Bloody Marriage Contract

Bloody Marriage Contract
Eps. 81 Malam Terakhir Kyle


Dengan cepat berita mengenai tentang tidak masuknya Kyle karena dirawat di rumah sakit terdengar ke seluruh isi kantor dan diketahui oleh semua staf yang ada di sana.


Jalanan koridor kantor yang biasanya ramai semakin bertambah ramai.


“Jadi Kyle dirawat di rumah sakit mana ?” ucap seorang staf pada temannya. “Di rumah sakit terdekat sini.”


Staf lain yang juga berjalan di koridor ikut menimpali topik itu.


“Sakit apa dia ? Bagaimana dia bisa sampai sakit ?” timpal staf lain yang baru mendengar dan mengetahui hal itu karena menurutnya Kyle baik-baik saja sebelumnya. “Kurang tahu juga. Bagaimana jika nanti kita beramai-ramai ke sana untuk menjenguknya ?”


“Ya sebaiknya begitu aku ingin lihat bagaimana gadis sombong itu terbaring lemah di rumah sakit.” timpal staf lainnya dan mereka pun sepakat untuk mengunjungi Kyle nanti di saat jam istirahat.


Siang hari jam istirahat di kantor.


Terlihat para staf yang sudah siap berangkat pergi ke rumah sakit sudah berkumpul di depan kantor. Ada lima mobil di sana yang sudah menunggu.


“Judith... masuk sini.” panggil Maria saat melihat gadis itu bingung mau masuk ke mobil mana. “Ya Maria.” Judith masuk ke mobil dan duduk di samping Maria.


Tak lama kemudian mobil segera berangkat menuju ke rumah sakit tempat Kyle dirawat.


“Kita sudah sampai.” para staf segera turun dari mobil dan berjalan beramai-ramai masuk ke rumah sakit menuju ke ruang tempat Kyle di rawat.


Karena banyaknya yang menjenguk maka tak semuanya masuk sekaligus, namun sebagian dari mereka menunggu di luar dan sebagian lagi menjenguk kemudian bergantian menjenguk.


“Astaga itu Kyle.” Livia menghampiri Kyle yang terbaring tempat tidur dengan banyak selang infus yang melekat di tubuhnya.


“Kalian siapa yang memberitahu kalian jika aku ada di sini ?” Kyle menatap satu per satu staf yang menjenguknya yang menatap nya dengan tatapan iba, ada yang menghina juga terlihat senang melihat penderitaannya saat ini.


“Itu tidak penting dari mana kami semua mendapat info tersebut. Yang terpenting kamu segera sehat dan kembali bekerja.” Judith yang berada di sampingnya menimpali sambil dalam hati merasa iba sekali pada wanita itu. “Kyle sepertinya waktumu tak lama lagi. Tapi aku tak bisa membantumu.” Judith merasa miris melihat kondisi Kyle yang kurus kering, berkulit keriput dan hampir mirip seperti mumi.


setelah bercakap-cakap untuk beberapa saat dengan Kyle, para staf pun akhirnya berpamitan untuk kembali ke kantor.


Malam hari di rumah sakit.


Selama Kyle dirawat di rumah sakit beberapa hari ini CEO Marvell belum mengunjungi Gadis itu dikarenakan ada kesibukan padat di kantor dan baru kali ini ia bisa mengunjungi istri kontraknya.


“Kyle... bagaimana kondisi mu ?” CEO Marvell menghampiri Kyle yang sedang membuka mata. “CEO... aku baik-baik saja.” Kyle tersenyum lebar dengan kedatangan pria itu.


“CEO... aku tidak sakit tapi dokter bilang aku harus dirawat. Aku masih terlihat cantik kan CEO ?”


“Ehm... ya kau masih cantik seperti biasanya.” jawab CEO agak lama.


“Sial di saat seperti ini aku haus. Dan terpaksa aku...” Satu jam setelahnya tiba-tiba CEO Marvell berdiri sambil menyentuh lehernya. Ia melihat Kyle yang sudah tidur. Dan langsung saja pria itu menghisap darahnya.


“Argh.... CEO...” Kyle ternyata belum tidur dan ia melihat CEO Marvell meminum darahnya dengan mata merah di salah satu bagian dan taring meruncing dengan tetesan darah di ujungnya. “Kyle kau tidak tidur ?”


Pria itu tersenyum kemudian kembali menghisap darah Kyle.


“CEO kau... kau... vam... pir...” ucap Judith untuk terakhir kalinya di ujung nafasnya.