Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Dovan dan Jia berulah


Selesai memakan roti tiba - tiba saja Lily ingin perutnya diusap. Tapi dia ragu untuk minta ke Sean dan di sisi lain jika dia usap perutnya dengan tangan dia sendiri pasti ada sesuatu yang berbeda.


"Sean! Boleh tidak kamu usap perutku?" pinta Lily dengan polosnya.


Sontak saja Sean langsung tersedak minuman. Dia harus berpikir dua kali saat akan menyentuh salah satu bagian tubuh kakak iparnya. Karena jika Sean menyentuh sedikit saja kakak iparnya bayarannya adalah tangannya.


"Maaf kak! Aku tidak bisa! Aku masih sayang tanganku!" jawab Sean dengan penuh ketakutan.


"Kok tidak bisa?! Aku mau perutku diusap sama kamu sekarang juga! Edward tidak ada disini terus sama siapa aku minta?!" tanya Lily yang merasa tidak terima dengan jawaban Sean.


"Tidak bisa kak! Kak Edward akan menghukumku kalau aku tahu menyentuhmu" jawab Sean yang menjelaskan sedikit alasan dia menolak permintaan Lily.


"Akhhh!!!... Pokoknya aku mau kamu usap perut aku! Isshhh!!! Maunya kamu! Kamu!" rengek Lily seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.


"Iya! Iya! Aku usap! Tapi beritahu kak Edward dulu,ya?" Sean segera merogoh saku celananya dan segera menghubungi kakaknya.


Sean menghubungi Edward melalui panggilan telepon. Edward memang agak lama menjawab panggilan orang lain kecuali istrinya. Setelah lima menit barulah Edward menjawab.


"Halo kak Edward!".


"Kenapa? Apa istriku bersamamu?".


"Iya kak Lily bersamaku!".


"Katakan apa tujuanmu menelponku".


"Kak Lily ingin perutnya diusap dengan tanganku,aku sudah menjelaskannya dari tadi tapi kak Lily merengek minta aku yang mengusap perutnya".


"AKU MAU SEAN MENGUSAP PERUTKU! WUAHHHH!!!... SAYANG BIARKAN SEAN MENGUSAP PERUTKU!" ini suara Lily menangis.


"Berikan ponselmu kepada kakak iparmu".


Sean memberikan ponselnya kepada Lily. Edward mulai mengatakan sesuatu melalui panggilan telepon.


"Halo baby!".


"Sayang! Biarkan Sean mengusap perutku! Aku tidak tahan dari tadi!".


"Sama aku saja,ya? Nanti aku ke kampus".


"Tidak mau! Maunya tangan Sean!".


Edward memijat pelipisnya mendengar keinginan istrinya. Tidak punya pilihan lain Edward menyetujui permintaan Lily.


"Iya boleh deh Sean usap perut baby".


"Kenapa nada bicaramu seperti tidak ikhlas saja? Apa kamu tidak ikhlas?".


"Tidak baby! Aku ikhlas! Sudah itu saja berikan ponselnya kepada Sean,love you baby♡~".


Lily memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya. Sean memegang ponselnya dengan tangan gemetar kemudian memberanikan diri berbicara dengan kakaknya.


"Usap perutnya! Pokoknya permintaan apapun yang dia minta harus lapor sama aku,apa kau ingat?!".


"Iya kak! Aku ingat!".


"Bagus! Ingat jangan modus!".


Edward mematikan panggilan teleponnya. Setelah mendapatkan izin, Sean mulai mengusap perut Lily. Ibu hamil itu bisa merasakan kenyaman melalui tangan Sean.


"Makasi Sean" ucap Lily dengan penuh senyuman.


"Hehehe... Sama - sama kak! Lain kali kalau mau usap perut minta sama kak Edward saja" jawab Sean yang masih ketakutan.


Lily hanya tertawa kecil saja mendengar ucapan Sean. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang namun belum ada yang datang selain mereka berdua. Lily yang merasa sudah puas diusap meminta Sean menghentikan aksinya. Dengan senang hati Sean menghentikan aksinya mengusap perut Lily.


"Permisi Guysss!!! Orang ganteng mau lewat!" teriak Dovan yang membuka pintu gedung olahraga.


"Hueekkk... Orang ganteng! Cuih!" Kevin menanggapi ucapan Dovan dengan perasaan jijik.


"Hei tidak baik berkata seperti itu! Harusnya seperti ini "iuhhh!!!" hahahaha" Jian ikut menanggapi ucapan Dovan barusan.


"Ada apa dengan kalian berdua sih?! Kenapa jawabannya seperti itu?! iuhhh gelayyy~... Hahahahaha...." Dovan sedikit mengubah nada bicaranya seperti seorang wanita lalu diakhiri gelak tawanya.


Kevin dan Jia ikut tertawa melihat tingkah Dovan yang agak slayyy. Dovan mengarahkan pandangannya ke depan lalu mendapati Sean dan Lily sedang duduk bersebelahan. Tiba - tiba muncul ide jail di otak Dovan. Tangannya mengambil spidol hitam dari saku bajunya kemudian menuliskan sesuatu di bola basket yang ia bawa. Kemudian ia lempar ke Sean.


Syukurnya Sean berhasil menangkap bola tersebut. Saat Sean memutar bola tersebut dia melihat tulisan Dovan yang bertuliskan


"Mau pacaran sama aku tidak kak Sean? Muachhh👄


Salam dari Dovi".


Sean menggenggam erat bola tersebut lalu melempar bola basket itu ke arah Dovan dengan lebih kuat. Dovan berhasil menghindari lemparan tersebut kemudian mentertawakan Sean tapi ada dua temannya di belakang yang berhasil menangkap bola tersebut. Jia melempar bola tersebut sampai mengenai kepala Dovan.


"Aduh! Woi! Kenapa kalian lemparnya kepadaku?!" Dovan memegangi kepalanya yang terkena bola.


"Aku hanya membantu kapten dan membantumu menghilangkan aura boti yang ada di dalam otakmu itu,hahahaha..." Jia mengakhiri ucapannya dengan gelak tawa.


Semuanya langsung tertawa mendengar ucapan Jia kecuali Dovan. Beberapa menit kemudian yang lain berdatangan dan memulai latihan siang hari.


Tenang guys Dovan sama Jia lurus kok


Makasi yang sudah mampir dan baca


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>