Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Sikap yang Tidak Terduga


****


Melihat gadis yang sedang sibuk mondar-mandir itu dari ranjang sudah jadi kebiasaan Reynand selama lebih dari satu bulan ini. Ia akan bangun tatkala terdengar suara percikan air dari kamar mandi dan juga suara lemari pakaian yang dibuka dan ditutup dengan buru-buru.


Siapa lagi pelakunya kalau bukan sang istri yang selalu merasa dikejar-kejar waktu itu.


Dan, juga wangi parfum lembut itu, yang selalu mengusik indera penciumannya.


Lebih dari pada itu, melihat Nayla sesibuk itu selalu membuat semangatnya tumbuh. Pada hal pagi itu tubuhnya masih pegal-pegal karena kegiatannya kemarin. Tapi demi melihat istri tercinta dipagi hari dia pun berusaha untuk membuka matanya.


Menggeliat lalu memanggil sang bidadari dengan manja "Nay...."


Alis Nayla terangkat sebelah. Ia tidak ingin menatap wajah Reynand saat itu. Entah kenapa kilasan kejadian semalam tiba-tiba membuatnya malu. Kilasan saat tiba-tiba dia ditinggalkan tidur saat mereka akan melakukannya itu kembali.


Laki-laki yang baru terbangun itu pun duduk sembari bersender sisi ranjang. Rambutnya acak-acak dengan muka bantal yang diam-diam Nayla lirik masih bisa membuatnya tersipu.


Baru bangun saja ganteng.... suami siapa sih ini.


Nayla kembali berpaling saat merasa tiba-tiba Reynand menatapnya.


Reynand tersenyum sumringah lalu menggeliat. Rasanya ia masih merasa nyeri ditubuhnya. Rasa kantuknya pun masih terasa saat itu. Untung semalam dia mandi dulu sebelum tidur sehingga bisa tidur dengan nyaman.


Saat Nayla beranjak setelah memakai sepatunya. Reynand yang masih menahan kantuk membelalak dan mencoba menghentikannya.


"Tunggu Nay, biar abang anter...."


Nayla mendadak menghentikan langkahnya lalu menoleh. "Nggak usah, abang tidur aja lagi. Kayaknya masih ngantuk."


"Nggak kok Nay...." Tapi menguap.


"Tuh, kan. Abang tuh masih ngantuk. Entar pas dijalan malah ketiduran lagi kayak semalam." Ucapnya dengan wajah datar.


Reynand ingat semalam dia memang ketiduran karena terlalu lelah.


Eh,


Tiba-tiba Reynand ingat sesuatu.


Lalu Reynand mulai menerka "Kamu gak marah?"


Nayla sontak menoleh "Marah kenapa?"


"Gara-gara semalam kita nggak jadi...."


Nayla mengerjap. Tidak jadi apa?


"Maaf ya Nay, semalam abang ketiduran."


Menelisik sejenak "Maksudnya?"


"Semalam kamu tiba-tiba ditinggal tidur. Padahal semalam kita mau...."


Lalu sadar akan maksud ucapan Reynand "S-siapa yang marah...." Sambarnya cepat lalu tersipu. Siapa juga yang marah karena kegagalan semalam. Jangan mengada-ada.


"Nanti malam kita ulang deh...." Menaik turunkan alisnya. Kemudian melempar tatapan aneh.


Nayla mendelik. Ish, kok sikap Reynand tiba-tiba menyebalkan begini.


"Nay...." Laki-laki yang baru turun dari ranjang itu lalu menghampiri dan memeluk Nayla erat. Sontak saja gadis itu merasa kebingungan.


"Nanti nggak bisa jemput kamu, tapi janji nanti abang pulangnya cepetan." Ucapnya dengan nada dibuat-buat manja.


Nayla hanya bisa mengernyit mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Reynand. Ia pun mendorong tubuh itu pelan. Namun mereka kembali merapat karena Reynand menariknya lagi dengan cepat.


"Jadi, nanti jam tujuh malam kamu siap-siap ya. Dandan yang cantik, baju tidur yang kata kamu dibeliin Mami itu mubazir loh Nay kalau gak dipakai."


Ba-baju tidur?


Baik, baik Nayla sepertinya sudah sangat tahu arah pembicaraan ini kemana. Tapi tidak bisakah hal itu dibahas nanti saja. Dia tentunya tidak punya waktu banyak sekarang.


"Kamu pakai yang warna hitam ya, abang suka model yang itu. Kelihatan lebih berani."


Glek! Lebih berani? Ish, Astaga, Nayla tidak habis pikir Reynand bisa mengatakan itu. Lebih berani atau kurang bahan sih lebih tepatnya.


Akhirnya Nayla pun kembali mencoba mendorong tubuh Reynand kali ini dengan lebih kuat. Dia sudah tidak tahan dengan tingkah menyebalkannya ini, lagi pula dia harus bergegas sekarang.


Masih menahan Nayla yang terus berusaha melepas pelukan mereka "Abang penasaran kamu cantik gak sih pakainya."


