Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pemeriksaan


Daniel menambah kecepatan saat mobil melaju di jalanan. Lima menit kemudian mereka sampai di sebuah gedung tujuh lantai dengan tanda nama Rumah sakit. Daniel mengajak Lina masuk ke rumah sakit itu untuk menemui dokter kandungan. Anak buah Daniel telah memintakan jadwal pertemuan khusus dengan dokter kandungan tersebut. Sampai di ruangan mereka langsung saja masuk tanpa mengikuti antrian lagi. Lina segera mendapatkan pemeriksaan dan hasilnya...


"Selamat nona Lina, anda hamil an..."


"Hamil?!" potong Lina karna sangat terkejut mendengarnya. Ia meletakan tangannya di atas perutnya. "Ternyata aku benar-benar hamil. Bagaimana ini?"


Daniel ikut meletakan tangannya di atar perut Lina. "Kau akan menjadi seorang ibu."


"Aku... Aku sangat terkejut begitu mengetahui hal ini."


"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Daniel pada Dokter di depannya.


"Kondisi ibu dan janin sangat baik. Usia kandungan anda telah memasuki bulan ke tiga kehamilan. Saya sarankan anda untuk selalu menjaga kesehatan. Perbanyak makan buah dan sayuran, olahraga yang cukup, kurangi beban pikiran yang bisa menimbulkan sters dan hindari benturan seperti terjatuh yang bisa menggangu kondisi kandungan anda," saran dokter itu.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Lina dan Daniel keluar dari ruang dokter kandungan tersebut. Lina masih diam setelah mengetahui kenyataan ini. Rasanya benar-benar tidak menyangka kalau dirinya sedang hamil. Apalagi di usianya yang terbilang masih muda. Bagaimana caranya ia menjalani kehidupan di kampusnya? Dengan perutnya yang akan semakin membesar seiring berjalannya waktu. Lambat laun semua orang akan mengetahui tentang kehamilannya.


Hamil dalam keadaan belum menikah dan dikenal tidak memiliki pacar, itu akan menghancurkan reputasi Lina yang dikenal sebagai mahasiswi yang polos. Mereka beranggapan bahwa Lina adalah gadis rendahan. Lina hanya berharap ukuran perutnya tidak akan terlalu besar. Dengan begitu ia setidaknya masih bisa menyembunyikan kehamilannya sampai menjelang persalinan nanti. Walau Lina masih kaget akan hal ini tapi disisi lain ia juga bahagia. Menjadi seorang ibu merupakan hal yang paling luar biasa yang terjadi pada seorang wanita.


"Kau tunggu disini sebentar. Ada yang mau aku tanyakan pada dokter."


"Iya," jawab Lina berserta anggukan.


Tidak berselang lama Daniel masuk kembali ke ruang tadi, tiba-tiba seseorang memanggil Lina dan menghampirinya.


"Lina!"


"Richard?! Apa yang kau lakukan disini?" Lina cukup terkejut dapat bertemu Richard di rumah sakit ini.


"Aku membantu ibuku."


"Ah... Iya, aku lupa kalau ibumu seorang dokter."


"Bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan di..." Richard melirik papan nama ruangan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri "...ruang dokter kandungan? Kau..."


"Tidak, tidak. Aku sedang menemani seseorang," sangkal Lina dengan cepat.


"Oh... Aku pikir..."


"Haha... Jauhkan pikiran aneh itu," Lina menepuk-nepuk bahu Richard untuk menghilangkan suasana canggung ini.


"Syukurlah. Aku kira aku terlambat. Aku masih mengharapkan jawaban 'iya' darimu. Aku mohon jadilah istriku."


"Richard, jawabanku tetap sama. Maaf."


Sementara itu Daniel yang baru keluar dari ruang dokter kandungan dikejutkan dengan kucingnya yang berbincang bersama seorang laki-laki sambil tertawa lagi. Merasa tidak suka melihat laki-laki itu begitu akrab dengan kucingnya. Daniel mendekati mereka dan langsung memeluk Lina dari belakang dengan keadaan tangan kirinya melikar dibahu Lina dan tangan kanannya di perut Lina.


"Siapa dia, sayang," kata Daniel yang membuat Richard sangat terkejut.


Lina diam saja membiarkan Daniel memeluk tubuhnya dengan hangat. Lina berharap setelah melihat ini Richard akan menyerah mengejarnya.


"Sayang?" kata Richard pelan. "Jadi ternyata karna dia kau terus menolak ku."


"Richard, aku hargai semua kebaikanmu padaku, tapi aku sungguh tidak bisa membalas perasaanmu," Lina mengeretakkan giginya, memaksakan dirinya untuk mengatakan... "Iya. Karna dia. Jadi aku mohon berhentilah menggaguku."


"Kau tidak terlihat tulus menjawabnya. Apa kau di ancam olehnya atau semua ini hanya untuk membuatku menyerah?! Kau sengaja mencari sembarangan orang diluar sana demi menolak cintaku yang tulus padamu!!!" Richard kali ini meninggikan suaranya.


