
Bab 21
Flower yang kesal karena di marahi habis-habisan oleh suaminya lantas pergi ke rumah orang tuanya. Dia melemparkan tas ke sembarang arah ketika tiba di ruang keluarga di mana sang ibu tengah menonton televisi di sana.
“Kau kenapa?” tanya Rosa-ibu dari Flower yang saat itu menonton televisi.
“Aku kesal, Mom. Wanita sialan itu ternyata memiliki umur yang lebih panjang. Aku heran bagaimana dia bisa lolos dari kebaran itu.” ucap Flower.
Rosa menghela napas panjang. “Lagian kenapa juga kau harus membunuhnya. Bukankah Cedrick sudah menjadi suamimu saat ini. Kenapa masih suka menyusahkan diri sendiri dengan hal seperti itu?”
“Cedrick memang suamiku sekarang. Tapi, aku tidak memiliki hatinya. Bisa aku lihat dengan jelas kalau dia masih memikirkan wanita sialan itu, padahal kalau di lihat-lihat, apa hebatnya dia. Aku juga lebih cantik darinya,” keluh Flower.
“Masih beruntung kau bersaing dengan orang yang masih hidup. Aku bahkan harus bersaing dengan arwah gentayangan yang terus saja menghantuinya.” Salah seorang wanita yang baru saja tiba ikut serta berkumpul dengan Rosa dan Flower, dia adalah Valencia, adik Flower yang hanya memiliki selisih umur dua tahun saja.
“Apa dia masih belum move on dari mendiang istrinya?” tanya Rosa pada sang putri.
“Apanya yang move on, Mom? Dia bahkan selalu saja menyebut namanya ketika bercinta denganku,” ucap Valencia santai.
“Dan kau tidak keberatan dengan hal itu? Ah, aku lupa. Kalian bahkan menjalani hubungan tanpa status,” ucap Flower sedikit menyindir adiknya.
Namun, tampaknya Valen tidak keberatan dengan sindiran kakaknya tersebut. “Aku tidak butuh status. Kau sendiri tahu bagaimana sensasi pria yang berumah tangga. Mereka lebih menggoda di bandingkan dengan para single di luar sana. Lagi pula hubungan seperti ini juga tidak merugikan bagiku. Selain aku tidak perlu terbebani dengan tuntutan anak, aku juga bisa bergonta ganti pria kapan pun aku mau.” ucap Valencia bangga.
“Jangan terlalu menganggap enteng sikap Robert. Bagaimana kalau suatu saat dia benar-benar menemukan pengganti istrinya dan itu bukan dirimu?”
"Maka aku akan menyingkirkannya lagi. Dan dia selamanya hanya bisa terjebak dengan diriku." Jawab Valencia bangga.
Rosa hanya menggeleng kecil melihat tingkah kedua putrinya. "Kenapa di keluarga ini tidak ada satu pun yang normal. Hah, alangkah menyenangkannya jika bisa hidup normal," kata Rosa lantas beranjak dari kursinya.
"Kami seperti ini juga karena genetik dari dirimu, Mom," ucap kedua saudara itu bersamaan, membuat Rosa tertawa kecil.
"Suami orang memang menantang," kata Rose meninggalkan kedua putrinya di ruang keluarga.
Sementara itu, Flower dan Valencia yang di tinggal di ruang keluarga mulai sibuk dengan ponsel masing-masing. Sebagai seorang model, Valen sangat memerhatikan penampilannya di bandingkan dengan Flower. Dia suka mengunggah foto di sosial media agar mendapatkan banyak penggemar juga komentar pujian.
Valencia bahkan bisa senyum-senyum sendiri membaca komentar baik yang mengatakan dirinya cantik. Apalagi jika ada yang menganggap dirinya definisi Dewi Yunani masa kini. Sontak rasa bangga akan dirinya sendiri akan meningkat sepuluh kali lipat.
"Apa kau sudah menemui Kak Brandon?" tanya Flower memecah keheningan kala itu.
Valencia menggeleng kecil. "Dia sulit sekali untuk bisa di hubungi sama sekali beberapa tahun ini, apalagi menemuinya. Entahlah, mungkin dia masih sibuk mencari kekasih masa kecilnya itu."
"Bagaimana dengan misimu?" tanya Flower lagi.
