Hot Mother Pijat ++

Hot Mother Pijat ++
Bab 24


Becca terlihat sangat cantik, saat dia melihat di pantulan cermin pada dirinya sendiri usai memoles sedikit wajahnya. Entah harus bersyukur atau tidak, tetapi keluarga Jonathan sangat hangat kepadanya, bahkan sekedar pakaian dalam pun mereka persiapkan dengan sangat baik, meskipun terkadang dia sendiri masih merasa canggung.


“Dari upik abu, entah mengapa aku merasa menjadi Cinderella saat ini. Pakaian yang mereka berikan terlalu mahal. Bagaimana bisa aku sanggup memakai barang-barang berharga ini,” ucap Becca bermonolog sambil melihat beberapa pakaian yang tersedia di depannya.


Hari ini Becca akan menemani adik iparnya berbelanja. Padahal usia kehamilan Jessica belum begitu besar, tetapi wanita tersebut terus saja merengek meminta Becca ikut bersamanya. Menjadi istri seorang Jonathan membuatnya menjadi pengangguran, sehingga dia pun tidak mampu menolak permintaan Jessica. Lagian hanya sekedar berbelanja, apa salahnya mencobanya sekali-kali. Lagipula, Ace juga sudah mulai masuk sekolah seperti biasanya karena home schooling membuat bocah itu merasa bosan. Hanya saja anak itu akhirnya di pindahkan ke sekolahan dengan kualitas yang lebih tinggi, sesuai dengan saran dari keluarga Light yang lain.


Ya, meskipun Rebecca berpenampilan sangat sederhana tidak terlalu mencolok. Akan tetapi, aura pesonanya tetap terpancar, apalagi dengan polesan make up natural menambah kesan manisnya pada wajah wanita yang menjadi ibu satu anak tersebut.


"Ya ampun, Kakak Ipar.. ternyata kau cantik juga ya!" Ucap Jessica tiba-tiba saja sudah bersandar di ambang pintu.


“Astaga! Sejak kapan kau berdiri di sana?” tanya Becca memegang dadanya yang berdegup kencang.


“Sejak kau memilih pakaian dalam tentunya,” goda Jessica langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan.


“Cih, dasar penipu ulung. Kalian saudara kembar sama saja,” gumam Becca berdecih dan kembali mencoba menempelkan beberapa pakaian di tubuhnya.


“Kau masih bingung mau pakai apa, Kakak Ipar?” tanya Jessica melihat Becca yang masih hanya mengenakan bathrobe.


Hanya anggukan kepala yang bisa Becca berikan sebagai jawaban. “Mereka terlalu mahal di tubuhku.”


“Lebih tepatnya pakaian ini terlalu kuno. Selera Joe memang menyedihkan. Aku pikir dia akan memperlakukanmu layaknya para perempuan ulat itu, ternyata dia malah ingin kau terlihat seperti kepompong.” Jessica lantas mengambil satu pakaian yang menarik perhatiannya dan memberikan kepada Becca. “Cobalah, aku pikir seleramu seperti ini!”


Becca mengambil pakaian yang hanya berupa sebuah dress putih polos tersebut dan menelitinya beberapa kali, mungkin hanya ini pakaian paling sederhana yang tersedia di sini, sedangkan yang lainnya berbahan terlalu tebal, padahal cuaca saat ini sedang panas-panasnya. “Baiklah tunggu sebentar!”


Becca lantas mengganti pakaiannya. Sejenak wanita tersebut tampak terkagum-kagum akan penampilannya sendiri saat ini. “Meskipun terlihat seperti kain mori Mbak Kun, tapi tidak masalah. Setidaknya aku lebih cantik karena rambutku sudah tertata rapi,” gumam Becca yang memuji dirinya sendiri saat melihat pantulan cermin. Dia terkekeh saat mengambil ponsel lantas kembali berkata, "Sudahlah, tidak ada salahnya bangga pada diri sendiri, lagi pula siapa yang akan memuji kalau bukan diri sendiri!"


Langkah kaki jenjang Becca melangkah keluar dari kamar. Ternyata Jessica sudah keluar terlebih dahulu, sehingga Becca hanya bisa segera turun dan menyusulnya.


“Kalian akan pergi?” tanya Jesslyn ketika berpapasan dengan menantunya tersebut.


