Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Tidak Bisa Dipercaya


****


Kerumuan murid-murid yang menghalangi sekitar pagar membuat Nayla berserta kedua sahabatnya merasa bingung dan keheranan. Murid-murid yang kebanyakan wanita itu terlihat begitu heboh.


“Ada apaan si?” Tia menjinjit mencari tahu.


“Astaga Nay!” Suci berseru sambil menepuk-nepuk pundaknya.


Nayla mengernyit, ada apa?


“Tuh cowok siapa?” Suci menunjuk kearah laki-laki jangkung, berkulit putih, memakai baju kaos dan celana pendek.


Laki-laki itu bersandar pada mobil dengan tangan yang dilipat didadanya. Cahaya matahari yang jatuh kebumi membuat kulit putihnya tambah bersinar. Terang saja banyak yang tidak dapat mengenali laki-laki itu. Dia menutupi wajahnya dengan masker dan kacamata hitam.


“Itu model ya.”


“Artis kali.”


“Badannya bagus tinggi, putih, pasti mukanya juga cakep.”


“Iya, coba aja masker sama kacamatanya dibuka. Penasaran sama mukanya.”


“Dia jerawatan kali.”


Begitulah bisik-bisik para murid perempuan yang terdengar ditelinga Nayla.


Tentu saja melihat hal tersebut membuat dia mengepal tangannya kuat-kuat. Dia tidak perlu bersusah payah untuk mengenali sosok tersebut. Dia tahu betul postur tubuh itu, cara berdirinya dan arah wajah yang langsung tertuju padanya.


Tebakannya pasti tidak salah lagi.


“Cepat masuk mobil. Abang kepanasan nih.”


Nayla membaca pesan diponselnya dengan kesal. Salah siapa berjemur disiang hari dengan baju dan celana pendek begitu.


Sengaja! Mau pamer body gitu?


“Cepat masuk, atau abang buka masker sama kacamata, ni. Terus bilang sama semua orang, kalau abang lagi jemput istri yang lagi ngambek.”


Pesan bernada ancaman itu kembali membuat Nayla semakin tersulut emosi.


Benar-benar! Dia tidak menyangka Reynand akan melakukan hal seperti ini.


Akhirnya dari pada terjadi hal yang tidak diinginkan, orang-orang akan tahu kalau dia sudah menikah, misalnya. Diam-diam Nayla meninggalkan kedua sahabatnya untuk menuruti apa kata sang suami.


Duh, suami.


Dia pun mengendap-endap melewati kerumunan itu dari belakang dengan hati-hati. Kemudian berjalan memutar untuk masuk lewat pintu mobil sebelahnya.


Celingak-celinguk sebelum akhrirnya dia memasuki mobil itu.


Tok! Tok! Reynand langsung terperanjat saat mendengar suara ketukan kaca dari dalam mobilnya.


Senyumannya mengembang pada sosok yang sedang duduk dikursi kemudi. Gadis itu memandangnya dengan raut wajah galak. Dalam hati dia tergelak, dia suka melihat wajah galak itu. Ingin sekali dia mencubit pipinya sekarang.


“Kenapa si cemberut terus?”


Gadis itu bergeming. Ia langsung menepis tangan Reynand yang hendak menyentuh wajahnya.


Dasar tidak tahu malu, tidak sadar apa yang telah dia perbuatnya semalam.


“Nay, pindah sini dong, abang kan mau nyetir. Atau, kamu aja yang nyetir.” Ia masih bisa bercanda, sementara gadis yang sedang duduk dikursi kemudi itu terus memandangnya dengan penuh emosi.


“Mendingan abang pulang sekarang.” Ucapnya dengan dada naik turun menahan kesal.


“Ya, kita kan, memang mau pulang.” Sahut Reynand santai. Ia kembali tersenyum. Gadis ini semakin galak rupanya semakin menggemaskan.


“Nggak mau! Abang aja yang pulang. Aku ada janji sama temen aku.”


Nayla kembali menepis tangan Reynand yang hendak menyentuhnya.


Reynand menghela nafas. Baiklah, amarah gadis itu padanya belum juga padam.


“Nay, soal semalam, nanti akan abang jelasin dirumah. Oke? Kamu salah faham.”


“Siapa yang salah paham? Aku nggak perduli!” Ucapnya memalingkan wajah.


Hm.. Ini ni, yang membuat Reynand yakin kalau gadis itu memang marah padanya karena kesalahpahaman tadi malam. Dia dapat melihat dengan jelas kalau Nayla itu sedang cemburu.


Iya kan? Gadis itu cemburu. Apalagi coba kalau bukan cemburu?


“Ya sudah, terus kamu kenapa jadi seperti ini?”


Nayla kembali memalingkan wajahnya dia tidak ingin menjawab itu.


Huh! Reynand menghela nafas. Wanita itu memang sudah ditebak. Ditanya tidak mau jawab, giliran diabaikan malah tambah marah.


“Ya udah kalau begitu kita pulang.” Ucapnya hati-hati. “Pindah sini, abang mau nyetir.”


“Aku ngak mau pulang!” Ucapnya tanpa menatap Reynand.


Seiring dengan helaan nafasnya Reynand pun beranjak hendak mengangkat tubuh Nayla berpindah kekursi penumpang. Namun, seketika itu juga dering ponsel Nayla berbunyi, sehingga dia pun menghentikan tindakannya.


“Halo, iya Rik.”


Hening sejenak, sepertinya orang diseberang sedang berbicara.


“Em….” Nayla melirik Reynand sebelum dia meneruskan ucapannya. “Kayak hari ini gue nggak bisa.”


“Siapa?” Tanya Reynand tiba-tiba.


Nayla mendorong Reynand yang mencoba menguping pembicaraannya.


“Siapa itu? Cewek apa cowok.” Reynand mencoba menguping kembali.


Nayla mulai gusar. Dasar! Benar-benar membuat kesal.


Ah, tiba-tiba ia memasang seringai diwajahnya.


“Iya Rik, kamu mau jalan sama aku.” Nayla memulai pembicaraan yang tidak nyambung dengan Riko yang diseberang.


“Mau ngajak aku jalan kemana?” Ucapnya sok antusias.


Ini, dia sengaja ini.


“Apa, kencan!” Ekspresinya mulai berlebihan.


“Nay, siapa itu!?” Reynand mulai menegang, namun masih dengan gaya yang sok santai.


“Iya aku, mau kok kencan sama kamu.” Idih, sejak kapan dia memanggil Riko ‘kamu’. Tapi tidak apa-apa dia memang sengaja melakukan itu. Memang laki-laki disampingya ini saja bisa pamer mesra dengan wanita lain.


“Iya deh, nanti kamu atur jadwalnya ya.”


Oke, Reynand mulai gusar. Dia tidak suka melihat ini. Dengan cepat dia pun menyambar ponsel Nayla dan memutus panggilannya.


Lihat, lihat, laki-laki itu. Huh! Raut wajahnya sangat terlihat tidak suka. Nayla suka senang sekali melihat ini. Ya ampun, kenapa dia seperti balas dendam begini ya. Hahaha, dalam hati ingin sekali dia tertawa selebar mungkin. Hatinya merasa puas.


“Kamu mau jalan sama siapa?”


“Ada dong. Kepo!” Jawabnya ketus.


“Jangan jalan sama sembarangan orang.”


“Biarin!" Nayla melipat kedua tangannya, memalingkan wajah.


Reynand mengehela nafas lebih berat. Tidak akan selesai kalau terus meladeni Nayla. Walaupun rasa penasarannya belum hilang.


“Ya sudah, cepat pindah sini. Kita pulang sekarang.”


Entah kenapa Nayla belum bisa menghilangkan rasa emosinya. Reynand benar-benar tidak peka. Dia butuh penjelasan itu sekarang.


Namun, ketika dia beranjak hendak keluar dari mobil, secepat itu pula Reynand mengunci pintu mobilnya.


“Abang minta maaf….” Ucapnya tulus.


Hati Nayla luluh seketika. Cih, gampang sekalinya hatinya mencair.


“Kata Mama kamu mendengar percakapan itu tadi malam.”


“Nayla, kamu salah paham. Dia seseorang yang abang kenal, satu minggu yang lalu dia baru pindah berdekatan dengan apartemen kita.”


Melihat Nayla yang masih tidak menatapnya, Reynand pun dengan terpaksa menjelaskan apa yang terjadi tadi malam.


Setelah Reynand terus berusaha meyakinkannya. Gadis itu pun sedikit melunak. Ia merasa kalau Reynandn memang jujur saat itu.


“Tapi, abang juga minta maaf soal.... ehm, abang janji tidak akan menyentuh kamu lagi.”


Tidak akan menyentuh lagi!?


Hmmm….


Untuk yang satu ini jujur, Nayla sangat ragu. Tidak akan menyentuh katanya?


Wah!


Apakah dia harus mempercayai itu. Nayla menyeringai tipis. Menelisik dengan seksama wajah sok bersalah dihadapannya itu.


“Nay, Maaf ya.” Tatapnya penuh penyesalan.


Oke! Kita lihat apakah benar laki-laki ini tidak akan menyentuhnya sedikit pun.


Belum beberapa detik, lihat raut wajahnya mulai berubah. Dia sangat hapal apa yang diinginkannya dengan raut wajah itu.


Satu.


Lihat, tangannya mulai mendekat.


Dua.


Tangan itu mulai menyentuh wajahnya.


Tiga.


Reynand langsung menarik Nayla kedalam dekapannya. Ia jelas baru saja melanggar ucapan yang baru saja dia katakan.


Ini yang dinamakan tidak akan menyentuh, katanya? Benar-benar tidak bisa dipercaya.


Menyentuh yang bagaimana si maksud laki-laki ini?


*


*


*


*


*


*