Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Insecure?


Dua pria itu sudah selesai memesan makanan dan segera membawanya ke meja yang ditempati para kekasihnya. Wajah Edward tampak sangat murung karena terlalu lama menunggu sehingga ia takut kalau mood istrinya akan berubah.


Tapi saat makanan sudah sampai di atas meja, Lily tidak mengalami mood swing. Edward sangat bersyukur Lily masih mau menerima makanan tersebut. Lily memakan makanannya dengan penuh suka cita begitu juga dengan Yuri.


"Eh Lily! Apa kau ikut festival kebudayaan itu? Kalau aku hanya sebagai penikmat saja" Yuri menepuk pelan bahu Lily.


"Kalau aku ikut sih begitu juga dengan klubku,kita akan menjadi band musik" Lily mengangkat kedua tangannya kemudian kembali memakan makanannya.


"Wahhh..... Pasti seru! Aku tidak sabar menantikan band andalanmu".


"Sabar ya tinggal beberapa hari lagi".


Mereka berdua terus melanjutkan pembicaraan dan mengabaikan dua pria yang duduk di sebelah mereka. Max merasa tidak terima dirinya diabaikan langsung saja menarik perhatian Yuri dengan cara mencuri sedikit makanannya.


"Pak Max! Kenapa makananku dicuri?! Ishhh!" protes Yuri yang menoleh ke arah Max.


"Aku penasaran makanya aku mencurinya" jawab Max sambil mengunyah hasil curiannya.


"Kan bisa aja minta dari pada nyuri".


"Ya kamunya ngomong terus sama Lily terus akunya dianggurin".


Yuri kembali ke makanannya dengan membuat wajah murung. Edward tersenyum miring melihat cara yang digunakan kepada Yuri gagal. Sekarang giliran dia menarik perhatian Lily.


"Baby".


"Hm? Kenapa?".


"Bisa suapin aku tidak? Suapi aku makananmu itu".


"Tidak boleh! Ini punyaku! Sana suap diri sendiri,hm!".


Lily buang muka dan Edward terkejut melihat reaksi istrinya. Sekarang giliran Max yang menertawakan kegagalan Edward.


"Hahahah.... Kasihan deh" ejek Max melalui sorot matanya.


"Heh! Anda seharusnya bercermin dulu baru mengejek orang" Edward membalasnya dengan tatapan tajam.


Mereka berempat tetap melanjutkan memakan makanannya. Setelah semua habis mereka berempat berpisah kecuali Edward dan Lily. Mereka berdua kembali menuju gedung olahraga tetapi tiba - tiba saja Lily merasa ingin digendong.


Lily malu untuk memintanya karena dia masih ada di area kampus. Melihat gedung olahraga yang tidak jauh dari lokasi dia sekarang, Lily langsung menarik tangan Edward kemudian berlari menuju gedung olahraga.


Mereka berdua telah sampai di depan gedung tetapi belum masuk. Disini barulah Lily mengucapkan keinginannya.


"Sayang~....".


"Kenapa baby?".


Lily merentangkan kedua tangannya dan Edward bisa membaca maksud Lily. Edward langsung menggendong Lily dengan gaya bridal. Ibu hamil sangat senang keinginannya telah dikabulkan.


Edward berjalan masuk ke gedung olahraga dan orang - orang yang di dalam hanya pura - pura tidak melihat pasangan tersebut. Sean berusaha menahan jiwa jomblonya yang terus meronta - ronta.


"Sayang diam disini" pinta Lily dengan wajah imutnya.


"Maaf ya baby, aku tidak bisa karena aku masih memiliki banyak pekerjaan nanti sore aku jemput" jawab Edward secara halus.


"Ishhh! Kerja aja mulu! Kerja! Kerja! Kerja! Kita sudah kaya terus kenapa kamu harus kerja terus sih?! Kan bisa suruh asistenmu!" Lily menggerutu mendengar jawaban Edward.


"Aku kerja buat dirimu, buat Pinpin, dan perusahaan itu sudah sepenuhnya milikku jadi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja baby, tunggu disini ya" Edward berusaha sabar menangani istrinya ini.


"Ya sudah sana! Kerja aja sana terus!" Lily memunggungi Edward sambil memajukan bibirnya.


"Baby jangan seperti ini, kalau baby seperti ini nanti yang ada aku tidak fokus kerjanya karena kepikiran kamu terus. Tunggu disini ya tapi jangan ngambek gini" Edward memegang kedua tangan Lily dan berusaha menenangkannya.


"Sudah pergi sana! Aku mau lihat cowok - cowok yang lebih peduli sama aku, hm!" Lily menepis tangan Edward dan mengalihkan pandangannya ke arah Sean.


Kapten klub basket itu merasa merinding saat ditatap oleh sang kakak. Masalahnya tatapan yang diberikan merupakan tatapan membu nu h. Sean langsung menoleh ke arah Henryi.


"Ya sudah baby tunggu disini nanti sore aku jemput,cup" Edward mengelus rambut Lily kemudian memberikannya ke cu pan di pucuk kepalanya.


Edward keluar meninggalkan gedung olahraga. Lily membuat wajah cemberut yang dimana para pria disana pasti akan merasa gemas saat melihatnya. Dovan dan Jia berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Lily.


"Apanya yang lucu?!" tanya Lily yang mengetahui senyuman tawa Dovan dan Jia.


"Kok aku sih? Mana ada aku ketawa, ya kan Jia" jawab Dovan yang masih tidak kuat menahan tawanya.


"Bener Lily! Aku tidak menertawakanmu tapi Dovan yang menertawakanmu" Jia langsung melempar kesalahannya ke Dovan.


Dovan langsung memukul lengan Jia. Lily semakin murung setelah ditertawakan walaupun secara tidak langsung. Dia mengambil ponselnya kemudian Lily melihat wajahnya di kamera ponselnya. Ibu hamil.itu merasa insecure melihat bentukan wajahnya yang semakin membesar dan tampak jelek saat cemberut.


"Sean! Apa aku jelek? Apa aku gendutan?" tanya Lily kepada Sean.


"Tidak kok! Kakak iparku masih terlihat sangat cantik tapi hanya bertambah imut" jawab Sean dengan sejujurnya agar sang kakak tidak merasa insecure lagi.


"Tapi Dovan dan Jia menertawakanku" jari telunjuk Lily menunjuk ke arah Dovan dan Jia.


Sean langsung menatap tajam Dovan dan Jia. Dia menghampiri dua mahluk itu kemudian menyeretnya ke pojokkan.


"Tahu Lily lagi hamil kenapa kalian membuat dia merasa insecure,hah?! Kalau dia seperti ini terus diketahui oleh kedua kakaknya yang kena marah aku sama kakakku" bisik Sean sekaligus memarahi dua pasukannya.


"Kan yang kena marah kau sama kakakmu terus apa urusannya sama kami?" Dovan langsung menjitak jidat Jia setelah mengatakan hal tersebut.


"Apa kau tidak paham?! Yang pertama kena marah pasti Sean dan kakaknya terus yang dimarahi adalah kita, be go!" Dovan memijat pelipisnya karena masih merasa heran dengan kebo do han temannya tersebut.


Jia mengangguk paham setelah dijelaskan. Sekarang mereka kembali melanjutkan latihan tapi Lily masih cemberut. Sean hanya berdoa saja agar Hazel yang tidak datang ke kampus.


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>