Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
DIHOTEL BERDUA


****


Nayla masih berusaha untuk berpura-pura tidur dan membelakangi Reynand. Namun sudah sekitar 1 jam ia masih juga belum terlelap. Ia pun berbalik menghadap Reynand. Dilihatnya laki-laki itu sudah tertidur rupanya.


Perlahan Nayla beringsut. Ia hendak kabur. Dia tidak percaya jika Reynand mengenal gurunya dan sudah meminta izin atas dirinya. Nayla benar-benar khawatir jikalau saat ini orang-orang sedang sibuk mencarinya. Apa yang akan dipikirkan teman-temannya nanti. Bisa-bisa mereka heboh kalau ia tidak ada dihotel bersama mereka.


Tanganya melambai-lambai didepan wajah Reynand. Memastikan kalau laki-laki itu benar-benar tertidur. Dengan langkah hati-hati Nayla berjalan menuju pintu.


“Mau kemana?”


Langkah Nayla terhenti, ia berbalik. Reynand terbangun rupanya.


“Mau balik ketempat menginap.”


“Masih hujan deras Nayla.”


“Tapi abang. Nanti teman-teman nyariin.”


“Nggak.” Reynand masih bertahan dengan spekulasinya.


“Abang sok tau. Nanti mereka kira Nayla hilang bagaimana?”


“Nggak akan. Sudah sini tidur lagi.”


Nayla berdecak. Ia pun melangkah kembali keranjang dengan wajah cemberut dan kaki yang dihentak-hentakkan kelantai tanda protes.


“Sini.” Reynand menarik tangan Nayla menyuruh gadis itu berbaring disampingnya.


“Nggak mau!”


“Nayla dari tadi kok ngambek terus?” Reynand menarik dirinya untuk lebih dekat dengan Nayla.


“Masih marah gara-gara abang yang gantiin baju kamu.”


“Apaan. Nggak usah dibahas.” Nayla malu sendiri mengingatnya.


“Nay.” Reynand menyibakkan rambut Nayla agar ia bisa melihat wajah cantik gadis itu dengan jelas dari samping. Hatinya sedari tak henti-hentinya berdebar. Berada didekat Nayla dengan cuaca yang dingin karena hujan dan suara halilintar yang terdengar menggelegar membuat hasratnya timbul.


Tak berapa lama, matanya Nayla membelalak dan tubuhnya menjadi tegang. Reynand mengelus tengkuknya. Itu membuat tubuhnya berdesir.


“Abang.” Menjauhkan tangan Reynand dari tubuhnya.


Bukannya berhenti, kini Reynand malah memegangi dagu Nayla dan menghadapkan wajah gadis itu kearahnya. Membuat wajah mereka sangat dekat dan saling bertatapan. Reynand memandangi wajah Nayla begitu lama. Sedikit berpikir sebelum akhinya ia mendaratkan kecupan dibibir Nayla. Seketika Nayla mematung dengan jantung yang berdebar sangat kencang. Sesuatu yang tidak pernah ia duga disaat seperti ni.


Setelah beberapa detik Reynand melepaskan ciumannya. Memandang wajah Nayla kembali. Ia dapat melihat wajah gadis itu penuh ketegangan, bahkan tubuhnya pun membeku.


Perlahan, dengan hati-hati Reynand membaringkan tubuh Nayla diatas kasur. Tidak ada penolakan. Gadis itu terdiam dan hanya menampakkan wajah yang semakin tegang. Menerka-nerka apa yang akan terjadi kepada dirinya setelah ini.


Setelah merasa mendapatkan posisi yang nyaman. Reynand kembali mengecup bibir Nayla. Kali ini cukup lama. Dengan penuh kelembutan ia ******* bibir mungil itu. ia dapat merasakan ketegangan yang dirasakan Nayla. Gadis itu begitu kaku menerima perlakuannya. Apa mungkin ini karena firs kissnya atau apa karena dia terlalu gugup? Namun karena tidak ada perlawanan Reynand semakin leluasan menciuminya. Memeluk tubuh Nayla dengan sangat erat. Sampai tubuh mereka benar-benar Bersatu. Terasa hangat dengan hasrat yang menjalar ditubuh keduanya.


Reynand melepaskan ciumannya. Ia dapat melihat wajah Nayla yang semakin memerah. Reynand menyentuh bibir gadis itu dengan jari jempolnya. Gadis itu belum berpengalaman. Ia dapat merasakannya. Sedari tadi ia hanya menciumi Nayla memasukinya lebih dalam.


“Buka mulutnya.” Suara dan nafas Reynand terdengar begitu berat ditelinga nayla.


“Ha?” Nayla heran dengan mulut yang terbuka.


Dengan cepat Reynand mencium Nayla kemabli. Kali ini ciumannya lebih dalam. Membuat lidahnya dapat bergerak bebas ******* dan memelintir didalam sana.


Lagi-lagi respon yang didapat selalu sama. Tidak ada pergerakan apapun dari Nayla. Gadis itu benar-benar kaku. Ia hanya menerima setiap ******* yang diberikan Reynand. Jadi ini alasan Reynand memintanya untuk membuka mulut.


Nayla semakin tegang kala tangan Reynand mulai menyusup kedalam perutnya. Tangan itu terus menyusurinya. Mengelus-elus perutnya. Ia merasakan sensasi yang berbeda, sesuatu yang belum ia rasakan sebelumnya.


Nayla semakin tersentak kala tangan Reynand sudah berada diatas bu*h d*danya. Ia sedikit was-was.


“Emh, abang.” Nayla melepaskan diri dari ciuman panas Reynand. Wajahnya merah padam. Nafasnya sudah tidak teratur sekarang. Begitu juga dengan Reynand. Laki-laki itu menatapnya dengan sendu.


Reynand menjauhkan tubuhnya dari Nayla. Sepertinya ia sudah terlalu jauh. Hampir saja ia melakukan sesuatu disaat yang tidak tepat. Reynand menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh melakukan hal ini smebarangan. Dia butuh persiapan. Nayla masih sekolah. Reynand tidak ingin membuat gadis itu hamil disaat ia masih sekolah.


“Ya sudah sekarang kamu tidur. Saya akan keluar dulu mencari udara segar.” Reynand pun beranjak keluar dari kamar. Meninggalkan Nayla yang masih merasa kebingungan. Reynand tahu belum saatnya mereka melakukan ini. Setidaknya mereka harus melakukannya saat Nayla benar-benar siap, dan apa mungkin dia harus terus menahan diri?


Yang tidak dia sangka adalah gadis polos seperti Nayla ternyata mampu membuat hatinya menjadi bimbang seperti ini, entah magnet apa yang dimiliki gadis itu untuknya sekarang.