
Varro berjalan menuju keluar ruangan ditemani oleh pria yang berada di belakang bos preman itu. Di setiap lorong yang dia lalui, hanya ada beberapa ruangan kosong berlumuran sedikit darah. Dia bertanya-tanya tentang apa saja yang dilakukan oleh para preman-preman itu.
"Hey, bolehkah kau menunjukkan letak toiletnya saja?" Tanya Varro sambil terus berjalan.
"Tidak!!. Bisa saja kau berfikir untuk kabur, aku tidak ingin kena hukuman karena kau" Gertak pria itu.
"Huh..Padahal gua niatnya mau nge bebasin lu" Desah Varro."Tapi karena lu gak ngebolehin gua pergi sendiri, maka terima ini!!" Balas Varro menghajar pria itu sampai pingsan,saat sampai di tempat sepi dan tidak ada kamera pengawas.
Varro mengawasi sekitarnya, dan menyeret pria itu ke salah satu ruangan yang dia lihat tadi lalu menguncinya.
"Kurasa dia tidak akan bangun untuk beberapa jam kedepannya,karena aku tidak sengaja mengenai kepalanya" Gumam Varro meninggalkan pria itu.
Varro dengan santai mulai mengecek ruangan lainnya. Setelah mengeceknya, tidak ada apapun sama sekali sesuatu yang penting di setiap ruangan yang dia temui, hanya sekumpulan preman yang sudah ia hajar dan dia kunci seperti pria tadi.
Varro kembali sendiri kedalam ruangan. Saat masuk, bos preman itu menatapnya dengan tajam dan curiga. Dia bertanya kemana perginya pria yang menemani nya tadi, Varro menjawab bahwa pria itu tiba-tiba mulas, jadi akhirnya dia meninggalkan nya saja karena tidak suka menunggu.
Varro kembali duduk di dekat Kyo, dia menaruh kedua tangannya di sandaran kursi dan menyilang kakinya. Laura dan Kyo tidak habis pikir dengan Varro yang tiba-tiba bertingkah seenaknya di depan musuh.
"Heh Varro, lu apain tu pria tadi" Bisik Kyo tidak percaya dengan ucapan Varro.
"Emmmm gimana yah kak, gua gasuka dianterin, jadi gua hajar ajah sampai pingsan" Balas Varro
"Bangsat, lu kan udah dibilang jangan ngelakuin hal-hal yang dapat nge gagalin rencana!!" Bisik Kyo kesal.
"Tenang saja, kurasa aku memilih jalan yang tepat" Balas Varro dengan wajah sombong.
"Apa yang kalian berdua bisikkan di depan ku!? " Gertak bos preman itu dengan tatapan yang semakin curiga.
"Bu-bukan apa-apa, i-tu kami hanya membahas masalah sekolah haha,bukanlah sesuatu yang penting ko" Jawab Kyo tertawa kecil.
"Tring....." Suara telfon berbunyi
"Ha? Kenapa menelfon?!" Ucap bos preman itu mengangkat telfon dari seseorang.
"Kami tidak sengaja menemukan dua penyusup" Jawab pria yang menelfon.
"Apa kalian bilang!?, bisa-bisanya kalian membiarkan seseorang masuk secara diam-diam kedalam sini, tangkap mereka dan bawa mereka ke ruangan ku,cepat!!" Gertak bos preman dengan wajah penuh emosi.
Varro, Kyo, dan juga Laura seketika kaget dengan apa yang barusan bos preman itu katakan. Mereka menjadi khawatir kalau saja pentusup yang mereka maksud itu adalah Cakkra dan Ciel.
Di ruang OSIS, Sofi yang juga mendengarkan percakapan bos itu, langsung segera menghubungi Cakkra dan Ciel. Sofi marah kepada dirinya sendiri karena bisa-bisanya dia tidak memperhatikan daerah tempat Cakkra dan Ciel berada.
Setelah melihat kembali CCTV di dekat gudang itu, benar saja ternyata ada satu preman yang sedang mengendap ingin melakukan sesuatu kepada Cakkra dan Ciel.
"Aduh, ko Kak Sofi belum kasitau tempat kuncinya yah? Apakah dia tidak menemukannya? " Ucap Cakkra
"Cakkra, Ciel!! Awas dibelakang kalian!!" Ucap Sofi panik
Mendengar ucap Sofi, Cakkra dan Ciel dengan sigap membalikkan badannya dan untung saja mereka tepat waktu menghindari serangan musuh. Setelah berhasil menghindar, Ciel langsung menendang perut preman itu sampai terlempar kebelakang menabrak tembok.
