Hot Mother Pijat ++

Hot Mother Pijat ++
Bab 25


Motor pun mulai berbaur dengan kendaraan lainnya saat memasuki jalan raya, beruntungnya jalanan tidak terlalu ramai hingga Jessica mengendarai dengan lancar sampai ke tempat tujuan.


Sesampainya di area parkir, mereka turun dan langsung masuk ke dalam pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut. Langkah kaki mereka melihat-lihat keramaian para pengunjung lainnya.


Terbiasa berbelanja di brand-brand ternama, membuat Jessica tanpa ragu membawa Becca ikut serta melihat koleksi terbaru di toko-toko langganannya. Padahal niat awal hanya ingin membeli perlengkapan bayi, tetapi tampaknya perlengkapan sang ibu bahkan melebihi kapasitas belanja wanita pada umumnya.


Jessica cukup memilih barang yang dia mau, setelah itu barang tersebut akan di antarkan ke rumah ketika sudah siap, sehingga mereka pun tidak perlu menenteng begitu banyak barang.


Tidak lama kemudian, tibalah keduanya di sebuah tokoh perlengkapan bayi, mereka masuk dan mendapatkan sambutan ramah dari pelayan toko tersebut.


Jessica pun langsung memilih-milih keperluan calon anaknya, sedangkan Becca hanya melihat-lihat terlebih dahulu.


"Ih, lucu banget! Kakak Ipar, lihat deh, lucu banget kayanya kalau nanti anakku pakai baju ini atau yang ini? Aaaurrggh!" Jessica memperlihatkan satu kostum gorila pada Becca dan kostum macan seraya memperagakan ciri khas dari binatang tersebut.


Sontak saja Becca tertawa melihat pilihan adik iparnya yang sedikit berbeda dalam selera, tanpa menyakiti hati dari Jessica dia pun langsung mendekat untuk melihat kostum lainnya.


"Ini juga bagus, atau ini aja, lebah?" Becca mengambil baju costum hewan lebah kepada adik iparnya.


"Oke deh, kalau begitu aku ambil semuanya saja," ujar Jessica mengambil dari tangan Becca. Dia lantas melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan. “Tolong bungkus semua yang ada di sini. Aku malas memilih satu per satu. Lebih baik membeli seisi toko kalian sekalian saja.” ucap Jessica tanpa ragu.


Sontak Becca ternganga hingga menjatuhkan rahangnya. Ingin sekali Becca muntah darah saat ini juga. “Jessica, bukankah itu terlalu berlebihan? Keperluan untuk melahirkan tidak akan sebanyak itu,” bisik Becca perlahan di telinga Jessica.


“Tenang saja, Kakak Ipar. Lagi pula, bukan aku juga yang rugi,” balas Jessica berbisik pula. Dia lantas meminta tas kecil milik Becca dan mengambil sebuah kartu di dalamnya. “Aku hanya ingin membantumu mengurangi isi di dalamnya. Kau tahu, Joe akan sangat marah ketika dia tahu tiap bulan kartumu hanya kau gunakan untuk membayar tagihan biaya admin? Jadi, sebelum dia memarahimu besok. Aku akan membatumu hari ini.”


Tanpa tahu malu, Jessica menyerahkan kartu hitam yang diberikan Joe kepada Becca, ke pelayan toko. “Bayar pakai ini ya.”


Melihat kelakuan absurd Jessica yang tidak mau rugi, tentu saja Becca hanya bisa mengumpat dalam hati. Kenapa Jessica keturunan keluarga Light tidak ada yang normal, pikirnya.


Tidak berapa lama kemudian, kartu pun dikembalikan oleh sang pelayan toko dan mereka kembali melanjutkan acara berbelanja. Jangan tanya siapa yang lemas saat ini, tentu saja Becca, sedangkan si ibu hamil tampak masih belum puas menyerjai kakak iparnya tersebut.


"Kakak Ipar, kita makan dulu yuk, aku lapar!" ujar Jessica berdiri melihat-lihat beberapa gerai makanan yang tersedia di sana. "Makan apa ya enaknya? Hhmmm, makan di sana saja. Yuk!"


Jessica menunjuk tempat restoran mewah yang tidak terlalu ramai, lalu menarik tangan kakak iparnya untuk bergegas mengikuti langkah kakinya menuju restoran dengan tidak sabar.


