Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Ke salah pahaman


"Apa sekarang kau menyesal, Daniel?" Samuel mendekati Daniel lalu berbisik. "Sebaiknya kau tinggalkan saja dia. Pria sepertimu tidak cocok untuknya. Aku akan menjaganya lebih baik darimu. Aku bersedia menjadi ayah pengganti bagi anak yang sedang ia kandung."


"Jangan coba-coba merebutnya dariku atau aku akan menghabisimu!! Dia hanya milikku seorang. Camkan itu Samuel!" ancam Daniel sambil kembali menarik krah jas Samuel.


Samuel masih bersikap tenang. "Bukankan kau sudah memiliki istri, Daniel. Kau pikir seorang wanita suka diduakan? Dia tidak akan bahagia bersamamu."


"Kau tidak tahu apa-apa Samuel! Dialah is..."


"Daniel, ternyata kau ada disini. Kami sudah mencarimu kemana-mana."


Kalimat Daniel terhenti disaat Ardya, Ira dan Violet menghampiri. Dengan cepat Daniel melepaskan krah jas Samuel dan sedikit mendorong Samuel menjauh. Samuel hampir saja terjungkal akibat dorongan tersebut.


"Apa yang terjadi?" tanya Ira.


"Tidak ada. Kami hanya teman lama yang kebetulan bertemu kembali disini," bohong Daniel. "Ada perlu apa mencariku?"


"Ada perlu apa kau tanya? Sebaiknya kau bawa istrimu pulang atau lebih baik ajak dia ke rumah sakit. Ia sepertinya tidak enak badan malam ini."


"Iya, Daniel. Kepalaku pusing sekali dan tubuhku terasa lemas," Violet mengambil kesempatan menyadarkan kepalanya di bahu Daniel dengan manja.


"Menyebalkan! Jika tidak ada Ardya dan Ira disini aku sudah pasti tidak mau berpura-pura lagi. Serta, aku ingin kucing kecil sendiri yang membunuh mu." geram Daniel dalam hati. "Ya sudah. Aku akan mengatarmu pulang."


Dengan perasaan terpaksa, Daniel membimbing Violet kembali ke mobil. Tidak mau kehilangan jejak Lina, ia mengirim pesan pada Qazi untuk memintanya datang ke kediaman Xu bersama Norman. Ia memerintahkan pada mereka untuk mengikuti Lina kemanapun dia pergi malam ini dan melaporkannya padanya.


"Kau sudah lihat sendiri. Bagaimana menurutmu?" tanya Samuel pada Lina yang ia tahu sedang bersembunyi di balik tirai jendela. Ia menghampirinya.


"Aku tidak mau dengar apa-apa tentangnya. Hiks..."


Lina menutup kedua telinganya. Hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini dan takut untuk mengingat semuanya. Bagaimana kalau ternyata memang benar kalau dirinya hanya simpanan. Tidak! Lina tidak sanggup. Setelah apa yang dilihatnya tadi membuat kemungkinan-kemungkinan itu semakin besar. Daniel telah beristri, lalu siapa dirinya ini?


"Kita pulang?" kata Samuel sambil mengulurkan tangannya.


"Iya," Lina menghapus air matanya dan menerima uluran tangan Samuel.


Mereka berjalan keluar meninggalkan keriuhan pesta yang sebenarnya baru lama di mulai. Sebuah mobil biru gelap sudah menunggu mereka di luar. Samuel membantu Lina masuk ke mobil sebelum dirinya. Mobil kemudian melaju pelan meninggalkan kediaman Xu. Di perjalanan Lina hanya melamun. Dengan tubuh disandarkan di kursi mobil, ia menatap kosong ke depan. Samuel sesekali melirik pada Lina. Ia merasa kasihan melihatnya dan mengerti apa yang dialami Lina saat ini. Samuel membiarkan Lina menenangkan dirinya sebentar. Memang perlu waktu bagi Lina untuk menerimanya.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Di seperpanjangan jalan pulang, Daniel juga melamun. Isi kepalanya terus saja dipenuhi bayangan Lina. Ia tidak peduli pada Violet yang menyandarkan kepalanya dibahunya. Apa lagi setelah mengetahui ternyata Lina benar-benar hilang ingatan. Lina tidak mengingat dirinya maupun Julius dan Julia. Daniel bingung harus bagaimana mengembalikan ingatan Lina dan agar Lina kembali padanya. Serta perkataan Samuel barusan juga menggangu pikiran Daniel. Tapi dari semua itu ada rasa bahagia di hati Daniel. Bahagia begitu mengetahui Lina sedang hamil. Senyum kecil terukir di wajah Daniel disaat ia mengingatnya. Ia ingin mengelus dan menyapa janin yang ada dalam kandungan Lina. Tapi tiba-tiba lamunan Daniel buyar seketika disaat Violet lagi-lagi muntah dan kali ini Daniel tidak sempat menghindari.


