
****
Huh! Kaki Nayla rasanya sangat pegal. Sudah 2 jam dia berkeliling-keliling menemani Mama Adel belanja. Sedari tadi Mama terus menyuruhnya untuk mencoba banyak pakaian dan juga sepatu. Untuk apa juga Mama membelikan dia sebanyak itu. Dia bukan orang yang suka bepergian dengan banyak gaya. Akan sangat mubazir jika barang-barang itu nantinya malah tidak dia pakai.
“Nayla.”
“Iya Ma.” Mencoba tersenyum saat Mama menoleh kebelakang melihat kearahnya.
“Kamu udah capek?”
“Nggak Ma. Aku masih semangat.” Padahal dia sudah tidak sabar tu ingin cepat-cepat pulang kerumah.
Jadi tadi Mama Adel menjemputnya sepulang sekolah dan langsung mengajak berbelanja. Nayla yang sebenarnya tidak hobi melakukan kegiatan tersebut akhirnya terpaksa menuruti karena merasa tidak enak.
“Kita kesana yuk.” Mama berjalan kearah pakaian dalam wanita.
“Sini Nayla.”
Nayla yang sedang duduk beristirahat pun mendekat.
“Ini nanti malam kamu pakai ya. Reynand pasti suka.” Mama memperlihatkan sebuah baju tidur seksi kepada Nayla.
Ha? Apa? Dia harus memakai baju itu dihadapan Reynand. Modelnya, model baju itu sama sekali tidak menarik baginya. Sangat minim, berbahan tipis transparan dan berenda.
“Seharusnya dari dulu Mama mengajak kamu ketoko ini. Tapi ya mau bagaimana lagi. Waktu itu sehabis menikah kalian buru-buru ingin pindah keapartemen.”
Nayla tersenyum tipis. Fokusnya masih kepada baju tidur seksi yang ada dihadapannya.
“Bagaimana kamu mau? Mama yakin Reynand langsung semangat jika melihat kamu memakai baju ini.”
Semangat? Maksud Mama semangat yang bagaimana? Hiiii…. Nayla jadi ngeri sendiri mendengarnya.
“Nayla?”
“Tapi Ma, tadi kan kita sudah beli banyak.”
“Yang tadi itu bajunya beda sayang. Kalu baju yang ini khusus kamu pakai disaat berdua dengan Reynand saja.” Mama mengedipkan mata dan tersenyum penuh arti.
Ya ampun Mamaaaa. Mama kenapa terlalu frontal. Kenapa si harus membuat Nayla malu begitu. Nayla mengernyit memandangi baju tidur itu. Apa si yang sebenarnya dipikirkan oleh Mama.Apa dia benar-benar harus memakai baju tidur itu didepan Reynand? Tidak, tidak Nayla menjadi geli sendiri. Memakai baju itu didepan Reynand? Dia tidak memakai baju itu saja Reynand seolah selau ingin menerkam.
Tapi…. ya sudahlah. Nayla mencoba menerima saja. Iyakan saja apa yang Mama mau. Toh nanti belum tentu juga dia pakai, kan.
Baiklah sedikit demi sedikit sepertinya dia mulai paham. Mungkin Mama berpikir hubungannya dan Reynand sudah seperti yang dia baca diartikel. Hubungan seperti itu pasti diketahui semua oleh orang, kan. Dasar, dianya saja yang kurang pengetahuan selama ini. huh! Sepertinya dia masih harus banyak belajar lagi dari internet.
~
Malam harinya sekitar pukul 08. Reynand yang hendak menuju kamarnya terhenti saat melihat Mama ada dihadapannya. Aura yang sama. Sorot mata Reynand menunjukkan ketidak akraban. Berbanding sekali dengan Mama Adel yang memandangnya penuh kesejukan dan rasa bersalah yang masih terselip dihatinya. Putranya itu, rupanya masih memendam luka. Reynand mau berbicara dengannya saja dia sudah sangat bersyukur.
“Kamu sudah pulang?”
“Hmmm….”
“Iya.” Langsung membuka pintu kamar dan bergegas masuk.
Benar saja, saat itu diatas ranjang Nayla terbaring dengan seragam sekolah masih melekat ditubuhnya. Reynand tersenyum geleng-geleng kepala. Sudah berapa kali ya dia melihat Nayla seperti ini?
Perlahan didekatinya tubuh yang sedang terlelap itu. Sungguh menggemaskan. Nayla tidur layaknya anak kucing.
Reynand membelai-belai rambut Nayla pelan. Tidur yang penuh ketenangan. Dicubit-cubitnya pipi Nayla. Diciuminya rambut yang sedang terurai panjang itu. Wangi, Reynand menghirupnya semakin dalam. Dia pun ikut membaringkan diri disamping Nayla.
“Kenapa kamu tidur seperti ini anak kucing….” Menunjuk-nunjuk pipi Nayla gemas.
Reynand tersenyum. Jari telunjuk terus mengintari bagian wajah Nayla. Mulai dari alis, mata, hidung dan bibir.
Hingga entah sejak kapan bibirnya menempel pada bibir lembut gadis itu. Kemudian mengemutnya perlahan. Sembari mengigit kecil. Hingga mulai terasa gelayar asing pada dirinya. Aksinya terus berlanjut. Tangannya pun ikut bermain melingkar diperut Nayla. Mengelus pelan. Gadis itu sedikit menggeliat kala Reynand mulai mengecupi lehernya. Kembali memberikan gigitan-gigitan kecil dibagian sana.
Reynand terus menggila ia kembali mencium bibir Nayla. Ya tuhan dia kembali lepas kendali. Bagaimana ini? Tapi dia belum ingin menghentikan aksinya. Sampai akhirnya dia merasa benar-benar tidak tahan dan….
“Aaaaaa…. Sakit.” Nayla tiba-tiba terhenyak dan terbangun dari mimpi indahnya.
“Du-uh.” Nayla terduduk dan mengelus bagian lehernya.
Reynand terdiam dan termangu. Dia telah melakukan kesalahan lagi.
“Kamu udah bangun.” Mencoba menenangkan dengan berbasa-basi.
“Abang kenapa si, hah!? Kenapa aku digigit?” Aura seram Nayla tiba-tiba keluar. Membuat Reynand gelagapan seketika. Dia tidak tahu kalau Nayla punya aura tajam seperti ini.
“Nayla maaf. Anu, itu…. tadi, aku…. nggak sengaja.” Reynand jadi terbata-bata.
“Nggak sengaja gimana!? Orang tadi abang gigitnya kuat banget.” Kembali mendengus kesal. Tau lah kan, orang lagi enak-enak tidur mimpi indah terus tiba-tiba terbangun kaget oleh sengatan kumbang berbisa.
Reynand terdiam kembali. Dia kehilangan kata-kata. Ah, kenapa dia bisa khilaf begitu si? Benar-benar bodoh. Dia sudah mengigit dan menghisap leher Nayla cukup kuat rupanya.
Nayla turun dari ranjang. Menghentakkan kakinya keras sebelum akhirnya dia mengambil handuk lalu masuk kekamar mandi. Debuman keras terdengar setelah Nayla menutup pintu. Gadis itu benar-benar kesal.
Reynand memejamkan mata. Dirinya menggeram kesal oleh ulah bodohnya.
Ada apa si dengan dirinya?!
*
*
*
*
*
*