
Mereka kembali melanjukan makan siangnya. Seperti yang Julia katakan tadi. Ia kembali memesan satu porsi Steak Hamburger dan memesan menu yang lainnya. Yang pasti pelayan yang melanyani Julia dibuat melongok dengan pesanan begitu banyak. Selesai makan siang dan menikmati hidangan pencuci mulut, Julia, Nisa dan Marjorie cukup dibuat penasaran siapa koki dibalik semua hidangan lezat tersebut. Mereka meminta izin ingin bertemu dengan sang koki. Izin segera disetujui tapi mereka harus menunggu jam istirahat pegawai terlebih dahulu. Hal ini karna ramainya pengunjung di kedai tersebut. Hampir sejaman mereka menunggu kedai sepi. Pelangan yang mengunjungi kedai ini untuk makan siang datang silih berganti.
"Maaf sudah menunggu lama. Hari ini ramai sekali," kata seorang wanita muda yang keluar dari dapur.
Julia, Nisa dan Marjorie yang duduk di meja mereka menoleh begitu mendengar suara tersebut. Seorang gadis berambut pirang keperakan di kuncir kuda. Ia memiliki mata biru yang cantik dan kulit putih pucat, hidung mancung, bibir merah muda dan sebagai tambahan satu lesung pipit di pipi kirinya. Keadaan kedai itu sudah cukup sepi, tinggal beberapa orang saja yang masih bersantai-santai sebentar setelah makan. Nisa dan Julia berdiri begitu gadis itu menghampiri. Sedangkan Merjorie, ia terlihat mematung menatap wajah gadis tersebut.
"Ka-kak..." dengan bibi gemetar satu kata itu keluar pelan dari mulut Marjarie. Ia berusaha menahan air matanya untuk tidak mengalir keluar. "Ti, tidak aku sangkah. Aku dapat bertemu denganmu disini. Hiks... Setelah pencarian sekian lama akhirnya... Kita dapat bertemu lagi. Hiks... Kakak, aku sangat merindukanmu," kata Marjoriet dalam hati.
Marjorie sangat bahagia dapat berjumpa lagi dengan kakak yang selama ini dicarinya. Pertemuan yang terjadi secara tidak sengaja ini benar-benar mengobati rindu yang amat dalam di hati Marjorie. Kerja kerasnya selama ini terbayar sudah. Pentunjuk yang sempat terputus itu ternyata berubah berkat ajakan Julia dan Nisa untuk jalan-jalan hari ini. Ia senang sekali dan tidak tahu harus bagaimana mengekspresikannya. Ingin sekali ia melompat ke pelukan kakaknya itu, namun keadaan tidak memungkinkan bagi dia melakukannya. Identitasnya sebagai pembunuh bayaran tidak boleh diketahui oleh kakaknya dan ia sedang dalam misi sekarang.
"Tidak. Aku belum bisa mengungkapkan diriku hari ini pada kakak. Belum saatnya. Paling tidak setelah misiku selesai dan aku menyerahkan surat permohona pengunduran diriku. Barulah saat itu kita bisa bertemu lagi. Kakak, tunggu aku kembali," Marjorie menguatkan hatinya untuk tidak menangis. Akan sangat aneh jika ia menangis tanpa alasan.
"Aku dengar kalian ingin bertemu denganku."
"Iya. Aku sangat menyukai hidangan yang kau buat. Itu enak sekali," kata Julia bersemangat seperti biasa.
"Aku tidak menyangka ternyata kau masih sangat muda."
"Terima kasih. Aku belajar dari tuanku dulu. Sekarang dia sudah membebaskanku..."
"Tunggu, membebaskan? Maksudnya berhenti?" tanya Nisa.
"Ah, bisa dibilang begitu. Sebenarnya aku ini dulunya adalah seorang gadis yang dibeli oleh seorang koki."
"Sendikat perdangangan orang," kata Julia.
"Hah?! Apa masih ada hal seperti itu di zaman sekarang?" Nisa cukup terkejut mendegarnya.
"Eh... Masih ada, mungkin."
"Iya, tapi dia memperlakuan ku dengan sangat baik, tidak seperti yang rumor yang beredar. Beberapa tahun mengikutinya, ia mengajariku berbagai macam hal tentang memasak. Aku lebih dianggap seperti muridnya. Dua tahun lalu, ia mewariskan tempat ini pada setelah membebaskanku. Aku mengelolanya semampu yang aku bisa dan sudah lumayan berkembang sampai penghasilanku cukup untuk membayar pegawai," cerita gadis itu.
"Wah... Kakak sangat hebat. Bisa menjalankan kedai ini sampai begitu digemari sampai menjadi seperti sekarang," puji Julia.
"Lantas, setelah membebaskan kakak, kemana perginya koki tersebut?" tanya Nisa.
"Sebelum pergi, ia bilang mau berhenti menjadi koki dan lebih memilih berkeliling dunia untuk menikmati sisa hidupnya. Ia memintaku untuk tidak mencarinya. Aku tidak tahu ia ada dimana sekarang," raut wajah gadis itu berubah murung begitu mengingat tuannya sekaligus guru baginya.
"Ah... Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan. Namaku Julia," kata Julia mengalihkan topik pembicaraan.
"Benar juga. Maafkan aku. Perkenalkan, namaku Laura. Salam kenal" gadis itu mengulurkan tangannya yang segera dibalas Julia.
"Salam kenal," julia melepaskan jabat tangan mereka. "Ini temanku, namanya Nisa."
"Dan ini..."
"Terry," potong Marjorie sebelum Julia menyebutkan namanya.
Sebelum kedua temanya itu protes, Marjorie lebih dulu memberi isyarat agar Mereka tidak mengungkapkan identitasnya pada Laura. Walau sedikit bingung kenapa Marjorie tidak mau memberitahukan nama aslinya pada Laura, namun Julia dan Nisa menghargai keinginan temanya itu.
"Apa kita perna bertemu? Jujur saja, wajahmu mengingatkanku pada seseorang," ujar Laura yang terus memperhatikan wajah Marjorie.
Marjorie memalingkan mukanya. "Ka, kau pasti salah orang."
"Hah... Mungkin kau benar."
"Sebenarnya apa yang Marjorie sembunyikan? Aku yakin sekali kalau Marjorie mengenal Laura tapi ia tidak mau Laura sampai mengali dirinya. Kenapa ya?" pikir Julia.
"Kak Laura, kenapa tidak pindahkan saja kedaimu ini ke tempat yang lebih strategis? Pasti pelangganmu akan bertambah banyak dan keuntungan yang kau dapat juga akan meningkat," kata Nisa memberi saran.
"Benar sekali. Dengan hidanganmu yang luar biasa enak. Dijamin kedaimu ini akan berubah menjadi restoran yang digemari semua orang," sambung Julia untuk mengalikan perhatiannya dari Marjorie.
"Aku sebenarnya juga mau seperti itu, tapi biaya sewanya sangat mahal. Aku tidak sanggup membayarnya. Hah... Kedai kecil ini saja sudah cukup untukku."
"Em, aku permisi ke toilet dulu," kata Marjorie. Ia melangkah pergi menuju toilet.
"Ada apa dengannya?" tanya Nisa.
"Biarkan saja. Gerak-geriknya ini bisa aku tebak dengan sangat jelas," Julia memberi senyum kecil sambil melihat Marjorie pergi.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε