Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Harus Tenang!


****


Sebenarnya Reynand ingin dirumah saja malam itu. Siang tadi Nayla belum benar-benar memberikan maaf padanya. Salah dia sendiri memang, setelah berjanji untuk tidak menyentuhnya lagi. Dia malah menciumi gadis itu dengan brutal didalam mobil.


Terang saja, gadis itu kembali tersulut amarah olehnya. Seharusnya dia membuat Nayla mereda dulu tadi, sebelum akhirnya melakukan sesuatu.


Seketika lamunannya buyar oleh dering diponselnya.


“Tidak lupa kan malam ini? Buat dia terkesan.”


Reynand membaca pesan diponselnya dengan kesal. Ck, dia sungguh malas melakukan ini. Malam ini dia berjanji kepada Haritano akan makan malam bersama Airin.


~


Saat itu, di Prasaja Group Hotels.


Reynand tidak menyangka kalau Haritano akan menyuruhnya datang ke hotel milik kakeknya sendiri. Ia menyunggingkan senyum tipis saat memasuki bangunan itu.


Tempat itu terlihat begitu mewah, suasannya begitu romantis. Interiornya yang bergaya klasik menambah kesan elegan dan keromantisannya. Disetiap sudut terdapat bunga mawar merah beserta lilin-lilin kecil. Gesekan biola pun terdengar begitu indah ditelinga.


Dimeja yang telah dihias dengan indah itu Airin tengah duduk dengan anggun menunggunya. Gadis itu segera berdiri, tersenyum senang menyambutnya datang.


Reynand benar-benar tidak menyangka Airin akan menyiapkannya semuanya sedemikian rupa.


Tidak bisa dipungkiri gadis itu terlihat cantik malam ini. Gaun merah itu membalut indah dubuhnya yang ramping. Rambutnya yang digelung keatas membuat leher jenjangnya terlihat dengan indah. Riasan diwajahnya tipis, namun tetap terlihat cantik.


Reynand menarik nafas. Dia harus tenang. Hanya satu malam, dia melakukan ini hanya satu malam.


“Rey…” Airin langsung memeluk Reynand erat.


Semakin erat karena Reynand jua membalas pelukannya walaupun terasa kaku.


Reynand dapat mencium parfum lembut itu dengan jelas. Ia memalingkan wajah kala Airin membuat sisi wajah mereka saling berdekatan.


Tatapan mata mereka pun bertemu ketika pelukan itu terlepas.


Reynand baru sadar gadis ini memiliki mata yang begitu indah. Untuk sesaat dia terpukau.


Namun, seketika dia tersadar saat Airin hendak menyentuh wajahnya. Reynand tersentak. Dia menepis tangan gadis itu dengan segera.


Tidak! Dia tidak boleh tergoda. Dia melakukan ini hanya sebagai formalitas.


Akhirnya mereka berdua pun menikmati makan malam. Jujur saja entah kenapa sedari tadi Reynand merasa tidak nyaman.


Dia tahu gadis itu berusaha membicarakan banyak hal padanya. Berusaha keras untuk menarik perhatiannya. Dia pun hanya membalasnya dengan senyuman.


“Rey….” Airin meraih tangan Reynand dan mengenggamnya erat. Tatapan matanya sendu penuh harap. Sepertinya dia tahu laki-laki dihadapannya ini tidak menikmati makan malam bersamanya.


Airin menoleh kearah pemusik seperti mengisyaratkan sesuatu.


“Kamu, mau dansa sama aku.” Tanyanya, kembali dengan tatapan yang sama.


Sungguh demi apa, Reynand tidak terlalu suka dengan yang namanya berdansa. Tapi, mau bagaimana lagi dia harus terpaksa menuruti semua ini.


Pelan-pelan mereka berdiri dan mulai berdansa. Mengiringi alunan musik romantis malam itu.


Airin memeluk tubuhnya erat. Mengunci pergerakannya.


Tak berapa lama gadis itu juga bersandar didadanya.


Reynand tahu ini sudah tidak benar. Airin sudah melewati batas.


Namun, ketika dia hendak menjauh, Airin menahannya.


“Rey, terimakasih ya. Kamu udah bikin aku senang malam ini.terimaksih kamu telah membuat malam ini jadi malam yang spesial buat aku.” Ia melepas pelukannya sejenak, menjauhkan jarak diantara mereka. Airin memandang wajah Reynand dengan lekat.


Tanpa sadar Reynand memejamkan mata saat tangan lentik itu mulai menyusuri wajahnya. Dimulai dari rahang, pipi, alis mata dan sentuhan halus dibibir.


Namun saat terasa benda lembut menempel dibibirnya, Reynand tersentak.


~


Nayla terduduk diatas kasur dengan memeluk kedua lututnya. Sedari tadi dia terus melihat kearah pintu kamar. Berharap ada seseorang yang membukanya.


Kenapa dia jadi seperti ini?


Nayla menunduk dalam. Dia benar-benar menunggu laki-laki itu pulang. Rasanya miris dan menyesakkan. Entah kenapa dia merasa dirinya jadi terlalu banyak berharap.


Ia tidak menyangka kalau dirinya akan menanti kepulangan sosok itu.


Ingatannya kembali pada saat mereka pertama kali dijodohkan. Kala itu dia benar-benar menolak perjodohan ini. Dan orang yang paling dia benci adalah kakek. Dia bahkan menangis tersedu-sedu selama satu minggu kala itu.


Nayla tertawa mengingatnya. Sejak menikah kehidupannya benar-benar berubah. Ketakutan, cemas dan gelisah, semuanya dia rasakan. Dia pikir rasa itu akan hilang seiring berjalannya waktu.


Apa ini?


Dia benar-benar tidak mengerti. Ada apa dengan dirinya. Bahkan dalam sekejap laik-laki itu mampu mengombang-ambingkan perasaannya. Dia bisa marah, senang dan sedih, hanya karena laki-laki itu.


Hidupnya benar-benar tidak setenang dulu. Sebelum menikah dia adalah gadis polos pada umumnya. Yang ia tahu hanya soal belajar dan belajar. Tapi, sekarang semuanya berbeda. Pikirannya terbagi dua. Laki-laki yang menjadi suaminya itu kini selalu mempengaruhi pikirannya, menyetir perasaannya.


Lagi-lagi dia merasa sesak.


Kenapa ya tuhan?


Ada apa dengan dirinya?


Kenapa dia sangat mengharapkannya pulang sekarang?


Dimana dia? Kenapa dia belum juga pulang dan tidak memberikan kabar? Biasanya dia akan menelepon atau mengiriminya pesan kalau tidak akan pulang.


Nayla meremas ponsel ditangannya.


Kenapa dia jadi resah dan gelisah begini? Kenapa dia menjadi begitu gusar? Dia rindu, dia rindu sosok itu. Dia menginginkan sosok itu ada bersamanya sekarang.


Dimana dia?


Apa jangan-jangan dia sedang bersama wanita lain. Ia terisak memikirkan itu.


Dia tidak suka.


Dia tidak suka, jika mendengar Reynand bersama wanita lain.


Tanpa sadar air matanya berlinang. Ia kembali sesak.


Hingga dia tidak sadar kalau diirinya sudah terisak cukup lama.


Beberapa saat kemudian.


Pukul berapa sekarang? Nayla melirik ponselnya, sudah pukul 00:00. Lagi-lagi dia seperti ini. Tidak bisa tidur. Harusnya dia tidak membiarkan laki-laki itu membuang obatnya waktu itu. Mana rasa tanggung jawabnya? Seharusnya laki-laki itu ada disini sekarang.


Nayla mengelus nama pemilik nomor ponsel yang tertera dilayar. Pertanyaan yang selalu sama dia tanyakan berulang-ulang dikepalanya. Tentang dimana, kemana dan dengan siapa dia.


Dia sangat gelisah. Apa dia harus menekan nomor tersebut.


Tapi….


Baiklah, malam ini dia yang akan lebih dahulu menghubunginya. Pelan-pelan dengan rasa gugup dia mulai menyentuh nama itu.


Tersambung!


Gugup-gugup dia berharap sambungannya diangkat.


Tidak ada jawaban!


Nayla menghela nafas, dia mulai merasa kecewa.


Apa dia harus mencobanya lagi?


Dia pun mencobanya sekali lagi.


Benar saja, dia kembali, kecewa. Reynand tidak juga mengangkat panggilannya.


Tidak, dia tidak boleh begini.


Nayla memegangi dadanya yang sesak.


Tenang! Dia harus tenang. Pasti laki-laki itu sedang sibuk. Waktu diapartemen laki-laki itu sering seperti ini. Bahkan pernah tidak pulang sekalipun.


Jadi Nayla, dia harus tenang!


****


Hai Readers! Apa kabar semua?


Selamat menjalankan ibadah puasa, khususnya untuk seluruh umat muslim. Semoga ditengah pandemi Covid-19 ini kita semua masih bisa menjalankan puasa dengan lancar.


Akhirnya minggu ini Author bisa update kembali. Author ragu awalnya apakah bisa update atau tidak, karena jujur ada beberapa kendala.


Namun Author lega. Akhirnya author bisa menyelesaikannya walaupun terburu-buru.


Maaf ya kalau banyak typo, kalimat yang tidak jelas atau semacamnya.


Happy Reading 😘


Terimakasih untuk like dan poin nya☺️