
****
Keesokan harinya sepulang sekolah. Seperti biasa Nayla langsung pulang ke apartemen. Entah kenapa Ia mulai bosan dengan hari-harinya. Terlalu sering sendirian diapartemen membuat Ia tidak bersemangat. Nayla mendudukan dirinya disofa sebentar. Memandangi layar ponsel yang baru saja Ia keluarkan dari tas sekolah. Tidak ada pesan ataupun telepon dari Reynand. Nayla menghela nafas panjang. Dirinya kecewa. Entah kenapa Ia merasa seperti tidak diperhatikan.
Malam itu pun setelah menghabiskan mie instan untuk mengganjal perutnya Nayla langsung kembali kedalam kamar. Ia memang tidak masak karena malas. Keadaan dirinya yang sendirian didalam apartemen menjadi alasannya. Malam itu Ia juga tidak mengajak Suci untuk menemaninya diapartemen, karena kemarin Reynand berkata akan pulang malam ini. Sebenarnya Ia juga agak sedikit was-was bagaimana jika Reynand tidak pulang? Jujur sebenarnya dirinya takut jika hanya berada sendirian pada satu tempat.
Saat itu sudah pukul 12 malam. Belum ada tanda-tanda kepulangan Reynand. Nayla semakin gelisah. Pikirannya pun berkecamuk. Ia benar-benar benci keadaannya saat ini. Keadaan ini membuat Ia histeris sendiri.
Ia memeriksa sisa obat dilacinya. Namun ternyata obatnya habis. Ia pun akhirnya mencoba menunggu lagi sekaligus mencoba untuk memejamkan mata. Sudah hampir 30 menit Ia melakukannya namun belum juga berhasil.
Akhirnya daripada Ia makin stress Nayla memilih mencoba membaca buku untuk membuatnya ngantuk. Ia terus membaca buku sampai matanya lelah. Sampai akhirnya waktu terus berjalan.
Air mata Nayla perlahan mengalir. Ia tidak bisa tidur. Kepalan tangannya berkali-kali Ia hantamkan keatas bantal yang sudah mulai basah oleh air matanya. Ia benci keadaannya yang sekarang. Dia benar-benar ingin segera tertidur. Kalau begini bagaimana Ia menghadapi hari-harinya disekolah esok.
~
Keesokan harinya, Nayla benar-benar merasa lesu dan lelah. Nafasnya terasa lambat. Semalaman suntuk Ia tidak tidur. Seseorang yang Ia harapkan juga tidak kunjung pulang. Ia sangat kesal seharusnya laki-laki itu memberitahu sebelumnya jika tidak pulang. Sehingga setidaknya Ia bisa membuat persiapan untuk mewanti-wanti. Akhirnya karena hal tersebut, jadilah seperti sekarang ini.
Nayla berkaca dicermin. Matanya benar-benar sayu dan wajahnya pucat. Padahal Ia baru sembuh dari sakitnya. Tapi Ia harus mengalami hal seperti ini lagi.
Saat itu Ia sudah siap berangkat sekolah. Sengaja dirinya memilih untuk tidak mandi. Dalam keadaan tidak tidur semalaman Ia tidak bisa menerima guyuran air ditubuhnya, karena terasa sangat dingin.
Disekolah
“Nay, Lo kambuh lagi?” tanya Suci tatkala melihat raut wajah suram sahabatnya yang baru masuk kelas.
“Em.” Menjawab dengan malas. Lalu berjalan dengan langkah gontai menuju bangku paling belakang. Mewanti-wanti jika Ia mendapat serangan kantuk ketika kegiatan belajar sedang berlangsung. Dengan begitu Ia bisa tidur tanpa merusak pemandangan guru yang sedang mengajar.
“Kok bisa?” Suci mendekati Nayla yang telah duduk menyandarkan kepala diatas meja.
“Aku lupa beli obat kemarin.” Menjawab dengan mata terpejam dan suara lirih.
