
Dari informasi yang di terima oleh salah satu anggota OSIS,Ciel memiliki kemampuan memanipulasi/mengendalikan pikiran seseorang.
"Kenapa gua bilang kalau kekuatan nya lebih unggul dari yang lain itu karena dia dapat mengendalikan pikiran siapapun, bahkan kita yang merupakan manusia berkemampuan seperti dirinya juga bisa dia kendalikan." Jelas Kyo
"Tapi tadi dia ngomong sesuatu yang aneh ke gua Kak" Ucap ku
"Aneh bagai mana?" Tanya Kyo menatap ku penasaran.
"Dia ngomong seakan akan pernah deket sama gua. Dia ngomong gini,ternyata kamu masih gak mempan sama kemampuan gua yah Liam. Kek gitu ngomongnya" Jawab ku sambil memegang dagu ku.
"Dia ngomong gitu?, terus Liam siapa?. Nama asli lu?" Tanya Kyo
"Gua juga kagak tau" Jawab ku
"Lu inget inget dulu deh,siapa tau lu pernah ketemu langsung gitu dengannya di suatu tempat terus dia gunain kemampuan nya ke lu tapi gak mempan." Ucap Kyo
"Kayaknya gapernah deh,seinget gua waktu di tempat experiment juga gamungkin. Karna disana ruangan kita dipisah pisah dan gak diperbolehkan bertemu dengan yang lainnya." Jelas ku
"Lu inget masa masa di gedung experiment sampai mana?" Tanya Kyo dengan wajah tak percaya.
"Yah kurang lebih sampai situ,gua juga sedikit inget kalau gua pernah satu ruangan sama seseorang tapi yang jelas itu bukan Kak Ciel" Jawab ku sambil mengingat ingat kembali.
"Stop mengingat sesuatu yang berhubungan dengan tempat experiment Cakkra!,itu bisa saja bikin lu nanti trauma tau" Tegas Kyo
"Tenang ajah kak,gua engga terus terusan inget ko. Kan ngeri anjir" Ucap ku bercanda
"Ada yah manusia kayak lu" Ucap Kyo
"Adalah,kan manusia nya saya. Manusia hasil campur tangan manusia lain dan bahan kimia
(˵ ͡° ͜ʖ ͡°˵)"
Aku dan Kak Kyo bercanda beberapa menit sampai akhirnya ingat kembali ke topik utama pembicaraan kita tadi. Kami pun kembali membahasnya,beberapa informasi yang di dapatkan berupa kehidupan dulu Kak Ciel di ceritakan oleh Kak Kyo secara singkat agar dapat dengan mudah dipahami dan mempersingkat waktu.
Menurut informasi,Kak Ciel tinggal dengan ayah angkatnya pada usia tuju tahun dan di umur itu juga dia masuk sekolah dasar. Dan kabarnya dia sangat berbeda dengan anak-anak pada umumnya,tentu saja itu karna kemampuan nya.
Pada saat menginjak masa SMP dia di angkat menjadi ketua dari preman prema sekitar sekolah berkat kemampuan manipulasi nya,satu persatu pikiran anggota dari preman itu dia manipulasi agar semuanya menganggap dia sebagai ketua dari preman itu.
Setelah memanipulasi semua pikiran, dia pun mengubah status nya dari preman jalanan menjadi suatu komplotan atau kelompok yang memiliki tujuan tertentu. Informasi yang didapatkan baru sampai di situ saja,selebihnya kita hanya perlu menunggu informasi selanjutnya atau menanyakan langsung ke orangnya.
Tentu saja jika menanyainnya langsung akan percuma karna seperti layaknya orang lain,tentu saja kita tidak akan mengatakan masalah pribadi kita ke orang yang tidak kita kenal dan belum bisa kita percaya.
Alasan kami ingin membantu nya adalah agar dia mau menjadi bagian dari OSIS,dan alasan yang lainnya karna kami semua anggota OSIS takut dia berbalik menjadi musuh,sebab ada beberapa orang yang di kabarkan sebagai mata mata di sekolah ini.
Dan orang orang itu merupakan orang yang pandai menghapus jejak aksinya, jadi menemukan siapa saja yang menjadi mata mata tentu saja sedikit sulit. Salah sedikit pasti akan membocorkan informasi terkait semua anggota OSIS.
Sejauh ini para anggota OSIS baru berhasil mengungkap salah satu mata mata di sekolah ini,dan pelakunya adalah guru sejarah yang tahun lalu dipecat karna menjadi mata mata organisasi tersebut.
Sebelum di pecat,pihak sekolah menanyakan beberapa pertanyaan terkait organisasi yang terlibat,tidak ada hasil dari introgasi tersebut karena guru itu hanya mengatakan bahwa dia hanya di suruh oleh sekelompok orang,dengan tawaran uang sebagai jaminan informasi yang dia dapatkan.
"Kau mungkin berfikir kenapa pihak sekolah membantu para manusia berkemampuan" Ucap Kyo
"Tidak juga,tapi kenapa?" Tanya ku
"Itu karena kepala sekolah disini merupakan orang yang dipilih langsung oleh pemerintah untuk mengamankan/melindungi semua anak yang berkemampuan khusus." Jelas Kyo
"Soal itu,katanya ada masyarakat yang tidak sengaja menemukan tempat itu dan melaporkannya ke pihak berwajib karna merasa curiga. Setelah pihak berwajib menyelidikinya,ternyata tempat itu merupakan salah satu tempat experiment ilegal yang sedang mereka selidiki juga"
"Bukankah pemerintah juga mengurus masalah ini?,terus kenapa kita juga harus terlibat?"
