Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Masalah di pelabuhan


Akhir pekan yang dinanti tiba. Lina dan Daniel tengah bersiap-siap disaat Ducan datang. Jam 13.10 mereka siap berangkat, tapi baru melangkah kaki mereka keluar dari pintu tiba-tiba Daniel mendapat telpon dari salah satu anak buahnya.


"Ada apa?" tanya Daniel.


"..."


"Apa?!" raut wajah Daniel seketika berubah sangat terkejut begitu mendapat kabar tersebut. "Aku akan segera kesana sekarang juga!"


"Ada masalah apa Daniel?" tanya Ducan.


"Terjadi masalah di pelabuhan. Aku harus kesana untuk membereskannya. Maaf kucing kecil, aku tidak bisa menemanimu hari. Tidak apakan kau pergi sendiri bersama ayahmu?"


"Tidak apa. Urus perkerjaanmu dengan baik. Jika mereka membutuhkan mu, sebagai pemimpin sudah seharusnya kau datang untuk membantu mereka."


"Jika urusannya cepat selesai, aku akan segera pulang," Daniel mengecup dahi Lina sekali. "Norman! Jony! Kalian berdua ikut aku."


"Baik, tuan muda."


Norman dan Jony bergegas keluar dari rumah mendengar perintah. Dengan menggunakan satu mobil, mereka berangkat menuju pelabuhan. Lina memandangi mobil hitam tersebut ketika mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah dan menaikan kecepatan begitu memasuki jalan raya.


"Sepertinya masalahnya cukup serius sampai Daniel harus mengajak dua orang dari anggota elitnya," kata Ducan.


"Mau seserius apapun masalahnya aku harap tidak akan terjadi sesuatu pada mereka," Lina berjalan menuju mobil ayahnya sambil menopang kandungannya yang semakin berat.


"Aku sudah melihat Daniel tumbuh sejak kecil, kau jangan khawatir kan dia. Daniel bukanlah pria lemah. Dia telah dilatih secara pribadi oleh Tn. Flors sendiri. Tidak ada orang yang bisa mengalahkannya begitu saja, walau dalam keadaan sendirian dan terpojok," Ducan membukan pintu mobil lalu membantu Lina masuk.


"Aku percaya itu."


Mobil mereka kini melaju meninggalkan halaman rumah Daniel.


Sementara itu kita beralih ke Daniel dulu. Jam 14.08 mobil mereka sampai di pelabuhan. Mobil tidak berhenti sama sekali, Norman yang mengemudi cuman melalui pelabuhan tersebut secara perlahan. Terlihat masih banyak oknum polisi disekitaran pelabuhan tersebut.


"Mereka semua telah berkumpul di gedung terbengkalai, tuan muda," kata Jony.


"Tancap gas ke titik kumpul Norman!"


"Siap, tuan muda."


15 menit kemudian mobil tepat berhenti di disebuah gedung terbengkalai yang ada di dalam hutan. Dua orang pria segera menyambut mereka di depan pintu. Di dalam gedung terbengkalai itu sudah ada lebih dari sepuluh orang berbaris rapi. Mereka semua ada bawahan Daniel yang bertugas menyelundupkan senjata ilegal dan narkotika di pelabuhan. Daniel duduk di sebuah kursi yang telah mereka sediakan dengan Norman dan Jony berdiri tegap di belakangnya.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Daniel dengan tekanan begitu kuat terpancar dari dirinya.


Sangking kuatnya membuat semua orang di depannya tidak berani menatap langsung Daniel. Mereka semua tertunduk ketakutan.


"Ronal, kau yang bertanggung jawab dan pemimpin dari kelompok kecil ini. Bisa jelaskan lebih mendetail apa yang yang telah terjadi?"


Dengan tubuh sedikit gemetar seorang pria yang bernama Ronal melangkah maju dari barisa.


"Semuanya terjadi secara tiba-tiba, tuan muda. Awalnya semuanya berjalan baik. Kami berhasil melalui pemeriksaan dengan sempurna dipelabuan sebelumnya. Dengan cara biasa kami menyelundupkan semua senjata dan narkotika itu di dalam container berbeda. Begitu kapal hendak merapat, tiba-tiba dari arah pelabuhan belasan spebot polisi melaju kencang menuju kapal. Saya yang menyadari hal itu segera menarik semua anggota saya mundur sebelum para polisi itu naik ke kapal. Kami berhasil lolos setelah sempat terjadi kejar-kejaran dan baku tembak dengan para polisi.