Cantik? Pakai apa? Baju tidur seksi itu? Ya ampun, jangan-jangan Reynand sudah menghayal yang tidak-tidak, memikirkan kalau dia sedang memakai baju itu.


Tuh, kan dia jadi berpikiran buruk.


"Abang, udah aku mau berangkat." Gadis itu sedikit sesak karena pelukan Reynand yang ia rasa semakin erat. Namun, seperti tidak perduli Reynand malah menekan tubuh mereka untuk semakin rapat.


Nayla mendadak gugup. Ah, jangan-jangan. Ia lalu sedikit mendongak kemudian menatap wajah Reynand dari samping. Dilihatnya wajah yang sedikit terpejam itu seperti sedang menahan sesuatu. Sesekali ia juga mendengar suara desisan ringan.


"Kamu pasti kecewa kan semalam....sshh."


Nayla mengerjap, ia semakin merasakan bagian itu menekannya.


"Sabar ya Nay...."


Ha? Aduh, apa, apanya yang sabar?


Disaat begini masih saja Reynand menuduhnya. Padahal Reynand sendiri yang memulai semalam kenapa dia yang harus dituduh begini. Benar-benar tidak bisa dimengerti. Dan, lihat itu padahal laki -laki ini sendiri yang terlihat seperti sedang menginginkan....


"Kamu jam berapa masuknya? Masih lama gak?" Lalu desisan tertahan itu terdengar lagi


"M-maksudnya?" Sahutnya semakin gugup.


Lalu mendorong tubuh Nayla untuk memberi jarak memandang wajah itu "Gimana kalau kita...." Reynand terlihat menelan ludah, tidak hanya itu jakunnya pun juga naik turun "Kalau kita lakuin itu sebelum kamu berangkat. Kamu mau, kan? Abang cuma mau nebus yang semalam. Biar kamu gak kecewa." Reynand kemudian kembali memejamkan mata setelahnya. Terlihat ia menggigit bibir kuat-kuat seperti menahan sesuatu yang teramat sangat.


Namun kata-kata itu rupanya mampu membuat Nayla semakin membelalak. Apa? Apa tadi katanya? Melakukan itu, sekarang agar dia tidak kecewa? Dasar Reynand gila!


Dan, hei, lagi pula sekarang sudah jam berapa. Dia harus sarapan setelah ini dan....


"Kita lakuin cepat-cepat....oke?"


Apa!? Cepat-cepat?


"Kamu masih punya waktu gak? Kira-kira 15 menit? 20 menit?"


Nayla semakin membelalak tidak percaya. Ia rasa bola matanya akan keluar saat itu juga.


Astaga. Apa benar Reynand ini suaminya? Bisa-bisanya Reynand mengatakan itu disaat dia sudah terlihat rapi begini.


Nayla menggeleng takut, ia gelagapan.


Lalu, karena sudah tidak tahan lagi menahan rasa kesalnya. Ia menyentak tubuh Reynand dengan kuat, hingga terlepas dari pelukan itu.


Bugh!


"Aw...." Reynand meringis kala Nayla memukul perutnya kuat.


"Abang kayaknya memang masih kurang tidur, deh. Mending tidur lagi dari pada tambah ngawur." Ucapnya melotot.


Reynand masih meringis menahan sakit diperutnya. "Nay...."


"Ngeselin tau gak!" Nayla berdecak sebal. Reynand baru saja memfitnahnya soal semalam. Maksudnya dia tidak masalah soal semalam, tapi sikap Reynand yang seolah-olah menganggap kalau ia adalah orang yang paling menginginkannya itu sangat menyebalkan. Dia-nya yang mau tapi malah ia yang disudutkan.


Terus, melakukan dipagi hari ini? Dengan waktu sesingkat itu? Memang bisa? Apa Nayla bisa mempercayainya. Malam itu saja Reynand butuh waktu yang lama sampai benar-benar.... Ah sudahlah.


Kemudian masih mendesis sakit dengan mode dilebaynya.... "Sakit Nay, gimana kalau abang gak bisa gerak lincah? Kamu sendiri nanti yang kasian, gak bisa ngerasain enaknya."


Blush!


Ihh, Dasar! Nayla baru tahu Reynand punya sikap tidak terduga seperti ini.


Nayla sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Wajahnya sudah memanas merah padam. Sumpah ya Reynand kali ini sungguh sangat menyebalkan. Kenapa coba harus membuatnya malu seperti ini.


Terus apa itu tadi? Dia yang marah? Kecewa? Berharap?


Mendengus kesal. Tanpa memperdulikan orang yang sedang kesakitan lebay itu, dengan nafas terengah-engah menahan kesal Nayla langsung membuka pintu kamar dan bergegas keluar.


Sementara Nayla sudah keluar dari kamar Reynand terus berusaha menahan sakit, lebih tepatnya menahan sakit yang tercurahkan.


*


*


*


*


Like, vote, komen!


Maafkan keanehan-keanehan yang terselip didalamnya.


Aku cinta kalian yang setia nungguin cerita ini, apalagi kalau kasih like, vote dan komen.


Buat yang gak suka terserah.... Ehe,


Happy Reading 💋