
Death knell kembali menyerang dan kali ini ia menggunakan teknik meringankan tubuh agar tidak memicu jebakan yang ada. Julius menghindari serangan tersebut dengan mengandalkan batang pohon sebagai penopang untuknya agar bisa memanjat ke dahan yang lebih tinggi. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Julius untuk berada diketinggian tiga meter dari tanah. Tidak mau kalah, Death knell juga melakukan hal yang sama. Pertarungan diantara mereka kembali terjadi walau tidak menutup kemungkinan mereka kembali memicu jebakan karna ketidak tahuan letak jebakan tersebut. Ini semakin sulit bagi keduanya. Dimana mereka masih menyerang antara satu sama lain tapi dilain sisi mereka juga harus menghindari setiap jebakan yang bermacam-macam.
"Luar biasa. Ini baru pertunjukan yang menarik. Mereka berdua sungguh anak-anak berbakat," tepuk tangan pemilik rumah lelang itu berikan kepada tayangan yang memanjakan matanya.
Julius telah mendapatkan kembali belatinya namun itu ia gunakan untuk merusak beberapa jebakan. Setelah mengamati beberapa kali Julius mendapati kalau sejumlah jebakan tersembunyi di balik pohon atau semak belukar. Yang paling banyak adalah pelontar anak panah. Death knell sama sekali tidak mengetahui apa yang Julius lakukan. Ia beranggapan kalau sebenarnya Julius sedang mencoba menghindari serangannya saja.
"Kenapa aku merasa kalau setiap serangan yang ia lakukan padaku sengaja malah membantuku menghindari jebakan tersebut? Apa yang dipikirkan bocah menggemaskan ini?" pikir Death knell. Karna pertanyaan itu membuat ia tidak berniat lagi menyerang Julius dengan sungguh-sungguh.
"Hosh.... Hosh.... Disini kalian rupanya," kata Tn. Almero yang baru datang dengan nafas terengah-engah.
"Bodoh! Jangan mendekat! Disini banyak jebakan!" bentak Death knell memperingatkan.
Namun sudah terlambat, Tn. Almero tanpa sengaja menginjak perangkap yang mengaktifkan pelontar anak panah. Dengan kemampuan yang Tn. Almero miliki mana mungkin dia bisa menghindari serangan anak panah tersebut. Death knell lah yang malah harus dibuat kerepotan untuk membantu menangkis setiap anak panah yang meluncur ke arah Tn. Almero.
"Apa yang kau lakukan disini?! Aku pikir kau sudah kembali ke kapal. Dasar merepotkan!!" lagi-lagi Death knell membentang Tn. Almero seolah-olah dialah atasannya.
"Beraninya kau membentaku seperti itu! Aku ini bosmu tahu!" balas Tn. Almero membentak.
"Apa kau lupa dengan kesepakatan kita? Jika kau ingin aku melindungi mu maka kau harus mengikuti semua yang aku katakan. Sekarang terserah kau saja. Jika kau sangat menyayangi nyawamu itu sebaiknya kau kembali ke kapal!"
"Tidak! Aku harus mendapatkan kembali permata itu. Semua uangku habis untuk membelinya," tolak Tn. Almero dengan tegas.
"Kau ada disini cuman menghambat ku. Di satu sisi aku harus melawan dia," tunjuk Death knell pada Julius. "Dan disisi lain aku harus melindungi mu di tengah-tengah semua perangkap yang tersebar disini!"
"Ada perangkap disini? Dimana?" tanya Tn. Almero sambil melangkah mundur ketakutan.
"Kau lebih menjengkelkan darinya," gerutu Death knell pada Tn. Almero.
"Dia lumayan imut saat sedang cemberut begitu. Hah... Sebaiknya aku kembali. Hari juga mulai gelap," batin Julius. Baru hendak berbalik pergi... "Awas! Disana juga ada pemicu yang mengaktifkan semua pelontar anak panah!" pekik Julius pada Tn. Almero yang berjalan mundur tanpa hati-hati.
Julius memang sudah mengetahui sebagian besar letak pemicu jebakan yang ada. Tapi Tn. Almero masih dengan bodohnya bergerak sembarangan. Karna peringatan dari Julius lambat ditangkap oleh Tn. Almero, hal hasil seluruh pelontar anak panah menghujani mereka. Yang paling kerepotan disini adalah Death knell. Dia masih harus melindungi Tn. Almero karna itu tanggung jawabnya. Kemampuan Death knell memang tidak diragukan lagi namun tetap saja ia tidak bisa menangkis setiap anak panah yang mengarah pada Tn. Almero maupun dirinya sendiri. Entah apa yang dipikirkan Julius, tanpa sadar ia berinisiatif menolong musuhnya sendiri. Ini sungguh bukan gayanya. Julius mendorong tubuh Death knell untuk menghindari salah satu anak panah yang tidak sempat ditangkis olehnya. Mereka berdua terguling di dedaunan kering.
"Aw..." rintih Julius pelan sambil mencengkram lengannya yang terluka akibat anak panah.
"Kau menyelamatkan ku?" ujar Death knell tak percaya atas apa yang Julius lakukan. Untuk pertama kalinya ada orang yang mau melakukan itu untuknya, apalagi dia adalah musuhnya saat ini.
"Siapa juga yang mau menyel..." Julius seketika terdiam sesaat begitu melihat wajah Death knell tanpa mengenakan topeng. Sungguh manis.
"Cuman luka kecil," kata Julius setelah tersadar dari lamunannya. Ia sontak langsung berdiri dan melangkah menjauh dari Death knell. "Kau jangan salah sangkah dulu. Aku menyelamatkan mu cuman sebatas agar kita bisa bertarung lagi di lain waktu. Aku akan menunggu mu sampai saat itu tiba. Adiós... Death knell," Julius berlalu pergi memasuki hutan.
"Eee!! Aku juga sangat menantikan hari itu tiba. Akan aku hajar wajah menggemaskanmu itu! Lihat saja nanti!!" pekik Death knell membuyarkan rasa terharunya. Namun pandangannya terlihat meredup begitu menatapi kepergian Julius. "Aku harap kau bertahan dari racun itu dan kita sungguh bisa bertemu kembali."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Semuanya berakhir karna ada pengganggu yang datang. Sangat disayangkan," ujar salah satu petugas yang mengontrol kamera pengawas. Terlihat tidak hanya dia yang tampak kecewa.
"Pertunjukan serunya memang berakhir mengecewakan, tapi apa yang kita dapat disini?" pemilik rumah lelang tersebut tampak tersenyum melihat rekaman kamera pengawas yang menyorot Julius.
"Apa maksud tuan?" tanya salah satu dari mereka sambil mengikuti arah tatapan bos mereka.
"Apa kalian tidak menyadarinya? Bocah laki-laki itu masih bisa berjalan dengan santai nya setelah terluka akibat panah beracun itu. Sampai sejauh ini belum ada yang dapat selamat dari racun tersebut. Semuanya mati dalam hitungan kurang dari semenit. Sedangkan bocah ini..."
"Benar juga. Bukan saja tidak mati tapi dia seperti tidak terkena racun itu sama sekali. Luar biasa," saat menyadari itu, pria yang bertugas di depan komputer langsung memperbesar gambar rekaman kamera pengawas.
"Tangkap bocah itu dan bawa dia padaku hidup-hidup. Aku menginginkan sampel darahnya!"
"Siap terlaksana, Sir."
Empat orang pria yang sama sekali tidak mengoperasikan komputer bergegas pergi mengikuti perintah bos mereka. Mereka menuju tempat Julius saat ini. Kemampuan darah Julius yang dapat menetralkan semua jenis racun apapun kin telah menarik perhatian si pemilik rumah lelang tersebut. Sementara itu, Death knell dan Tn. Almero pergi ke arah yang berlawanan dengan Julius. Karna pertarungan dia dan Julius telah berakhir, Death knell memutuskan untuk mengantar Tn. Almero kembali ke kapal.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε