
Keesokan harinya, perasaan Sherin benar-benar sedikit lega karena Mamanya sudah sadar. Semalaman, dia tidak pernah sedikitpun beranjak dari sisi Pamela. Dia terus menemani Mamanya tanpa merasa lelah sama sekali.
Seburuk apapun sifat Pamela, tapi Sherin tetap menyayanginya. Apapun yang dilakukan Mamanya itu, mungkin juga untuk kebaikannya di masa depan, meski terkadang caranya yang salah. Jadi, mana bisa Sherin merasa tenang jika melihat Mamanya terbaring tak berdaya seperti itu. Dia bahkan tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau dia kehilangan Pamela.
Sherin menoleh ke arah pintu, di...