"Karena tanpa kemampuan kita,pemerintah juga akan kesulitan mencari buktinya.Dan asal kamu tau,bukan hanya satu tempat experiment,dan dari informasi yang didapatkan sekarang setidaknya sudah ada dua tempat yang berhasil di temukan lagi. Diduga organisasi yang melakukan tindak kejahatan seperti ini itu adalah para mafia"
"Berarti masih banyak orang yang berkemampuan seperti kita juga dong kalau gitu?" Ucap ku sambil mengangguk anggukkan kepala
"Kurasa tidak. Dari hasil tes,di nyatakan bahwa semua anak anak yang berhasil di amankan dari dua gedung experiment tadi,tidak ada satupun yang memiliki kemampuan"
"Apa mungkin tempat experiment itu baru dibuat ,tapi experiment yang sekarang tidak lah berhasil karna hilangnya kunci keberhasilan experiment pertama" Ucap ku
"Bisa jadi, setau gua waktu malam pengepungan,setelah kita yang merupakan objek ujicoba pertama mereka di amankan,gedung tempat experiment nya itu di bakar untuk melenyapkan bahan experiment agar tidak di salah gunakan lagi. Mungkin saja mereka tidak memperhitungkan kalau nantinya mereka ketahuan,jadinya mereka gak buat salinan bahannya" Jelas Kyo
"Untuk sekarang kita hanya perlu fokus ke masalah Ciel dulu,urusan organisasi tato Laba-laba biarkan pemerintah yang mengurusnya. Kita hanya boleh bertindak ketika di perlukan saja" Ucap Sofi.
"Kak Sofi,sejak kapan kakak ada disitu?" Tanya ku
"Sejak kalian serius dengan pembicaraan kalian, sampai lupa kalau masih ada satu makhluk hidup di sekitar kalian." Jawab Sofi sedikit kesal.
"Hehe,maaf kan kami wahai wakatos" Ucap Kyo
Kami akhirnya membahas beberapa rencana untuk membuat Kak Ciel ingin bergabung dengan OSIS, untuk sekarang aku hanya disuruh untuk terus memberikan surat ke Kak Ciel walaupun ujung-ujungnya cuma di sobek. Aku juga di suruh untuk memastikan apakah aku memang benar benar tidak mempan dengan kemampuan yang dimiliki Ciel.
Kak Sofi juga menyarankan ku untuk mencoba membuat kesepakatan dengan Kak Ciel,karna kebetulan Kak Ciel pintar jadinya dia ditunjuk sebagai perwakilan kelasnya dalam perlombaan cerdas cermat di acara ulang tahun sekolah.
Sesuai dengan saran Kak Sofi dan Kak Kyo,aku terus membawakannya surat setiap harinya, dan hari ini merupakan hari ke tiga aku membawakannya.
"Varro!" Panggil ku
"Hah?, apa lagi,masih mau ditemenin ke Kakak Kelas sinting itu?.Udahlah Cak, kalau dia terus terusan nge robek suratnya buat apa di kasih lagi,lagipula suratnya sepenting apasih sampai dia harus ngebaca tu surat?" Tanya Varro sedikit kesal.
"Ini kan amanah Var,sekali kali lu bantuin gua kek,ini yang terakhir deh gua janji" Jawab ku
"Ish,yaudah deh iya,tapi beneran terakhir kan?!" Tanya Varro
"Iya terakhir,buruan ayoo" Ucap ku sambil menarik tangannya.
"Var,Cak. Kalian mau kemana?,gua ikut yah" Ucap Vani
"Mau ke gedung kelas dua,maaf tapi mending gausah ikut deh soalnya gua ada keperluan sama kakak kelas dan orangnya cuma bolehin gua bawa Varro doang" Jawab ku
"Bohong,Cakkra pengen ditemenin ke crush nya" Ucap Varro.
"Jangan di dengerin Van,yaudah gua buru buru nih jadi gua duluan dulu yah.Yok Var" Ucap ku
"Yaudah dah" Balas Vani sedikit cemberut.
Di atas gedung, sekali lagi aku memanggil nama Kak Ciel. Dengan tatapan emosi Kak Ciel turun dari tempat nya dan langsung menggapai kera bajuku. Varro yang melihat itu menggapai tangan Kak Ciel dan menyuruhnya untuk melepaskan genggamannya dari ku.
Kak Ciel menatap penuh emosi ke Varro dan menyuruh Varro untuk pergi dari sini,seketika Varro mengangguk dan pergi meninggalkan ku sesuai yang di perintahkan Kak Ciel. Di atas gedung hanya tersisa aku dan juga Kak Ciel.
Kak Ciel menatap ku dengan tatapan yang sama saat menatap Varro tadi,namun tak terjadi apa apa. Dia sontak tertawa melihat ku menatapnya dengan tatapan yang sama. Setelah puas tertawa, dia kembali meraih kera bajuku dan menanyakan alasan ku terus bersikeras membawakannya surat walaupun aku tau kalau surat itu hannya akan berakhir terkoyak.