
Keesokan harinya…
Kushina dan Minato yang baru terbangun, langsung terbelalak melihat Naruto sudah ada di meja dapur untuk menyiapkan sarapan. Kedua saling bertatapan, memastikan penglihatan mereka tidak salah.
‘’Na-Naruto?’’
Anak yang dipanggil tadi menoleh, dan langsung tersenyum. ‘’Ohayou gozaimasu. Sarapan pagi sudah hampir selesai aku buat, jadi Anda berdua bersihkan wajah dulu.’’
‘’Eh?’’ tatap Minato bingung.
‘’Naruto, apakah kau baik-baik saja?’’ tanya Kushina.
Naruto mengangguk sambil tersenyum menampilkan deretan giginya. ‘’Tentu saja. Kondisiku baik-baik saja dattebayo.’’
Kushina dan Minato hanya saling memandang. Keduanya hanya berjalan ke kamar mandi dengan wajah bingung.
Naruto yang tersenyum girang tadi, wajahnya langsung berubah menjadi sendu. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tidak lama kemudian, Kushina dan Minato datang bersamaan Naruto selesai memasak.
‘’Hai, douzo(Silahkan),’’ kata Naruto yang hendak memakan sarapannya.
Kushina dan Minato hanya diam dan mengangguk. Ketiganya pun mengatupkan kedua tangan. ‘’Itadakimasu!’’
‘’Um~ oishii ramen. Naruto, aku tidak tahu kalau kau pintar membuat ramen. Stok ramen di rumah ini habis, dan aku lupa membelinya, bagaimana kau melakukannya?’’ tanya Kushina.
Naruto tersenyum menampilkan deretan giginya. ‘’Ehe, itu karena aku jenius dattebayo. Syukurlah, kalau Anda menyukainya.’’
‘’Tapi, aku tidak menyangka kau akan memasak ramen untuk sarapan pagi,’’ kata Minato.
‘’Aku sudah terbiasa. Tempat tinggalku hanya sederhana. Jadi, untuk memastikan kebutuhanku, aku hanya memakan ramen terus. Pagi, siang, sore, malam, dan itu terus berulang,’’ kata Naruto.
‘’Heh~ kau menyukai ramen, ya?’’ tanya Kushina.
Naruto mengangguk mantap. ‘’Benar. Makanan kesukaanku adalah ramen. Jadi, tidak masalah aku makan ramen setiap hari.’’
‘’Ramen buatanmu enak, terima kasih,’’ senyum Minato.
‘’Tapi, tidak biasanya kau yang memasak makanan untuk sarapan pagi,’’ kata Kushina.
Naruto tersenyum. ‘’Hari ini adalah hari terakhir aku berada di Konoha. Jadi sebelum pergi, aku hanya ingin membalas budi, meskipun ini belum cukup.’’
Tangan Kushina dan Minato yang hendak memakan ramen terhenti. Keduanya saling melontarkan tatapan sendu.
Minato tersenyum sendu. ‘’Gomen ne Naruto.’’
Naruto menggeleng sambil tersenyum. ‘’Aku menganggap Anda sebagai ayahku, jadi perintah Anda adalah perintah bagiku. Sebagai anak, aku harus mematuhinya.’’
Mendengar ucapan Naruto, membuat Kushina dan Minato rasanya ingin menangis.
‘’Oh iya, aku memiliki permintaan sebelum pergi,’’ kata Naruto.
......................
Naruto berjalan menyusuri desa sambil menatap aktivitas di sekitar. Semua orang terlihat ramai seperti biasa.
‘’Naruto!’’ teriak seseorang membuat Naruto menoleh.
‘’Oh, kalian?’’ tatap Naruto.
‘’Tidak ada misi untuk hari ini, jadi kita bisa pergi ke perpustakaan,’’ kata Obito.
‘’Eh? Benarkah?’’ tanya Naruto girang.
Obito mengangguk sebelum mengerutkan dahi. ‘’Tapi, ini aneh. Kemarin, aku tidak sengaja bertemu Minato sensei.’’
‘’Obito, kau bertemu dengan Minato sensei?’’ tanya Rin.
‘’Ya, kami tidak sengaja bertemu, dan Minato sensei bilang kita akan mendapatkan misi besok. Lalu, saat menghadap di kantor Hokage tadi, Minato sensei membatalkan misi kita dan menyerahkannya kepada orang lain,’’ jawab Obito.
‘’Ahaha, begitu?’’ tanya Naruto dengan wajah kakunya.
‘’Tidak ada misi hari ini, ya? Hm, membosankan,’’ kata Kakashi.
‘’Oee Kakashi! Sekarang adalah waktu yang tepat untuk aku dan Rin meningkatkan kemampuan kami. Aku curiga, kau tidak ingin kami berdua segera menghampirimu dan Naruto, ya?’’ tanya Obito.
‘’Imajinasiku terlalu berlebihan,’’ kata Kakashi.
‘’Sudah, sudah. Kalian berdua ini, kalau bukan Obito dengan Naruto, maka Kakashi dengan Obito. Apakah kalian tidak lelah berdebat terus?’’ tegur Rin.
Kakakshi membuang wajah. ‘’Bukan aku yang mulai duluan.’’
‘’Ha?! Apakah kau bilang kalau aku yang mulai duluan?’’ tanya Obito.
Naruto dan Rin hanya memasang raut wajah bodoh mereka melihat kedua orang di hadapannya itu.