Mendengar itu membuat Lina tersentak. Ia tidak percaya orang yang selalu lembut padanya selama ini bisa membentaknya begitu keras dan menuduhnya sembarangan. "Jangan salahkan aku kalau aku benar-benar tidak bisa mencintaimu. Cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta datang pada seseorang secara tidak terduga."


BUK ! ! !


Satu tonjokkan mendarat di wajah Richard yang membuatnya tersungkur ke lantai. Richard berusaha bangkit sambil menyekat darah yang keluar dari ujung bibirnya.


"Berani sekali kau membentak kucingku seperti itu!!" bentak Daniel balik dengan sorot mata membunuh.


"Daniel, ini rumah sakit. Kumohon," kata Lina mencoba menenangkan Daniel.


"Daniel ya. Aku akan mengingat nama ini. Lina jangan kau pikir aku akan menyerah setelah kejadian ini. Mau bagaimanapun caranya, aku akan pastikan membuatmu berada disisiku walaupun aku harus menggunakan cara yang paling terburuk!" Richard berlalu pergi dengan hati hancur berkeping-keping.


"Jangan hiraukan perkataannya. Ia tidak akan berani melakukan itu padaku. Aku mohon jangan bunuh dia," pintak Lina pada Daniel untuk mengampuni Richard. Mengingat Richard selalu baik padanya diantara orang yang biasanya menghina dirinya.


"Baiklah. Demi dirimu aku tidak akan membunuhnya. Sekarang ayok kita pulang. Kau istirahat saja hari ini, tidak usah pergi kuliah," Daniel membiarkan Lina berjalan duluan kembali ke mobil. "Jon!"


"Saya disini tuan muda," seorang pria muncul entah dari mana. Ia adalah Jony, salah satu tim elit sama seperti Qazi.


"Beri pelajaran pada bocah itu tapi jangan sampai kau membunuhnya."


"Baik tuan muda."


"Daniel? Kenapa kau masih berdiri disana?" tanya Lina begitu ia menoleh.


"Kunci mobilku jatuh."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Di mobil, dalam perjalanan pulang. Lina hanya diam menatap kosong ke depan. Daniel yang melihat itu mencoba bertanya.


"Ada apa denganmu? Kau tidak bahagia mendengar kabar kehamilanmu? Atau... Karna ucapan bocah itu?"


"Richard? Biarkan saja dia," kata Lina tanpa menoleh Daniel. "Hanya saja... Aku takut Daniel. Aku... belum siap menerima semua ini. Anak ini..." Lina kembali mengelus perutnya.


Daniel memutar mobilnya masuk ke kawasan taman dengan pemandangan danau. Ia memberhentikan mobilnya di tempat yang sepi dari pengunjung taman. Suasana tenang sangat cocok untuk meluapkan apa yang terpendam dalam benak seseorang. Lina bisa bercerita dengan bebas disini.


"Apa kau mau menggugurkannya?"


"Tidak! Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan perna memiliki pikiran seperti itu," Lina menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil dengan lengannya yang diletakan di atas matanya. "Ini kehamilan pertamaku di usiaku yang masih muda, wajar aku merasa takut. Aku bingung mau menghadapinya bagaimana."


"Jangan takut. Ada aku. Dia anakku juga. Aku akan bertanggung jawab dan menjaga kesehatanmu serta anak kita," Daniel menarik Lina dan mendudukannya di pangkuannya, kemudian di elusnya lembut perut Lina dari balik bajunya. "Kita rawat anak ini sama-sama."


Sentuhan hangat dari tangan Daniel yang langsung menyentuh kulit perutnya membuat Lina merasa lebih baik. Dan tampa diduga Daniel mencium perut Lina sambil berbisik...


"Nak, jangan menyulitkan ibumu ya."


Mendengar itu membuat Lina tidak bisa menahan tawanya. "Hihi... Mereka masih berumur dua bulan lebih. Mereka belum bisa mendengar."


"Oh... Benarkah? Dokter tidak bilang begitu."


"Memang apa yang kau tanyakan pada dokter tadi?"


"Cara merawat dan menjagamu," Daniel membetulkan helaian rambut panjang Lina yang menutupi wajah manisnya.


"Kalau begitu, kau harus berusaha," kata Lina dengan senyum manis di wajahnya.


Mendengar kalimat itu membuat Daniel tidak bisa tidak tahan mengecup bibir merah delima itu. Diciumnya dalam-dalam dengan lidah mereka yang telah bertemu satu sama lain. Daniel melepaskan ciuman mereka begitu nafas mereka mulai menipis.


"Ini kebahagian terbesar dalam hidupku. Terima kasih telah bersedia memberikannya untukku."


"Bukankah kau mengatakan tidak ada kata 'terima kasih' dalam kamusmu?"


"Sekarang ada tapi hanya untukmu."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε