Hot Mother Pijat ++

Hot Mother Pijat ++
Bab 22


“Tidak.” Sebuah tangan pria sontak mengambil alih tangan Luna dari cengkeraman Cedrick. Pria itu tersenyum dengan begitu manis kepada sang wanita, tanpa memedulikan bagaimana reaksi Cedrick. “Apa kalian sudah selesai bicara? Kami masih harus berkencan malam ini.”


Tanpa basa-basi, Rey membawa Luna keluar dari kafe dengan terus menggandeng tangan Luna. Sebelumnya memang Luna berangkat menemui Cedrick sendirian, tetapi tidak sengaja Rey yang sedang berkumpul bersama teman-temannya melihat pertemuan itu, dan Rey menyadari jika Luna merasa sangat tidak nyaman berlama-lama di sana. Hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk ikut campur dalam pertemuan yang terlihat canggung itu.


Rey membuka pintu mobil sebelah kemudi, dan membawa Luna pergi, sedangkan Cedrick hanya bisa melihat di balik kaca kafe bagaimana perlakuan manis pria lain terhadap mantan istrinya tersebut.


Luna hanya berdiam diri dan tidak mengucapkan sepatah kata pun, walau pun hanya sekedar untuk berterima kasih. Mobil bergerak membelah jalanan malam itu. Deru mesinnya terdengar cukup bising, sebab Rey tengah menggunakan mobil sport saat ini. Hingga tidak lama kemudian, pria itu berhenti di depan sebuah mini market dua puluh empat jam. “Kau tunggu di sini sebentar!” katanya.


Luna masih bergeming, sedangkan Rey pergi keluar membeli sesuatu, dan beberapa saat kemudian, pria itu datang sambil membawa dua cone es cream. “Nah, makanlah. Setidaknya kau perlu mendinginkan pikiranmu sebelum pulang.” ucap Rey mengulurkan salah satu es krim kepada Luna.


Perlahan tangan Luna meraih benda tersebut, tetapi bukannya tersenyum. Buliran hangat yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya kini pecah sudah. Luna menangis sejadi-jadinya di samping Rey, pria itu tampak langsung panik dan bingung harus berbuat apa, sedangkan Luna masih meluapkan perasaan aneh di hatinya.


Sekian tahun Luna sebenarnya memendam rasa tidak berdaya. Rasa cinta yang begitu besar kepada Cedrick harus kandas tanpa di duga. Suatu pagi kala itu, saat di mana dia membuka mata, sebuah surat perceraian yang menyatakan keduanya bukan lagi suami istri sudah menyapa harinya. Tanpa pembicaraan, tanpa pemberitahuan, tanpa persidangan, dan tidak ada juga penjelasan atas hal itu. Mereka langsung mengusir Luna tanpa ampun saat itu, serta memperkenalkan istri baru Cedrick yang tengah mengandung kala itu.


Bak langit dan bumi. Mereka memperlakukan Flower dan Luna dengan cara yang berbanding terbalik. Pantaskah hubungan seperti itu di perbaiki.


Akan tetapi, ketika mendengar kata pulang dari mulut Rey. Memangnya ke mana Luna bisa pulang, selain ke pangkuan Illahi? Masih adakah tempat baginya untuk bersandar.


Luka lama yang tidak kunjung kering kembali terbuka, perasaan tidak terima sekaligus kecewa kembali menghampirinya setelah sekian tahun. Rasanya semua usaha untuk bangkit dan tetap tegar musnah begitu saja. Hatinya masih sama, menyimpan rasa cinta pada sang mantan suami. Akan tetapi, pantaskah masa lalu seperti itu di ulangi? Tidak. Luna tidak akan mengulanginya.


“Maaf.” Setelah asyik bergelut dengan pikirannya sendiri, Luna mulai berbicara.


Rey memberikan tisu kepada Luna untuk mengusap air mata dan juga ingus yang tampaknya sudah berkumpul menyumbat hidung wanita itu.


“Tidak apa-apa. Kau bebas menangis di sini. Aku akan berpura-pura tidak melihatnya,” kata Rey lalu membuang wajah. Dia menyadari Luna saat ini sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja.


Namun, tentu saja Luna tidak ingin melanjutkan kesedihannya. Apa yang perlu di perbaiki, sekarang dia sudah memiliki kehidupan yang lebih baik meskipun tanpa Cedrick. Jadi, tidak perlulah bagi Luna untuk bersandar pada pria yang bahkan tidak berani menyuarakan keinginannya sendiri. Sudah bisa ditebak hubungan itu akan kembali seperti apa.


“Bisakah kau mengantarku pulang? Aku tidak enak pada keluarga Joe jika pulang malam-malam.”


“Baiklah. Aku akan mengantarmu. Tenang saja, mereka tidak akan membunuhmu hanya karena kau pulang terlambat.” ucap Rey. Pria itu lantas menyalakan mesin dan mulai bergerak menuju kediaman Light.


“Mereka adalah keluarga malaikat penghuni neraka. Baik dan jahat secara bersamaan, tergantung bagaimana kau menyikapinya. Lagi pula, sudah sejak dulu ibuku bekerja untuk keluarga itu. Tapi mereka malah menganggap kami sebagai keluarga.”


“Benarkah? Kalau begitu aku bisa tenang dengan kehidupan Becca dan Ace.”


“Kau tidak perlu lagi merisaukan mereka. Kenapa kau selalu mengkhawatirkan kehidupan orang lain? Bagaimana dengan hidupmu sendiri?”


Luna tidak menjawab. Hanya ada kebisuan yang tercipta di sepanjang perjalanan. Hingga tidak lama kemudian, tibalah mereka di sebuah pelataran. Di mana Becca dan Joe tampak berdiri di luar rumah.


Perlahan Luna keluar dari mobil, Becca langsung berhambur memeluk wanita tersebut tanpa ragu. "Kakak kau dari mana saja? Aku mengkhawatirkanmu sejak tadi."


Tentu saja Becca sangat khawatir, Luna tidak berpamitan sebelum pergi dan belum juga kembali padahal hari sudah hampir larut malam.


"Aku menemui Cedrick." Kata Luna lirih.


"Lagi? Hei! Apa kau bodoh sekarang?" Bentak Becca.


"Sudahlah aku lelah." Luna berbalik dan sedikit membungkukkan tubuhnya pada Rey. "Terima kasih sudah mengantarku malam ini."


Tanpa menunggu jawaban Rey, Luna langsung melangkah menuju kamar tamu miliknya dengan wajah lesu.


Becca tentu saja paham bagaimana perasaan Luna. Meskipun usianya tampak lebih muda. Akan tetapi, apa yang dialami Luna kurang lebih dia juga sudah melaluinya. Hanya saja mungkin dengan jalan yang berbeda.


Setelah puas semalaman mengkhawatirkan Luna, Becca dan Joe kembali ke kamar mereka. Hal yang belum biasa bagi sepasang pengantin baru tersebut.


"Apa kau masih merasa khawatir? Bisakah kau melakukan tugasmu sekarang?" tanya Joe.


"Tugas? Tugas apa?"