“Iya, Mom,” jawab Becca singkat.


“Apa Joe sudah memberimu jatah untuk berbelanja?”


Hanya anggukan kecil sedikit takut yang Becca lakukan. Dia bingung harus menjawab apa pada mertuanya tersebut karena masih belum mengenal seperti apa sang ibu mertua.


“Kenapa semua orang di rumah ini aneh.”


"Lama banget sih Kak, udah kaya anak gadis aja!" teriak Jessica ketika melihat Becca sudah tiba di garasi. “Nah!”


Tanpa ragu Jessica menyerahkan sebuah helm hitam kepada kakak iparnya tersebut. Hal itu tentu saja menyebabkan Becca cukup tercengang karena mengira mereka akan pergi dengan menggunakan mobil. Namun, tampaknya Jessica benar-benar sudah siap dengan motor hitam kesayangannya itu.


“Kau yakin kita akan pakai motor?” tanya Becca memastikan.


“Tertu saja. Aku bosan terus-terusan memakai mobil. Mumpung suamiku dan Daddy tidak tahu.” Dengan santai bak sepasang kekasih pelangi, Jessica mengenakan helm itu ke kepala Becca. “Tenang saja, belanjaan kita nanti akan dibawa oleh supir. Hanya saja kita berangkat menggunakan Slamet dulu, karena anakku menginginkannya,” ucap Jessi membujuk lantas mengusap perutnya.


“Tapi, kau ‘kan sedang bunting-”


"Issh, bawel!" sahut Becca usai selesai memasang helm dan menarik sang kakak agar segera duduk di belakangnya. "Sudah, yuk!”


Yang namanya ibu-ibu hamil memang tidak bisa di ajak bernegosiasi. Bukan hanya sosok yang pemaksa, tetapi juga memiliki pendapat yang memang tidak dapat di ganggu gugat. Padahal jelas-jelas dia sendiri yang memilihkan pakaian Becca berupa dress, tetapi malah diajak naik motor. Tahu begitu, lebih baik Becca menggunakan celana panjang saja tadi.


"Ya ampun, wangi banget Kakak iparku ini, sudah seperti berendam di bak minyak wangi, berabad-abad!" celetuk Jessica tertawa saat mulai menjalankan vespa jadulnya dengan memutar gas cukup keras, sehingga Becca yang di belakang sontak melingkarkan tangan di perut Jessica akibat hampir saja terjengkang.


"Astaga, tidak bisakah kau lebih berhati-hati. Kasian nanti anak dalam kandunganmu. Lagian, masa sih wangi banget? Perasaan cuma satu semprotan aja! Apa kau tidak suka dengan aromanya?" Tanya Becca mengendus dirinya sendiri. Biasanya ibu hamil cukup sensitif dengan aroma tubuh orang lain, Becca tidak ingin Jessica mual-mual di jalan hanya karena mencium baunya nanti.


"Ya, tapi sekali semprot langsung habis kaya magic hose!" ucap Jessica yang membayangkan kakak iparnya menggunakan minyak wangi dengan selang magic hose yang biasa untuk pencucian mobil, sehingga sekali tekan air keluar dengan kencang.


Becca mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh adik iparnya, kemudian dia pun langsung ikut tertawa. "Kau membandingkan aku seperti mobil! Hhmm?"


Tangan Becca mencubit kecil pinggang Jessica dengan bercanda, hingga membuat adik iparnya itu tertawa seraya menghindar.


"Eh, iya ampun!" tawa Jessica semakin lepas. “Tapi aku kayak kenal aroma ini. Bukankah itu hampir mirip sama deodorant Joe? Kenapa wanginya tidak ada bedanya?”


Ingin sekali Becca bersembunyi di lubang semut untuk saat ini. Karena terlalu terburu-buru dan takut Jessica menunggu terlalu lama, dia asal menyemprotkan apa yang ada di meja ke tubuhnya, sehingga tanpa Becca sadari ternyata itu adalah deodoran spray sang suami. Tidak menyangka indra penciuman Jessica cukup tajam, sehingga secepat ini wanita tersebut mengenali aromanya.


____________


Hallo teman-teman. maaf ya kelanjutannya lama, Rissa baru mau mulai belajar nulis lagi. semoga tetap semangat dan egk berhenti di tengah jalan lagi.