Flower membenarkan perkataan adiknya itu. Kakak mereka memanglah orang yang paling mengerikan dalam keluarga ini, dan dapat bertindak apa pun sesuai keinginannya. Dia adalah satu-satunya keturunan pria dalam keluarga. Tidak ada siapa pun yang bisa mengaturnya, kecuali dirinya sendiri. Dia bertindak bebas, tapi tetap menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seberapa pun mereka menginginkannya.
Di sisi lain, Cedrik yang sedikit merasa frustasi mengajak Luna untuk bertemu. Dia bertengkar hebat dengan Flower, lantas pergi dari rumah.
Cukup lama pria itu menunggu di sebuah kafe. Tempat di mana dulu dia dan Luna sering menghabiskan waktu bersama. Pandangannya mengedar ke segala arah. Tidak ada yang berubah dari tempat ini, hanya dirinya yang berubah. Tidak ada lagi senyum manis wanita yang di cinta sambil duduk di seberangnya.
Mengingat semua hal itu, Cedrik hanya bisa menghela napas panjang. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah hampir satu jam lamanya dia menunggu. Akan tetapi, Luna tampak tidak terlihat sama sekali. Mungkinkah wanita tersebut sudah enggan menemuinya saat ini.
Cedrick hanya bisa menunduk lesu. Memang benar kata orang, penyesalan selalu datang di bagian terakhir. Tatapannya mulai pasrah menatap lantai. Namun, tak lama kemudian, sepasang kaki dengan sepatu cats khas sang mantan istri tampak berhenti tepat di depannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Luna tanpa basa basi.
Senyum lebar sontak melengkung indah di wajah Cedrik. Dia tidak menyangka Luna akan menerima undangannya. Dia lantas berdiri dari posisinya dan memersilakan Luna untuk duduk di hadapannya. “Duduklah, aku sudah memesan latte. Minuman favoritemu,” katanya.
“Aku sudah tidak minum kopi. Tidak usah terlalu banyak basa-basi, kenapa kau mengajakku bertemu?” tanya Luna.
Senyum di wajah Cedrick lenyap seketika itu juga, Luna tidak lagi sama seperti dulu. Bukan hanya kalimat dan wajah dingin yang kini dia tunjukkan kepada Cedrick, tapi juga ketidakpedulian yang tampak sangat jelas. “Benar, terlalu banyak minum kopi tidak baik untuk kesehatan wanita,” gumam Cedrick.
“Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu atas apa yang sudah Flower lakukan. Aku juga tidak menyangka dia bisa berbuat senekat itu padamu.”
“Tidak perlu meminta maaf. Setidaknya dia memiliki keberanian untuk meraih apa yang dia inginkan.” kata Luna dingin.
“aku juga ingin meminta maaf karena datang ke tempatmu sebelumnya. Padahal kita sudah sepakat jika rumah itu sebagai kompensasi perceraian kita, tapi aku malah mengingkarinya karena Mama.”
Luna langsung bercedih mendengar Cedrick menyebut kata mama dalam kalimatnya. Bisa di tebak, meskipun sudah sekian tahun berlalu, wanita itu masih saja suka mengatur kehidupan putranya sendiri.
“Maaf juga karena dulu Mama selalu menuntutmu perihal keturunan. Aku ....”
“Tidak perlu meminta maaf.” Luna menyela apa yang ingin di katakan Cedrick. “Aku yang seharusnya meminta maaf. Mengenalku membuatmu menunda kebahagiaan memiliki momongan. Seharusnya kau bisa lebih awal memiliki anak dan bertemu dengan wanita cantik lainnya. Tapi kau malah terjebak dalam pernikahan kosong selama sekian tahun denganku. Hanya membuang-buang waktumu saja.”
“Tidak. Aku bahagia memiliki pernikahan denganmu.” Cedrick menatap Luna dengan seksama. Tangannya bergerak ke depan hendak meraih tangan Luna. Namun, dengan segera wanita itu menghindarinya.
“Sepertinya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Aku sudah memaafkan yang terjadi sebelumnya. Aku harap kau pun begitu. Sebaiknya kita tidak pernah lagi bertemu seperti ini. Aku tidak ingin di anggap sebagai pelakor jika menemui suami orang tanpa istrinya seperti ini.” Luna beranjak dari posisinya setelah mengatakan hal itu dan hendak melangkah pergi, tetapi geraknya terhenti karena Cedrick menahan pergelangan tangannya.
“Luna, apa sudah tidak ada lagi kesempatan untuk aku memperbaiki hubungan kita?”
Hai teman-teman. mampir ke novelnya temen Rissa yuk.