PADAKU SYA!!"


Bisma benar-benar seperti orang kesetanan yang tak ada lelahnya terus berteriak seperti itu.


"AKU TIDAK BERNIAT MENGAMBIL ANAK KITA DARIMU. AKU HANYA INGIN MEMBESARKANNYA DENGANMU. SEMUA YANG DI KATAKAN PRIA ITU BOHONG SYA. DIA HANYA TIDAK MAU MELIHAT KITA BAHAGIA!!"


"AKU MENCINTAIMU MESYA!! AKU MENCINTAIMU!!! DENGAR ITU HAH!!!"


Bisma ambruk menekuk lututnya di taman yang dingin. Dia merasa putus asa karena Mesya sudah tak mau mendengarkannya lagi.


"Hiks...hiks..." Suara isakan yang tak bisa di tahan oleh Mesya lagi mimpi menembus telinga Bisma.


"Mesya??" Bisma menajamkan pendengarannya.


"Hiks..."


"Mesya kamu di mana??" Bisma langsung bangkit mencari sumber suara itu.


"Mesya!!"


Bisma langsung jatuh bersimpuh mendekati Mesya yang duduk meringkuk di balik pohon.


Hati Bisma teriris melihat tubuh menggigil dan wajah pucat Mesya.


"Akhirnya aku menemukanmu Sya. Jangan lagi pergi jauh dariku!!" Bisma memeluk Mesya dalam kondisi duduk di tanah seperti itu.


"Kamu pasti kedinginan kan?? Kita pulang sekarang ya??" Bisma terus memeluk Mesya dengan erat untuk membuat wanitanya itu hangat meski dirinya sendiri juga sudah basah kuyup.


"Kak" Lirih Mesya.


"Iya sayang??"


"Bawa aku pulang. Aku kedinginan dan lapar" Suara Mesya hampir tak terdengar saat menyampaikan permintaannya itu kepada Bisma.


Sementara Bisma meringis merasakan nyeri pada dadanya mendengar Mesya yang mengeluh seperti itu kepadanya.