"Hoek!"


Muntahan Violet yang tinggal sebatas air saja memenuhi jas Daniel.


"Maaf, maafkan aku Daniel. Aku tidak tahu mengapa perutku terasa mual. Hmp!"


Sebelum Violet muntah lagi, Daniel tanpa segaja memukul bagian belakang kepala Violet yang membuat Violet pingsan seketika.


"Ups. Aku rasa memang lebih baik ia tertidur sebentar," Daniel membetulkan tubuh Violet menyadarkan di kursi mobil. "Hentikan mobilnya," perintahnya pada sopir.


Sopir itu segera menepikan mobilnya ke sisi kiri jalan. Daniel keluar dari mobil, menanggalkan jasnya dan membuangnya begitu saja. Ia mengeluarkan hpnya lalu menelpon seseorang.


"Saya segera kesana tuan muda."


Daniel memutuskan telponnya. Ia berbalik pada sopir pribadinya yang masih duduk di kursi pengemudi. "Kau langsung antar dia pulang saja. Jony nanti menjemput ku."


"Baik tuan muda."


Sopir itu menancap gas meninggalkan Daniel. Tak berselang lama mobil hitam berhenti di depan Daniel. Tanpa basa-basi Daniel langsung saja membuka pintu dan masuk ke mobil tersebut. Jony melajukan mobilnya di antara kendaraan lain di jalanan. Jony tidak bertanya apapun pada Daniel. Ia hanya melirik Daniel yang sedang menghubungi seseorang.


"Jon, pergi ke lokasi yang telah dikirimkan Qazi."


"Baik."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Sampai di rumah, Lina masih tertunduk murung. Pertemuannya dengan Daniel tidak membuahkan hasil yang ia harapkan mala menambah ke salah pahaman diantara mereka. Apa lagi ingatan Lina yang baru pulih masih kacau. Ia tidak ada niat untuk menyusunkannya dan mala ingin membuangnya jauh-jauh. Ia butuh istirahat untuk menenangkan hati dan pikirannya. Sampai di depan pintu kamar Lina berbalik menghadap Samuel yang sendari tadi masih mengikutinya.


"Terima kasih untuk hari ini," kata Lina tanpa melihat wajah Samuel.


"Apa kau masih sedih tentang apa yang terjadi malam ini?"


"Aku tidak mau mengingatnya lagi."


"Kau tahu. Tadi itu adalah pertemuan pertamaku dengan putri dari bibi Ariana. Ia sangat mirip denganmu. Kalian seperti kembar identik."


"Karna itulah aku menjadi wanita simpanan Daniel!" potong Lina dengan air mata tak tertahan lagi. "Aku begitu mirip dengan istrinya."


"Eh... Sebenarnya bukan itu yang ingin aku katakan. Iya, mungkin saja kalian bedua memang kembar..."


"Tidak mungkin! Jika kami memang kembar, reaksi Daniel tidak akan seperti tadi! Dan apa kau mengetahui ini kalau sebenarnya bibimu Ariana memiliki anak kembar?"


"Tidak," jawab Samuel sambil mengeleng pelan.


"Disuatu waktu Daniel mungkin telah salah mengira aku sebagai istrinya dan sampai terjadi kecelakaan ini!" Lina meletakan tangannya diatas perutnya. "Tidak! Aku tidak mau mengingat semua itu! Biarlah semuanya terlupakan selamanya! Hiks... Hiks... Huaaah......aah....."


Lina menangis sejadi-jadinya meluapkan semua beban di pikiran nya. Samuel merasa kasihan melihat Lina yang begitu sedih. Hatinya pasti hancur saat ini. Sosok yang selalu Samuel lihat sebagai wanita ceria kini menangis terseduh-seduh. Lina memang wanita kuat dan terkadang berjiwa kekanak-kanak, tapi tetap saja dia adalah wanita yang rapuh jika dihedapkan dengan perasaan terluka dihatinya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε