
“Tugas? Tugas apa?” tanya Becca sedikit bingung.
“Apa lagi? Tugas utama seorang istri.” Tanpa aba-aba Joe berlalu begitu saja, dia langsung melepaskan pakaian yang dikenakan dan membuangnya ke segala arah. Seolah tidak memiliki urat malu lagi, Joe yang kini tanpa sehelai benang pun terlentang di atas ranjang dengan percaya diri, sedangkan Becca masih berdiam diri dengan posisi memunggunginya. “Apa yang kau lakukan di sana? Bukankah sudah aku katakan, aku menikahimu karena butuh bantuanmu untuk menyembuhkan ku dengan terapi pijat plusmu?”
“Ah, iya.” Sontak Becca berbalik badan. Namun, pandangannya seketika dikejutkan dengan penampakan lele berkumis yang melekat di tubuh Joe, seolah melambai padanya saat itu juga. “Astaga kenapa kau sudah siap sekali? Tidak bisakah kau mengenakan pakaianmu lagi?” protes Becca sambil menutupi wajah dengan tangan, tetapi masih bisa melihat pemandangan itu dari sela jemarinya.
“Tidak. Aku ingin full service. Lagi pula apa yang membuatmu malu. Aku ini suami sahmu. Cepat atau lambat, kau pun akan memperlihatkan dirimu padaku. Lagi pula aku yakin, selama ini kau sudah melihat berbagai bentuk kejantanan pria lain di luaran saja yang menjadi pelangganmu.” Joe lantas mengubah posisi menjadi miring dan menekuk tangan guna menopang kepalanya. “Asal kau tahu saja. Walaupun Johny gagal berdiri, tapi aku tetap ahli dalam memuaskan wanita. Apa kau mau mencobanya?” tanya Joe sambil memainkan jemarinya dengan genit.
“Dasar sinting. Tunggu di sini sebentar kalau begitu.” Tidak ingin terlalu ambil pusing dengan sikap Joe. Becca menggeleng kecil dan memilih mengambil beberapa perlengkapan yang dia perlukan untuk memijat Joe.
Layaknya memberikan layanan di tempat kerja, Becca menyalakan lilin aroma terapi terlebih dahulu dan meletakkannya di atas meja kecil yang tersedia di kamar itu agar aromanya menyebar ke segala arah. Baru setelah itu Becca naik ke atas ranjang tepat di samping Joe.
“Kau tidak ingin berganti pakaian terlebih dahulu? Padahal aku sudah menyiapkan seragam yang lebih aduhai dari pada milikmu sebelumnya.” protes Joe melihat di mana Becca masih mengenakan piama tidur yang panjang seperti sebelumnya.
“Tidak. Lagi pula aku bekerja menggunakan kedua tanganku, bukan tubuhku. Tengkurap! Aku akan memijat kepalamu terlebih dahulu, supaya kau cepat waras,” ucap Becca ketus.
“Kenapa tidak langsung menggarap Si Johny saja?”
“Tadi kau sendiri yang bilang ingin full service. Sebaiknya jangan banyak bertanya dan nikmati saja, Tuan Jonathan yang terhomat!”
“Dasar perempuan dingin,” gumam Joe. Dia terpaksa menuruti apa yang diperintahkan Becca.
Becca tetap fokus memijat satu per satu bagian tubuh Joe. Benarkah pria dengan badan segagah ini memiliki gangguan fungsi kejantanan, atau itu hanyalah sebuah alasan. Mungkin Becca harus mengujinya terlebih dahulu, mana tahu Joe hanya berbual tentang hal itu.
Perlahan Becca melepaskan bagian atas pakaiannya, dengan sengaja dia melakukan ini untuk menguji sampai di mana tingkat keparahan si Johny. “Berbalik!” Dia lantas memerintahkan Joe untuk mengubah posisi.
Jonathan sontak terkejut, di sajikan dengan dua gundukan berukuran sedang yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Keduanya hanya tertutup oleh kain kaca mata berenda biru yang menopang agar tidak langsung jatuh ke bawah.
Dengan ekspresi dingin, Becca jelas melihat kekaguman di mata Joe. Namun, ketika pandangan wanita tersebut beralih ke bawah, tampaknya Si Johny benar-benar memiliki masalah dalam tahap yang serius. Benda itu terlihat berkedut beberapa kali. Akan tetapi, belum memperlihatkan tanda-tanda kehidupannya. Hal itu menyebabkan Becca menggeleng kecil, meratapi nasib seorang Jonathan yang ternyata memiliki kelemahan separah itu.
“Kenapa si Johny seloyo itu?” tanya Becca melihat Joe yang tampak tidak berkedip. Dia pun terdengar berdecak beberapa kali. “Stadium akhir. Sepertinya kau harus menyerah dan mengubahnya menjadi Nyonya V saja.” sindir Becca.
“Sembarangan kalau bicara. Dia pernah menjalankan tugasnya satu kali. Makanya aku mintamu untuk membantuku menyembuhkannya,” protes Joe sambil menutup Johny yang di permainkan oleh tangan usil Becca.
“Kalau memang dia pernah bekerja? Kenapa kau tidak melakukan hal yang saat itu kau lakukan pada orang yang sama? Mana tahu dia memberikan reaksi lagi. Dengan perempuan mana kau bermain? Biar aku yang mencarinya untukmu.”
Jonathan terdiam, mustahil baginya untuk mengakui jika dirinya telah memperkaos wanita yang tidak lain merupakan Becca sendiri. Selain berisiko Becca akan murka, tetapi juga Joe belum siap jika kelak Becca malah melarikan diri darinya. Setidaknya nanti, jika wanita tersebut sudah benar-benar bergantung padanya, barulah dia akan mengakui dosa apa yang sudah Joe perbuat selama ini.
“Aku tidak ingat.” jawab Joe singkat. Dia pun memilih mengalihkan pembicaraan, beruntung Becca tampaknya tidak mengingat atau mengetahui kejadian malam itu. “Bisakah kau membantuku memotong rambut di bagian itu? Mereka sudah mulai tumbuh, dan itu sangat menggelikan. Aku tidak sempat memangkasnya tadi.”
“Apa?”