
Vaska kemudian duduk dan berbalik menghadap ke mana Judith berdiri.
“Judith bagaimana kau bisa berada di sini ?” Vaska menatap intens gadis kecilnya itu. “Bukan, berarti, selama aku tidak ada kau selalu datang ke mari mencari ku?” turun dari tempat tidur.
Vaska berdiri tepat di samping Judith yang menatap ke arah tempat tidur. Judith tak bisa melihat keberadaannya dan dia pun sengaja tak ingin memperlihatkan diri padanya.
“Tuan... aku harap kau segera kembali. Dan aku juga berharap kau baik-baik saja. Aku sudah mencari mu ke mana-mana tapi aku tetap belum menemukan dirimu.” Judith duduk di tempat tidur Vaska dan menyentuh bantal yang biasa pria itu pakai untuk tidur dengan tatapan sendu.
Semakin lama menatap, membuatnya semakin bertambah sedih saja.
“Tuan kau ada dimana. Beritahu aku jika kau baik-baik saja.” tiba-tiba air matanya menitik dengan lambut.
Vaska yang melihat hal itu tak kuasa melihat tangis Judith yang tumpah untuk dirinya.
“Judith aku di sini.” Vaska menghampiri Judith dan memeluknya. “Berhentilah menangis.” mengusap pipi Judith dengan lembut.
Judith merasakan tubuhnya hangat dan lagi ia merasakan sebuah pelukan.
“Kenapa aku merasa kau ada di sini dan sedang memelukku, tuan ?” Judith melihat ke sekitar dan menatap di sana kosong tak ada siapapun selain dirinya. “Seandainya saja aku bisa kembali memelukmu seperti biasanya, itu saja sudah cukup bagiku.” tersenyum dengan tipis dan membuat air matanya mengalir lebih deras.
Vaska hampir saja menunjukkan dirinya di depan gadisnya itu karena tak tahan melihat kesedihannya yang terasa menyayat hatinya, bahkan terasa lebih sakit daripada sayatan luka sebuah pedang yang diterimanya.
“Aku tak bisa menunjukkan diriku sekarang pada mu, Judith. Ini semua untuk kebaikan mu. Aku tak ingin pengawal kerajaan kemari dan menangkap mu lagi.” Vaska menahan dirinya dalam keadaannya yang tak terlihat saat ini. “Aku ada di sini, tenanglah.” mengusap kembali air mata Judith yang berjatuhan kemudian mengecup dahinya.
Vaska melihat Judith berjalan keluar dari kamarnya dan ia berjalan mengikuti gadisnya hingga gadis itu naik ke motor dan pergi dari rumahnya.
“Judith... aku baru tahu ini. Kau sangat, sangat menghargai ku dan menunggu kedatangan ku.” Vaska berdiri di teras rumah terus menatap ke arah Judith hingga gadis itu hilang dari pandangannya.
Pria itu merasa baru kali ini benar-benar diperhatikan oleh seseorang, tepatnya orang asing yang sama sekali tak ada hubungan darah dengan dirinya. Bahkan orang tua dan saudaranya yang lain tak ada yang sangat mencemaskan dirinya seperti Judith mencemaskan dirinya. Muncul rasa syukur mendalam di hati Vaska setelahnya yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Malam hari kemudian Judith kembali memejamkan mata di tempat peraduannya.
Vaska yang duduk di ruang santai berulang kali menatap jam yang tergantung di dinding rumahnya.
“Sepertinya Judith sudah tidur jam segini.” ucapnya saat melihat waktu saat ini dan pria itu hafal betul jam berapa Judith biasanya tertidur.
“zaap !” Vaska berdiri dari tempat duduknya dan segera menghilang di ruangan itu dalam hitungan detik saja.
Ia pun saat ini berpindah dan berada di dalam kamar Judith. Benar saja gadis itu sudah tidur.
“Hiss...aku haus.” Vaska menyentuh lehernya yang terasa kering kerontang.
Ia pun menghampiri Judith yang sudah tertidur pulas dan menghisap lehernya.