“Lah katanya si Reynand pulang tadi malam?” Sengaja berbisik supaya tidak ada yang mendengar. Ia ingat ketika Nayla mengatakan bahwa Ia bisa tidur dengan nyenyak selama dua malam ketika Reynand memeluknya dikala itu.
"Dia nggak pulang."
~
Saat itu sekitar pukul 6 sore. Reynand sudah pulang dari luar kota. Sebelum nanti malam Ia pergi lagi ke acara talkshow, sepertinya Ia akan kembali dulu keapartemen. Ia perlu mengecek sesuatu. Sebenarnya Ia juga agak merasa bersalah karena lupa mengirim pesan kepada Nayla bahwa Ia tidak jadi pulang tadi malam.
Saat masuk, Reynand langsung menyalakan lampu apartemen. Namun betapa terkejutnya Ia saat melihat Nayla masih dengan memakai seragam lengkap, tas punggung dan sepatu yang masih terpasang dikaki tengah tidur disofa dengan keadaan telungkup.
Dengan segera Ia mendekati gadis itu. Reynand merasai kening Nayla, takutnya gadis itu demam kembali. Namun, tidak terasa panas. Mungkin Ia hanya kelelahan akibat kegiatan sekolah dan ngantuk. Pandangnnya pun berubah menjadi iba. Dirinya merasa bersalah, membiarkan seorang gadis kecil sendirian diapartemen sebesar ini.
Reynand mulai melepas tas punggung dan segera membalik badannya. Gadis itu tidak terganggu dengan perlakuannya. Ia sangat begitu nyenyak.
Reynand pun berniat memindahkan Nayla kedalam kamar. Ia pun segera mengangkat gadis itu dan menggendongnya. Tubuh Nayla yang tidak begitu berat bagi Reynand memudahkannya untuk membawa Nayla kedalam kamar. Direbahkannya tubuh Nayla diatas kasur. Dilepasnya sepatu dan kaos kaki yang masih melekat dikaki gadis itu.
Melihat Nayla masih memakai seragam Ia merasa begitu gerah. Pikiran untuk melepas seragam Nayla dan menggantinya dengan baju biasa terlintas dipikiran Reynand.
Akhirnya dengan beralasan Nayla adalah istrinya Reynand pun mulai melepas pakaian Nayla. Mulai dari dasi yang melingkar dikerah baju, kemudian dengan perlahan mulai membuka kancing baju Nayla. Reynand agak ragu-ragu saat hendak melapskan baju yang kancingnya sudah terlepas semurnya itu. Namun Ia tetap melakukan itu. Jakunnya naik turun saat melakukannya. Baju Nayla hampir terlepas sampai akhirnya terlihat lah tubuh putih mulus dengan masih berbalut thanktop hitam yang sangat kontras dengan kulitnya. Ah, kenapa dia jadi berdebar-debar begini?
Beralih ke rok Nayla. Terlintas dipikiran Reynand apakah gadis itu memakai dalaman dengan benar atau tidak. Perlahan Ia pun juga Mulai menarik resleting rok Nayla. Tiba-tiba gadis itu sedikit menggeliat. Kemudian memutar tubuhnya membelakangi Reynand. Reynand merasa was-was namun untung saja Nayla masih terpejam. Tubuh yang membelakanginya itu malah mempermudahnya untuk membuka resleting Nayla.
Saat rok Nayla terlepas Reynand bersyukur untung saja gadis itu juga mengenakan celana pendek.
Kini Ia harus mengganti pakaian Nayla. Akan sangat tidak nyaman jika gadis itu tidur dalam keadaan seperti itu.
Dicarinya pakaian didalam lemari. Ia mulai melihat satu-satu pakaian itu. Kenapa matanya malah melirik semua pakaian dalam Nayla. Reynand mengutuk dirinya sendiri. Dasar laki-laki menjijikan. Ada apa dengan pikiranmu hah?
“Abang?!”
*
*
*
*