Dari kejauhan saya memperhatikan para polisi itu meminta pembukaan paksa container disinilah keanehannya yang saya rasakan, tuan muda. Bagaimana bisa para polisi itu menebak container mana yang berisi senjata selundupan dan narkotika? Padahal kami menempatkan container-container Tersebut secara acak dari puluhan container yang ada, tapi tujuh container pertama yang mereka periksa semuanya container yang berisi barang selundupan. Dan juga para polisi ini seperti tidak melakukan persiapan sama sekali. Mereka tidak melakukan penyelidikan sebelumnya, karna hal inilah yang membuat kami kalang kabut.


Beruntung hanya orang-orang yang saya pekerjakan diluar anggota Black Mamba saja yang tertangkap. Saya sudah memutus hubungan dengan orang-orang tersebut. Para polisi itu tidak akan bisa mendapatkan informasi apapun dari mereka," jelas Ronal


"Sepertinya ada seseorang yang telah membocorkan informasi barang akan datang hari ini tuan muda," bisik Jony.


"Tidak tuan muda. Masih ada 15 orang lagi selain mereka."


"Kumpulkan semuanya! Dan untuk yang ada disini jangan pergi kemana-mana. Saatnya menangkap tikus penghianat."


"Baik."


Setengah jam kemudian. Seluruh anggota yang dipimpin oleh Ronal telah berkumpul di gedung terbengkal itu. Kelompok yang baru datang menempati barisan berbeda. Rasa ketakutan menyelimuti mereka semua, apalagi melihat Norman dan Jony meneteng senjata laras panjang dan siap membidik.


"Kau mau maju sendiri? Atau tima panas yang menjemputmu?"


Senyap, tidak ada satupun yang berbicara bahkan bergerak sedikitpun. Dalam pikiran mereka bertanya-tanya, siapa 'kau' yang dimaksud Daniel? Jika itu orang yang memang tidak bersalah. Lain halnya dengan sang penghianat.


"Apa dia sudah tahu kalau aku yang telah membocorkan informasi itu? Tidak, tidak mungkin. Dia pasti hanya menggeretak agar aku mengantarkan nyawaku sendiri tanpa ia bersusah payah," pikirnya.


"Tidak mau maju. Norman, Jony," Daniel memberi isarat pada mereka berdua untuk menembak.


Dor! Dor!


Dua suara tembakan menggema di gedung terbengkalai itu. Tima panas telah menjemput dua orang diantara mereka ke alam baka. Semua begidik ngerih begitu dua teman mereka tersungkur ke lantai, tewas bersimbah darah.


"Tidak mungkin. Ba, bagaimana bisa dia tepat menembak mereka? Kami sudah menyamar lebih dari seminggu dan masih tidak ada yang mengetahuinya. Bagaimana bisa dia mengenali kami hanya sekali pandang? Tidak. Ini, ini terlalu mengerikan," karna ketakutan, tampa sadar ia mundur selangka dengan tubuh gemetar.


Dor! Dor!


Dua tembakan mendarat di masing-masing kaki pria itu yang membuatnya terlutut di lantai. Daniel berdiri dari kursinya lalu menghampiri pria tersebut.


"Katakan, siapa yang telang mengirimu?"


"Apa yang tuan muda katakan? Saya tidak mengerti maksud tuan muda," kata pria itu mencoba membantah sambil menahan rasa sakit.


"Eh... Tuan muda, apa anda tidak salah orang? Mohon maaf, dia merupakan salah satu orang terpercaya ku. Dia telah menjadi anggota ku selama bertahun-tahun. Aku bisa menjamin kalau dia tidak mungkin berkhianat," sela Ronal.


"Kau meragukan keputusanku?"


"Tidak, tidak berani tuan muda," Ronal seketika menunduk.


"Orang setia yang kau maksud telah mati, dan yang di depanku ini..." Daniel menarik lepas topeng silikon pria yang ada di depannya. "...merupakan orang lain."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε