Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Balapan


"Tuan muda Flors, ada yang bisa saya bantu?" tanya Kety begitu melihat Julius menghampiri.


"Tidak perlu formal begitu kak Kety. Aku cuman heran, kemana perginya semua orang? Penginapan ini seperti tidak ada pengunjungnya sama sekali. Apa kak Kety tahu mereka ada dimana?"


"Setelah makan siang, kulihat mereka semua kumpul di ruang utama sedang membahas sesuatu lalu berlalu pergi keluar."


"Oh, sebaiknya aku mencari mereka di luar," Julius berbalik dan hendak pergi.


"Tunggu Julius," panggil Kety.


"Iya."


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, mungkin sedikit pribadi bagimu."


"Katakan."


"Em... Apa kau menyukai adikku?"


"Iya," jawab Julius.


"Dengar Julius. Aku bukannya melarangmu mendekati adikku. Sebagai tuan muda dari keluarga terhormat tentunya sedikit tidak pantas bagimu mendekati gadis dari kalangan seperti kami. Kau mungkin belum tahu masa kecil Marjorie seperti apa..."


"Pantas," potong Julius. "Kenapa kau berpikir dia tidak pantas bagiku? Aku menyukainya karna dia adalah gadis yang hebat dan tangguh. Dan lagi pula aku sudah tahu tentang masa lalunya yang kelam itu."


"Iya, mungkin kau menyukainya dan bisa berjanji padaku tidak akan perna menyakiti perasaannya, tapi... Bagaimana dengan keluargamu? Mereka pasti tidak mau putra mereka berpacaran dengan gadis dari kalangan rendah seperti kami, bukan? Sebagai seorang kakak tentunya aku tidak mau melihat hati adiknya terluka. Aku sama sekali tidak menginginkannya."


"Papa dan mama sudah perna bertemu dengan Marjorie dan telah mengetahui siapa Marjorie sebenarnya. Mereka sama sekali tidak melarangku mendekati dia," Julius mengapai kedua tangan Kety. "Kak Kety jangan khawatir. Aku juga seorang kakak yang memiliki adik perempuan. Aku tentu tahu perasaanmu. Aku berjanji tidak akan perna menyakiti hati adikmu, apalagi menghianitinya."


Kety merasakan ketulusan dari tatapan mata Julius. "Baik. Aku percaya padamu."


"Terima kasih."


Ting!


Suara notifikasi hp Julius berbunyi. Julius segera mengeluarkan hpnya untuk mengecek notifikasi tersebut.


..."Peringatan! Sistem mendeteksi pengguna dalam keadaan ngebut. Kecepatan sudah melebihi 100km/jam."...


"Permisi dulu ya kak Kety. Aku harus memberi sedikit pelajaran pada adikku itu," dengan senyuman dan tatapan tajam membeku, Julius berlalu pergi.


"Hah? Pelajaran? Mereka bawa PR ke penginapan?" Kety sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan Julius.


Julius tidak segera menemui Julia di garis finish karna ia tidak suka menungu. Julius lebih memilih menemui Chris yang ada di ruang bersantai untuk meminjam mobilnya sebentar. Tanpa bertanya, Chris langsung memberikan kunci mobilnya pada Julius. Dengan kunci mobil di tangannya, Julius segera menuju garasi. Sebuah mobil sport yang tertutup kain putih akan menjadi kendaraannya untuk mengejar adiknya. Di jalur balapan, disaat tengah gesit-gesitnya Julia, Rica dan Marjorie saling mendahului, dimana Julia lah yang berhasil memimpin untuk sekarang, sedangkan Marjorie dan Rica terlihat saling memperebutkan posisi kedua.


"Aha, aku yang menang," ujar Julia sangking senang karna menempati posisi pertama. Namun itu tidak berlangsung lama.


"Julia!!!" teriak Julius yang mobil dikendarainya tepat berada di belakang mobil Julia.


"Apa?! Bagaimana bisa kakakku ada disini?"


Julia sangat kaget begitu melirik kaca Spion dan melihat kakaknya sudah ada di belakangnya dengan tatapan tajam. Julia menancap gas secepat mungkin agar bisa kabur dari kakaknya yang marah besar.


"Oh... Mau mencoba kabur? Tidak akan aku biarkan!!"


Dengan keahlian berkendara yang sama hebatnya dengan adiknya, Julius mempercepat laju mobil agar bisa memotong mobil Julia. Di jalur lurus itu, garis finish telah terlihat dari kejauhan 500 meter. Seharusnya kemenangan sudah di depan mata Julia namun kakaknya berhasil memotongnya dan memblokir jalan Julia. Hal hasil Julia harus menginjak rem untuk mengindari tabrakan. Julius keluar dari mobil lalu menghampiri mobil Julia. Dengan tubuh gemetar Julia keluar dari mobil. Ia bingung harus bagaimana lagi mencari alasan untuk menghindari amarah kakaknya.


