
Jangankan untuk Bisnis, Jualan. Untuk memberi saja aku butuh perjuangan.
Tetapi hari ini perjuanganku tidaklah sia sia. Perjuangan untuk Donor Darah!
Setiap tiga bulan sekali, aku selalu datang mendaftar. Tapi lebih sering ditolaknya daripada diterimanya. Alasannya, kadang pas tekan darahnya rendah. Padahal normalnya, sehari hari tekanan darahku selalu rendah, 100/70. Kadang HB nya kurang, minimum HB Darah 12,5 - 17 pernah aku hanya 10.
“Kalo HB ini hubungnnya dengan pola makan, banyakin makan makanan yang mengandung serat, sayur mayur, protein” ” Begitu saran Dokter jaga.
Yang tidak bernah kurang adalah Berat badan!
Makanya setiap kali hendak donor aku benar benar mempersiapkan diri sebelumnya. Benar benar Niat. Antara lain tidur minimum 5 jam sebelumnya. Asupan makanan benar benar aku perhatikan. Sarapan minimum 3 jam sebelumnya.
Untuk yang ini terkait Peraturan Menteri kesehatan terbaru tahun 2015 yang berhubungan dengan Transfusi Darah, bahwa untuk bisa donor paling tidak puasa minimum 3 jam sebelumnya, ini untuk menjaga kualitas darah agar bagus, tidak keruh.
Padahal aku baru saja makan roti jam 8 pagi, tetap saja dokter menyarankan aku menunggu sampai jam 11 untuk bisa diambil darahnya. Karena karbohidrat dari roti juga bisa membuat keruh darah.
“Kalau semua persyaratan sudah terpenuhi, tapi darahnya tidak memenuhi standar gimana Dok?” Tanyaku.
“Ya dibuang, Sayang kan. Ibu donor kan buat dikasihkan ke orang, bukan buat dibuang” Jelasnya.
Seorang pendonor disebelahku mulai diukur tekanan darahnya. Kemudian Dokter melihat muka bapak bapak itu, ada bekas bintik bintik kemerahan. “Bapak habis sakit cacar ya?” Tanyanya langsung.
Bapak itu mengangguk sambil meringis.
“Sudah berapa lama?”.
“Kurang lebih seminggu”.
Langsung dokter membuka tensiometer yang sudah dililitkan di lengannya, dan tidak jadi diukur.
Langsung ditolak.
Apalagi sakit cacar yang penyebabnya virus. Sakit DBD saja harus menunggu minimum 3 bulan untuk bisa donor. Sakit typus harus menunggu 6 bulan untuk bisa donor.
“Kenapa bisa selama itu ya Dok?’ Tanyaku lagi. Mau donor saja susah, pikirku.
“Karena tubuhnya sendiri masih memerlukan darah. Dia kan sakit, staminanya harus dijaga agar cepat pemulihannya. Jadi untuk kesehatan si pendonor sendiri”
Ooh...
🌾🌾🌾
Aku ikut tersenyum melihatnya. Lucu sekali. Aku jadi teringat HP ku, semalem terjatuh di kolong, lupa aku mengambilnya. Mudah mudahan tidak ada teman yang menghubungi aku.
Aku sering dimarah marahi karena susah dihubungi. Sering miss call. Gimana ngga miss call ngambilnya aja susah. Di kolong. Jauh pula, kedalam. Kadang sapu pun ngga nyampai. Aku harus menggeser tempat tidur. Tempat tidurnya berat, kadang aku harus menunggu emba datang untuk sama sama angkat.
Ahh..
Mungkin lain kali selain prepare kesehatan tubuh sebelum donor, aku juga harus prepare penampilan dan gadget fully charged, biar bisa di capture lalu di posting di medsos, siapa tahu banyak yang terinspirasi. Ikut ikutan donor. Jadi itung itung syiar juga.
Malu ngga yaa...
Walaupun tak pernah berharap Likes, rasanya kalau mau posting di medsos mesti mikir seribu kali. Makanya aku sering heran, ada orang yang cuma bilang.. selamat pagii.....
terus yang ngelike 300 orang. Apa aku yang kudet ya? Kurang update. Aku hanya menebak nebak mungkin teman ini sudah jadi pejabat.. apapun yang di katakannya langsung di Like semua anak buahnya.
Ah mungkin aku ngiri. Prestasiku untuk mendapatkan like dalam postinganku, paling banyak lima biji.
Sungguh memprihatinkan.
Oh tidak. Pernah aku mendapat lebih dari 100 likes dalam satu jam. Itu posting an yang aku tag ke Bright. Ternyata yang ngelike teman Bright semua
Akhirnya setelah sekitar 15 menit pikiranku melayang kemana mana, mas mas petugas menggunting selang darah itu menjepit bagian yang masih terpasang dilenganku, dan menekan selang sambil mendorong darah yang masih ada diselang ke dalam kantong darah, lalu mengikatnya.
Sisa darah dari selang masih menempel di lenganku dimasukan kedalam botol kecil botol kecil untuk sampel. Mencabut jarumnya dari pembuluh darah di tangan kiriku lalu menempelkan tensoplas ke bekas jarumnya.
Aku bersyukur, akhirnya perjuanganku tidak sia sia, Tuhan mengijinkan. Hari ini aku berhasil untuk donor 350 cc.
Aku melihat buku donorku, ternyata ini genap yang ke dua puluh. Setiap tahun hanya berhasil rata rata 2 kali donor. Sejak tubuhku kehabisan darah dan begitu sulit mendapatkan darah yang sesuai dengan golongan darahku, aku selalu membayangkan bagaimana wajah ayahku yang begitu panik, cemas dan bahkan sempat marah marah pada petugas palang merah karena masalah birokrasi, saat saat aku koma sehabis persalinan dulu...
Kini aku melihat ayahku tersenyum kembali.
Aku tak tahu, seberapa banyak donorku tak dapat melunasi hutangku pada orang yang telah suka rela mendonorkan darahnya untukku pada saat ktitis dulu. Hanya ini yang bisa kulakukan.. mendonorkan darahku kembali untuk yang membutuhkan.
Darah untuk kehidupan.
🌾🌾🌾