Baik Jessica maupun Becca memilih untuk diam sejenak dan menyaksikan tontonan gratis tersebut. Sebelum bertindak setidaknya Jessica harus memastikan jika situasinya benar-benar membutuhkan campur tangannya.


Hingga ketika Jessica dan Becca melihat wanita tersebut hendak menyiramkan minuman panas ke tubuh pelayan itu dengan segera Becca pun menahan tangan wanita tersebut. “Apa yang Anda lakukan, Nona? Bukankah ini keterlaluan?” ucap Becca sontak saling berhadapan dengan perempuan yang sebelumnya memunggunginya tersebut.


Namun, dia seketika membeku menatap wajah yang sangat dikenalnya dan tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup itu. Tangan Becca bergetar, seiring dengan cengkeramannya yang sangat kuat dan tanpa sadar dia berbalik menumpahkan minuman tersebut pada wanita itu, sedangkan Jessica membantu sang pelayan untuk berdiri.


“Apa yang kalian lakukan, hah?” teriak wanita itu kesakitan. Air kopi yang awalnya ingin dia siramkan pada pelayan yang mengotori pakaiannya kini berbalik pada dirinya sendiri akibat ulah wanita yang tidak di kenalnya itu.


Sementara itu, Becca tampak terdiam dengan tubuh menegang penuh dengan bara dendam. Matanya berubah menjadi merah nyalang, sedangkan ekspresinya tidak lagi bersahabat. Jessica yang melihat perubahan dalam diri kakak iparnya tersebut tentu saja tidak bisa diam ketika melihat wanita itu hampir saja menampar Becca.


“Kau yang apa-apaan, Nona! Apa kau bukan manusia, hah? Kenapa memperlakukan orang lain seperti itu?” ucap Jessica tegas.


“Orang lain? Kalianlah yang orang lain! Kenapa tiba-tiba datang dan ikut campur dengan urusanku, hah? Kalian tidak tahu apa yang dia lakukan hingga membuatku kesal. Lagi pula dia hanya seorang pelayan rendahan. Tidak pantas di hargai karena selamanya hanya akan menjadi budak yang memang fungsinya untuk diinjak-injak,” teriak wanita itu.


Sebuah tamparan sontak melayang dengan kecepatan tinggi. Becca tanpa menahan diri mengayunkan tangan dan mendarat tajam di pipi bagian kiri wanita tersebut. Dia sangat tidak tahan mendengar kalimat menyakitkan yang tidak pernah berubah sejak dulu itu. Lima tahun lamanya Becca memendam bara, sepertinya dia harus mulai bersiap meluapkannya sejak hari itu juga.


“Jaga ucapanmu,” ucap Becca dingin. Tidak ada lagi ketakutan seperti dulu, lagi pula apa yang harus dia pertahankan kini sudah berada di sisinya. Mungkinkah Tuhan ingin agar dia segera melakukan pembalasan.


“Kau! Beraninya kau!” Wanita itu hendak membalas, tetapi beberapa staf restoran tampak berlarian untuk memisahkan pertengkeran itu.


Namun, tampaknya kini keadaan berbalik karena mereka aseperti berada di kubu Becca.


“Bawa dia keluar dari tempat ini! Dan blacklist dia dari daftar pelanggan. Manusia seperti dia tidak pantas menginjakkan kaki di sini meskipun hanya sejengkal!“ perintah Jessica tegas.


“Baik, Nyonya,” ujar manager di restoran tersebut.


“Hei! Siapa dirimu, hah? Berani-beraninya kau bertingkah seperti itu. Apa kau tidak tahu siapa aku?” Teriak Wanita tersebut ketika beberapa staf keamanan menyeretnye keluar dari ruangan.


Siapa Jessica? Tentu saja hampir seluruh pekerja di pusat perbelanjaan itu tahu siapa Jessica. Hanya saja penampilannya yang biasa dan tidak terlalu glamour bak para konglomerat lainnya, membuat wanita tersebut sering di pandang sebelah mata oleh mereka yang tidak mengenal siapa dirinya. Apa yang keluarganya ucapkan bak sebuah aturan yang patut untuk di patuhi, jika tidak, jangankan untuk beroperasi, restoran itu bisa saja bangkrut hanya dalam hitungan detik jika berani menyinggung keluarga Light dan Bannerick.


Jessica yang melihat Becca masih termangu di posisinya lantas menyentuh pundak wanita tersebut guna menyadarkannya. “Kakak Ipar, kau baik-baik saja?”