
Pagi ini aku berangkat ke sekolah sendirian karena Alisa sedang tidak enak badan. Aku berjalan menyusuri trotoar sambil bernyanyi kecil agar tidak bosan.
"Huu.... sepi banget gak ada Alisa. Biasanya kan kami jalan berdua".Keluhku sambil terus berjalan. Tidak terasa aku sudah sampai di depan gerbang sekolah, aku berjalan menuju ke ruang kelas, disana sudah ada Adi si ketua kelas yang nyebelin pake banget.
" Selamat pagi Alen".Sapanya dengan wajah yang entah sedang meledek atau benar- benar ikhlas menyapa.
"Iya".Jawabku singkat. Adi yang mendengar jawabanku tidak bicara lagi. Yah memang akhir-akhir ini semenjak ada adik kelas Adi tidak pernah lagi menggangguku, mungkin dia sudah berpacaran dengan salah satu adkel atau karena alasan lain. Tapi lebih baik begitu daripada dia terus menggangguku. Lagipula kalau dia punya pacar tidak ada hubungannya denganku.
Akhirnya jam pelajaran pertama pun dimulai, hari ini tidak terlalu membosankan karena mata pelajaran bahasa Inggris yang merupakan mapel kesukaanku. Selain itu, gurunya juga tergolong sangat asik dan tidak membuatku mengantuk saat dia menjelaskan materi tidak seperti guru-guru lainnya.
Kringggg..... bel istirahat berbunyi semua siswa berhamburan keluar dari kelas untuk melakukan aktivitas mmasing-masing sepanjang jam istirahat. Aku berjalan keluar dari ruang kelas menuju ke taman
" Kak Alen!!! ".Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke sumber suara itu. Ternyata Miko adik kelasku. Aku tau namanya karena kemarin dia sempat meminta nomor whatsapp ku.
" Iya ada apa Miko? "tnyaku.
" Itu kak dipanggil Jen".jawab Miko sambil menunjuk ke arah Jen yang sedang asik dengan teman-temannya. Mendengar namanya disebut Jen langsung menoleh.
"Ada apa manggil gue? " Tanyaku kepada mereka.
"Ini kak, si Tono katanya mau minta nomer kakak".Kata Jen menunjuk teman yang ada di sampingnya. Tono yang tadi sedang asik dengan handphone nya mendengar namanya disebut langsung mengelak.
" Lah? kok jadi gue? Kan lo Jen yang nyuruh Miko manggil kak Alen ".elak Tono.
" Kan lo yang mau minta nomernya, gue sebagai teman yah pasti bantu lah makanya gue nyuruh Miko buat manggil, gimana sih Ton".Jen tidak mau kalah.
"Udah-udah kok jadi debat sih. Sini handphonenya".Aku mengambil handphone Tono lalu mengetikkan nomerku lalu mengembalikan handphonenya. Setelah itu, aku pamit kepada mereka untuk kembali ke kelas. Aku menoleh ke arah Jen lalu dia senyum padaku. Entah kenapa tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda dari diriku setiap kali melihat Jen tersenyum kepadaku. Aku berjalan meninggalkan mereka menuju ke ruang kelas dengan perasaan yang amburadur, antara salting dan juga perasaan tidak percaya. Salting karena senyuman Jen dan perasaan tidak percaya karena selama ini aku tidak pernah salting saat ada yang senyum kepadaku. " Elo kenapa sih AlenJen senyum itu karena dia ngehargain lo sebagai kakelnya, bukan karena dia suka sama lo. Pokoknya lo gak boleh naksir sama dia, inget jangan mau disakitin lagi ama cowok".Aku mencoba meyakinkan diriku agar tidak terlalu berharap. Sesampainya di kelas belum ada orang, aku duduk seraya mengeluarkan komik dari tasku yang kemarin sempat ku pinjam di perpusatakaan lalu mulai membacanya agar tidak terlalu memikirkan persoalan tadi.
Kringgggg.... Bel pulang berbunyi, hari ini siswa dipulangkan lebih awal karena para guru sedang ada rapat. Aku berjalan keluar meninggalkan kelas, tiba di gerbang sekolah aku berpapasan dengan Jen.
" Hati-hati di jalan, kak Alen".Katanya sambil tersenyum. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, ini seperti mimpi tapi ini adalah kenyataan. Aku cuma bisa membalas perkataan Jen dengan senyuman lalu melanjutkan perjalanan pulang. Rasanya ingin cepat sampai di rumah agar bisa menceritakan momen baik ini kepada Alisa.