
Di sisi lain, di sebuah gedung pencakar langit, seorang Jonathan tampak tengah mengadakan pertemuan dengan beberapa klien. Sebuah notifikasi di ponsel yang menunjukkan tagihan belanja sang istri membuat pria tersebut tersenyum kecil. “Ternyata setiap perempuan sama saja. Mereka terlalu suka berbelanja, aku kira dia hanya wanita polos yang tidak tahu cara menggunakan uang,” gumamnya lirih.
Jo lantas meletakkan kembali ponselnya dan kembali berbincang. Akan tetapi, tidak lama kemudian, ponsel lawan bicaranya yang kini bergantian berdering tanpa henti sejak tadi.
“Anda bisa mengangkatnya terlebih dahulu, Tuan Robert. Mana tahu penting,” ucap Joe melihat tampaknya sang klien tengah bingung.
“Baiklah, Tuan.” Dengan berat hati Robert mengangkat panggilan tersebut. Pria tersebut berdiri dan sedikit menjauh agar percakapannya tidak mengganggu sang klien. “Ada apa?” ucapnya.
Cukup lama pria itu berbincang dengan wanita di seberang sambungan telepon, membuatnya mengusap kasar wajah sendiri.
“Ayolah, Sayang! Jemput aku sekarang juga! Tangannku melepuh karena ulah wanita tidak tahu diri itu.” Seorang wanita merengek di seberang sana. Robert yang sedang meeting tentu saja bingung bagaimana harus menanggapinya.
“Tapi aku sedang bertemu dengan klien, Vallen, tidak bisakah kau meminta supir mengantarmu ke rumah sakit? Atau kau naik taksi saja,” ucap Robert.
“Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku maunya dirimu. Kau harus datang ke mari sekarang juga, titik.” tanpa menunggu jawaban Robert, wanita itu mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
Joe yang melihat Robert kembali dengan wajah frustrasi lantas berkata, “Apa kau memiliki masalah, Tuan Robert?”
“Emth, tidak, Tuan. Hanya saja—” Robert bingung harus memanggil wanita itu dengan sebutan apa. Jika dibilang istri, mereka juga bukan suami istri. Mau bilang kekasih, tetapi hubungan mereka sejak awal memang tanpa status yang jelas.
“Apa ada masalah dengan keluargamu?” tanya Joe sedikit menerka.
“Begitulah sekiranya, Tuan.”
“Kalau begitu pergilah,” ujar Joe santai.
“Tapi, Tuan. Bagaimana dengan pembahasan kita?”
“Kita bisa melanjutkannya lain waktu. Lagi pula aku juga ingin menemui istriku hari ini. Jadi, tidak masalah.” Joe melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sejenak, sudah waktunya makan siang. Mungkin bisa dia gunakan untuk makan bersama Becca sekali-kali.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan.” Kedua pria itu pun saling berjabat tangan sebelum akhirnya berpisah, sedangkan Joe lantas menghubungi anak buahnya yang memang selalu siap sedia mengawasi dari jauh ketika ada anggota keluarga yang keluar.
Di lain tempat, Becca yang tidak menduga pertemuannya tanpa sadar mulai terasa pusing. Seolah dia belum siap dengan kemungkinan terburuk itu nantinya.
“Kakak Ipar.” Satu kali panggilan dari Jessica tidak di dengar oleh Becca. “Kakak Ipar.” Dua kali wanita tersebut masih juga belum menjawab, seakan Jessica sedang berjalan dengan mayat hidup kali ini. “Kakak Ipar!” teriak Jessica sedikit keras.
“Kau ini kenapa sih? Sejak tadi sepertinya melamun terus?” tanya Jessica menelisik. “Apa kau mengenal wanita itu?”
Becca sontak mengangkat kepalanya yang tertunduk. “Tidak! Aku, aku hanya merasa kurang enak badan. Aku mau ke toilet sebentar.”
Tidak ingin adik iparnya semakin curiga, Becca melanggah bingung mencari di mana kiranya kamar mandi umum di sana. Namun, bukan Jessica namanya jika dia mudah di alihkan dengan sebuah tipu daya seperti itu.
Mata Jessica memicing penuh curiga. Dia merogoh tas kecilnya guna mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. “Cari tahu siapa wanita tadi, dan apa hubungannya dengan kakak iparku. Aku menemukan gelagat anehnya sejak tadi. Pasti bukan sesuatu yang bisa di anggap remeh,” perintah Jessica pada seseorang di seberang sana.
“Kau menghubungi seseorang?” tanya Becca yang baru saja kembali.
“Iya, emth tadi itu, aku hanya merindukan suamiku,” kata Jessica beralasan, sebab dia yakin Becca tidak mungkin mendengar percapannya tadi.
Becca mengangguk, memang selama menikah dengan Jonathan dia sendiri belum pernah bertemu dengan sosok suami dari Jessica, dan hanya mendengar jika pria tersebut tengah bekerja di luar negeri.
“Apa kau sudah selesai, Kakak Ipar?” tanya Jessica.
“Sudah ayo!”
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, secara tidak sengaja Jessica menyenggol lengan Becca dan membuatnya sedikit meringis. “Awh.”
“Kau tidak apa-apa, Kakak Ipar?” tanya Jessica panik. Dia lantas melihat tangan Becca yang membuatnya sedikit terkejut. “Astaga, tanganmu melepuh. Ya Tuhan, kenapa telapak tanganmu juga sampai bisa terluka seperti ini? Ayo kita ke rumah sakit!”
“Tidak perlu, Je. Ini hanya luka ringan.” ucap Becca.
“Apanya yang luka ringan. Bisa-bisa aku digorok sama Mommy kalau dia tahu kau pulang dengan kondisi seperti dan aku diam saja. Ayo cepat.” Jessica lantas menghubungi anak buahnya dan keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Mereka tidak mungkin pergi menggunakan motor dalam kondisi seperti ini.
Padahal, sebenarnya luka yang dialami Becca memang hanyalah luka ringan. Hanya saja, kemarahan yang dia luapkan sewaktu di kamar mandi tadi tidak sengaja melukai dirinya sendiri tepat di dekat kulit yang melepuh akibat tindakan wanita asing tadi. Ya, Becca masih belum bisa mengontrol emosinya sendiri saat ini.
Mereka pun memeriksakan kondisi Becca dengan lancar. Hingga ketika Becca menunggu di ruang tunggu saat Jessica pergi menebus obat, pandangan matanya kembali disuguhkan dengan pemandangan di mana sosok yang paling dibenci, kini tengah bergelayut manja di lengan orang yang sangat di kenalnya.
“Robert, semudah itukah kau menggantikan posisiku dengannya dan melupakan aku?” batin Becca dengan tangan yang terkepal kuat, dan pandangan yang tidak beralih sedikit pun dari sepasang pria dan wanita yang berjalan tidak jauh dari posisinya.