"Kau sekarang tidak bisa menghindar lagi, adikku."


"Hehe... Ba, bagaimana kakak bisa tahu kalau aku..."


"Ayoklah, kak. Aku cuman main-main. Tidak bisakah aku melakukan hal yang aku senangi?"


"Seharusnya bukan kata itu yang mau aku dengar! Apa kau tahu kalau apa kau lakukan ini sangat membahayakan dirimu? Apa kau sungguh ingin mencari mati?!!" bentak Julius membuat Julia tertunduk murung.


Tak lama mobil yang dikendarai Rica dan Marjorie berhenti. Mereka keluar dari mobil lalu bergegas menghampiri Julius dan Julia.


"Julius! Jangan salahkan Julia. Ini semua salahku. Aku yang menatangnya duluan. Seharusnya aku tidak melakukan itu," ujar Rica agar Julius tidak memarahi Julia.


"Segarusnya kau tidak menerima tantangan tersebut! Tapi kau malah menerimanya dengan penuh semangat," Julius masih menyalahkan Julia soal ini.


"Julius, cukup! Jangan marahi Julia lagi," lerai Marjorie. "Dia melakukan ini cuman untuk mengalihkan perhatiannya dari kesedihan..."


"Dengan cara balapan?" perkataan tersebut segera dipotong Julius. "Itu bukan mengalihkan perhatian tapi mengantarkan nyawa. Mengemudi dalam keadaan emosi yang berlarut-larut bisa mengganggu konsentrasi dan dapat berakibat fatal!"


"Maafkan kami, Julius."


"Kenapa? Kenapa kakak selalu melarangku melakukan ini dan itu? Aku bukan anak kecil lagi yang selalu terus diawasi," Julia mengangkat wajahnya dan menatap kakaknya dengan mata berlinang.


"Kau memang bukan anak kecil, tapi pemikiranmu itu yang tidak dewasa. Kau itu terlalu ceroboh. Sudah beberapa kali aku dibuat kerepotan karna masalah yang sering kau timbulkan."


"Kalau begitu tidak perlu mengurusi masalahku!" kali ini Julia meninggikan suaranya dengan air mata telah membasahi pipinya. "Aku bisa menyelesaikannya sendiri. Dari dulu aku sering berpikir apa kakak ku ini sungguh menyayangi adiknya atau malah membencinya!!"


"Julia!"


"Sudah cukup kak! Kau selama ini selalu mengangapku sebagai orang yang tidak bisa melakukan apa-apa. Kau sama sekali tidak mempercayaiku melakukan apapun! Di mataku aku ini cuman orang tak berguna yang selalu menyusahmu saja!"


"Julia," nada bicara Julius merendah.


"Tidak! Aku tidak mau mendengarkan kakak lagi."


"Baik, jika kau mengangapku sebagai kakak yang buruk untukmu tapi asal kau tahu saja, aku melakukan ini karna..."


"Karna kau telah berjanji pada mama untuk selalu menjaga ku," potong Julia. "Aku sudah tahu itu sejak lama. Kau melakukan semua ini karna mama yang memintamu."


"Tidak. Aku melakukannya karna kau adik kesayanganku!" ucap Julius lantang. Suatu kata yang sudah lama terpendap akhirnya keluar juga dari mulutnya.


Julia tersentak kaget mendegarnya. Dengan pipi yang basa dan sedikit merona itu, Julia memalingkan muka dan cuman melirik kakaknya "Bukankah adik kesayanganmu itu Adelio? Kesayangan apanya? Kau saja selalu memarahiku."


"Maaf. Mungkin caraku terbilang kasar tapi percayalah, aku melakukan ini demi menjaga keselamatanmu. Sudah cukup dua kali ini aku gagal menjagamu dan hampir membuatmu celaka. Aku tidak mau itu terulang kembali. Aku sungguh kakak yang tak berguna. Mau sekeras apapun aku berusaha, aku selalu datang terlambat disaat kau dalam bahaya."


Julia tiba-tiba memeluk Julius dengan sangat erat sambil berbisik. "Maaf. Maaf karna selama ini aku selalu merepotkanmu. Hiks.... Hiks...."


"Itulah tugas seorang kakak. Bukankah itu yang selalu kau katakan," Julius membalas pelukan Julia sambil membelai rambut adiknya itu.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε