
Pagi hari saat bangun tidur, ku lihat mimik wajah mas Halim. Tampak biasa saja, ia bahkan bergegas untuk turun dan memanaskan mesin mobil. Saat sarapan juga masih ku amati wajah manis suami ku itu.
"Kenapa?" Tanya mas Halim yang mungkin merasa di perhatikan.
Aku menoleh ke arah pintu kamar ibu. Khawatir di dengar ibu.
"Soal?" Mas Halim meletakkan ponselnya dan menoleh ke arah ku.
"Soal semalam..." jawab ku lirih. Ada rasa menyesal pagi ini, kenapa tidak ku berikan apa yang menjadi keinginannnya. Tapi kaki, pinggang sudah terasa saki j...