
UNTUK PARA READERS SILAKAN MEMBACA CHAPTER YANG KEMAREN BAGI YANG BELUM DIKARENAKAN AUTHOR MELAKUKAN SEDIKIT REVISI TADI, TERIMA KASIH
Keesokannya Edward mengantar Lily ke kampus seperti biasa. Tapi ada yang membuat Lily malas ke kampus yaitu kelasnya sampai pukul lima sore. Edward sudah meyakinkan Lily kalau kelasnya nanti tidak akan membosankan jadi bersenang - senanglah. Sayangnya usaha Edward belum membuahkan hasil sama sekali kondisi Lily masih sama.
Mobil Edward sudah berhenti di depan gerbang kampus tapi Lily tidak mau turun. Edward sudah menggunakan segala cara yang bisa membujuk Lily tapi tetap saja Lilynya tidak mau.
"Baby ke kampus dulu,ya? Kan ada Pinpin sama Yuri yang nemenin nanti" bujuk Edward dengan usaha terakhirnya.
"Tidak!" jawab Lily dengan singkat dan agak ketus.
Edward berusaha sabar mengingat istrinya sedang hamil. Dia kembali membujuk istrinya dengan usaha yang masih dia miliki.
"Kenapa baby tidak mau ke kampus? Apa ada yang mengganggu,baby?".
"Tidak ada! Aku memang tidak mau ke kampus bolos,ya?".
"Tidak boleh baby! Pinpin penasaran dengan suasana kampus makanya baby harus ke kampus".
"Dibilangin tidak ya tidak! Kenapa kamu maksa sekali?! Aku mau ke kampus atau tidak itu urusanku!".
"Ayolah baby! Ini demi masa depanmu supaya ada ilmu yang kau wariskan nanti ke Pinpin".
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku maunya di rumah aja! Kenapa kamu maksa sekali?! Mau mengusirku,ya?! Supaya kamu dapat bermesraan dengan selingkuhanmu di kantor,ya?!".
Edward tiba - tiba terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Lily. Padahal niat Edward hanyalah mengantar Lily ke kampus kemudian melanjutkan rapat pentingnya di kantor tapi karena sang istri, Edward harus terlambat beberapa menit. Lily menatap tajam sang suami.
"Aku tidak punya siapa pun di kantor, lagipula aku sudah menikah dan yang aku nikahi adalah seorang wanita yang sempurna di dunia ini,kenapa aku harus mencari yang lain?" jawab Edward panjang lebar dan sangat jelas.
Lily terdiam mendengar penjelasan Edward. Akhirnya Lily memiliki niat untuk ke kampus. Namun,tidak segampang itu ada syarat yang harus dilaksanakan oleh sang suami.
"Oke aku pergi ke kampus tapi syaratnya adalah selesai jam pelajaran aku akan mengirim pesan chat padamu dan itu harus dibalas kalau tidak aku bolos kelas nanti".
"Tidak apa - apa telat beberapa menit,ya? Karena aku memiliki rapat penting".
"Ya sudah kalau begitu aku tidak jadi---..."
"Iya! Iya! Aku balas chat baby tepat waktu! Sekarang kuliah yang benar nanti sore aku jemput".
Lily bertepuk tangan kecil mendengar jawaban Edward. Gadis Lawrence tersebut menenteng tas kemudian memberikan ciuman di dahi,pipu kanan kiri,dan terakhir di bibir. Edward tersenyum melihat sang istri pergi kuliah dengan semangat ceria. Mobil Edward melaju meninggalkan kampus Lily lalu menuju kantornya.
Lily berjalan santai ke kelasnya tapi dengan hati - hati agar si janin tidak terganggu. Tiba - tiba saja terjadi keributan di tengah lapangan kampus. Semua orang berlari mendekati keributan tersebut. Banyak orang yang menyenggol Lily kesana kemari dan hampir membuat bumil tersebut jatuh. Untungnya ada Sean yang datang dengan cepatnya langsung menangkap Lily.
"Makasi Sean" ucap Lily yang terkejut melihat kehadiran Sean.
"Sama - sama kak Lily" jawab Sean yang membantu Lily berdiri.
"Ada apa itu,sayang? Kenapa semuanya berkerumun disana?" tanya Lola yang muncul di sebelah Sean dan mempertanyakan keributan tersebut.
"Entahlah! Ayo kita lihat sayang!" Sean menarik tangan Lola untuk melihat keributan tersebut.
"ASTAGA! LIHAT DIA! YA AMPUN DIA BERDARAH!" teriak salah satu mahasiswi yang menunjuk ke arah keributan tersebut.
Semua mata langsung tertuju pada keributan tersebut. Tidak dengan Lily yang masih dengan sangat hati - hati menjaga janinnya. Sampai pada akhirnya Lily bertemu Yuri yang juga menonton keributan tersebut.
"Yuri!" panggil Lily yang berjalan menghampiri Yuri.
"Oh Lily! Ayo sini cepat!" balas Yuri yang menarik tangan Lily dengan buru - buru.
Yuri mengajak Lily menonton keributan yang terjadi tersebut. Ternyata keributan tersebut merupakan sebuah perkelahian antar mahasiswa teknik dan mahasiswa ekonomi. Mereka berkelahi gara - gara salah satu anak mahasiswa teknik dibully oleh mahasiswa ekonomi hingga masuk rumah sakit.
Dua mahasiswa tersebut masih melanjutkan adu tojosnya. Tidak ada satu pun mahasiswa atau mahasiswi yang menghentikan perkelahian tersebut walaupun diantara mereka sudah ada yang mengeluarkan darah. Mahasiswa ekonomi tersebut sudah mengeluarkan banyak darah sampai tidak kuat berdiri. Suara sorak kemenangan muncul di kubu mahasiswa fakultas teknik.
Lily yang melihat perkelahian tersebut tiba - tiba merasa lemas. Yuri yang menyadari hal tersebut segera memapah temannya kemudian membawanya ke ruang UKS.
Perkelahian tersebut akhirnya terhenti karena semua dosen langsung turun tangan menangani masalah tersebut. Dengan cepatnya kerumunan orang - orang tersebut bubar. Salah satu dosen membawa mahasiswa yang memukul tadi dibawa ke ruang rektor. Untuk mahasiswa ekonomi yang sudah terkapar lemas tidak dibawa sama sekali oleh pihak dosen ataupun teman - temannya.
Untungnya ada anak orang kaya yang baik hati yaitu Sean. Kapten tim basket tersebut membawa mahasiswa tersebut ke ruang UKS bersama Lola. Semua wanita disana terpukau melihat kejantanan Sean yang sigap membantu.
"Jangan terlalu kepedean! Sean hanya milikku saja!" tegas Lola dihadapan para mahasiswi.
...****************...
Di ruang UKS masih ada Lily yang memeriksa kesehatannya ditemani oleh Yuri. Dokter yang ada disana mengecek dada dan denyut nadi Lily.
"Apa kau sedang berisi?" tanya dokter tersebut yang dengan hebatnya bisa mengetahui kehamilan Lily.
"Kenapa dokter bisa tahu? Apakah dokter punya mata tembus pandang?" Lily mulai khawatir dengan keadaannya sekarang.
"Tentu saja saya tahu! Saya kan dokter! Besok sebaiknya jangan terlalu dekat dengan kerumunan dan saya sarankan untuk makan dan minum yang teratur,sudah itu saja kalian boleh pergi" ucap dokter yang mempersilakan Lily dan Yuri pergi.
Yuri sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Dia tidak menyangka dirinya akan menjadi seorang bibi. Lily mengusap - usap perutnya agar merasa lebih tenang.
"Kenapa kau tidak memberitahuku tentang kabar membahagiakan ini?" tanya Yuri yang masih terkejut.
"Hehe... Maaf ya masalahnya suamiku memintaku untuk merahasiakannya dulu tapi karena kau sudah mengetahuinya tolong jaga sebar kemana - mana" jawab Lily dengan malu - malu.
"Tenang saja Lily! Rahasiamu aman bersamaku! Sekarang aku mengantarmu sampai ke kelas dengan selamat, ayo pegang tanganku!" Yuri langsung menggenggam tangan ibu hamil tersebut agar merasa lebih baik.
Lily merasa sangat senang saat dirinya diantar oleh Yuri sampai ke kelas. Di depan kelas Lily, Yuri mengingatkan Lily dengan kondisi dia sekarang jadi harus lebih berhati - hati. Lily melambaikan tangannya kepada Yuri saat temannya menjauh dari kelas. Dengan santainya Lily masuk kelasnya dengan senyuman manis.
UNTUK PARA READERS HARI INI SPESIAL DOUBLE UPDATE NANTIKAN YA GUYS.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>