"Hey, apa kau ingin mati?" Tanya Ciel kesal sambil melangkah menuju kearah preman itu.
Disaat preman itu menaikkan wajahnya dan menatap Ciel, seketika Cakkra dan Ciel kaget karena orang yang hampir menyerang mereka adalah orang yang pernah menyusup kedalam sekolah dan memohon mohon kepada Ciel.
"Bos!? " Ucap preman itu tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Iya!!, dia adalah bos di tempat ini!" Jawab preman itu sambil menahan perutnya yang ditendang oleh Ciel tadi.
Cakkra sedikit tidak mengerti dengan pembahasan mereka berdua.
"Hey tunggu, apa yang kalian berdua bicarakan, dan kenapa kau yang menyusup ke sekolah waktu itu ada di tempat seperti ini?.lalu mengapa tadi kau ingin memukul kami berdua?" Ucap Cakkra bertanya-tanya.
"Maaf, aku kira kalian siapa." Ucap preman itu meminta maaf. "Bos kesini buat ngebantuin kita kan?!" Ucap preman itu salah faham.
"Maaf, tapi aku kesini bukan untuk kalian. Untuk apa aku membantu orang yang sudah menghianati ku" Balas Ciel dengan wajah masam.
"Bos, sudah ku katakan bahwa kami semua terpaksa melakukannya. Kumohon percayalah, apakah Bos akan percaya dengan ku jika aku membantu bos untuk membuka pintu disana?" Ucap Preman itu memohon.
"Haha, aku tidak akan mempercayai kalian hanya dengan tawaran seperti itu." Balas Ciel tertawa kecil.
"Lantas apa yang harus kami lakukan?" Ucap preman itu semakin memohon.
"Kak, kenapa kakak tidak menolong mereka? Bukankah di saat seperti ini kita sedang membutuhkan lebih banyak orang untuk membantu misi kita?" Tanya Cakkra.
"Bukan urusan mu!!" Jawab Ciel menatap tajam kearah Cakkra.
"Tring.........." Bunyi suara ponsel preman itu menandakan seseorang sedang menghubunginya. Ternyata orang yang sedang menghubunginya adalah bos mereka.
"Ha-halo bos" Ucap preman itu mengangkat telfon, Ciel yang ingin meninggalkan nya, seketika berbalik dan meraih ponsel preman itu.
"Bagaimana, apakah kau sudah menangkap mereka?! Jika sudah, maka cepat bawa mereka ke hadapan ku" Ucap bos preman tersebut.
"Apa kabar monster" Balas Ciel dengan suara serak.
"Berani-beraninya kau berkata seperti itu, siapa kau!?" Tanya bos preman tersebut.
"Hahah,apakah kau lupa dengan anak yang kau rebut dari seseorang?" Jawab Ciel dan bertanya kembali.
"Hoh....., rupanya kau yang menjadi penyusup, Ciel" Balas bos preman itu,membuat Varro, Kyo, dan Laura terkejut.
"Apa lagi yang ingin kau lakukan dengan menjadikan seseorang sebagai sandra? " Tanya Ciel bersikap dingin.
"Kau masih belum berubah rupanya, kau masih sama seperti dulu, sama seperti kau bertanya padaku 11 tahun lalu." Jawab bos preman itu membuat Ciel memasang wajah penuh dendam.
" Aku ingin tau, apakah kau sedang bekerjasama dengan orang-orang di depan ku ini?" Tanya bos preman itu tersenyum sarkas.
"Tidak, aku sama sekali tidak tau siapa yang kau maksud. Aku kesini untuk mencari tahu tindak kejahatan seperti apa yang kau lakukan di tempat seperti ini" Jawab Ciel berbohong agar rencana tidak hancur.
"Hoh...., bisakah aku mempercayainya. Lalu darimana kau tau kalau aku sedang menjadikan seseorang sebagai sandra?" Tanya bos preman itu lagi.
"Tentu saja dari anak buah mu ini" Jawab Ciel menatap tajam kearah orang yang tadi dia hajar.
"Hem, ternyata mantan anak buah mu yang memberitahu. Masuk akal kalau dia memberitahu mu, secara mereka masih berharap kamu menjadi bos mereka, bukan ayah mu ini" Ucap bos preman tersebut.
"Haha, apanya yang berharap. Jelas-jelas mereka menghianati ku secara terang-terangan" Balas Ciel.
"Tidak!!, sudah kubilang bahwa kami terpaksa. Sekali lagi, kumohon percaya pada kami semua!!!" Teriak preman itu.
"Diam" Gertak Ciel. "Aku akan mengurus mu nanti" Ancam nya sambil menatap preman itu dengan tatapan penuh amarah.