
“Ya sebagai Hemisphere kita akan membantu rekan kita yang sudah seperti keluarga sendiri tanpa di minta sekalipun.” timpal anggota Hemisphere yang lain.
Mereka kemudian membubarkan diri kembali ke tempat masing-masing, dan juga stand by apabila sewaktu-waktu harus bergerak.
Kembali ke rumah Vaska. Pria itu kembali masuk ke rumah setelah selesai memasang pelindung di tempatnya.
“Tuan Vaska.” Judith menghampiri pria itu dan segera bangkit dari duduknya saat melihatnya masuk ke rumah.
Ia masih penasaran kenapa pria itu mengajaknya tinggal bersama dan ingin bertanya padanya.
“Judith ikut aku.” Vaska menarik tangan Judith dan membawanya ke belakang. Tak biasanya pria itu menarik ataupun memegang tangan Judith seperti ini, apalagi berjalan dengan terburu-buru dan juga wajah yang terlihat serius.
“Tuan Vaska ada apa ?” tanya Judith saat mereka berhenti di ruang tengah. “Diam dulu.” Vaska melepas tangannya. “Aku akan memasang pelindung pada mu.”
Kembali Judith di buat bingung oleh pria itu. Semua pertanyaannya belum ada yang dijawabnya. Dan kini pria itu menyentuh dadanya. Sebuah sinar berwarna biru memancar dari tangan Vaska dan sinar itu menyelimuti seluruh tubuh Judith.
“Aku tahu kau bingung pada semua ini. Aku akan menjelaskannya padamu nanti.” Vaska menarik tangannya dan beralih menyentuh pipi gadis kecilnya. “Aku memasang pelindung ganda pada mu.” Vaska mencium bibir Judith dan mengalirkan energi pelindung lainnya. “mmm... tuan.” Judith merasakan energi hangat masuk ke tubuhnya.
Vaska selesai memasang pelindung ganda dan mengakhiri ciumannya. “Tuan apa yang sebenarnya terjadi ?” Judith menyentuh bibirnya dan menatap Vaska dengan wajah bersemu.
“Duduklah.” Vaska menunjuk kursi yang ada di dekatnya. “ Ya tuan.” Judith duduk di kursi di samping Vaska.
“Judith begini... malam itu... aku benar-benar melakukan kesalahan padamu, meskipun itu di bawah kesadaran ku tetap saja aku yang salah. Hal ini di larang di negeri kami dan...” berhenti sebentar karena merasa berat dan juga merasa bersalah menceritakan nya.
“Kita adalah pendosa sekarang. Mereka mengejar kita. Mereka akan memberikan hukuman pada para pendosa berupa kematian.” berhenti bercerita dan menatap gadis kecil di sampingnya.
“Pendosa ? Di hukum mati ? Omong kosong apa lagi ini.” Judith menatap kosong mata Vaska dengan tubuh gemetar. Baru saja ia kehilangan ibunya, juga kehilangan mahkota nya kini ia harus kehilangan nyawanya untuk kesalahan yang bukan ia buat.
“Tuan... jadi aku akan mati setelah ini ?” memegang dada Vaska. “Kenapa... kenapa ini terjadi padaku ?” Aku tak mempunyai siapa-siapa, tak punya apa-apa, sekarang hidup ku juga tak berarti.” Judith meratapi kemalangan nya yang datang bertubi-tubi.
Ia pun menumpahkan semua kesedihan dalam tangisnya.
“Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang.” Vaska entah kenapa ikut merasa sedih melihat air mata Judith yang mengalir. “Maaf... sekali lagi maafkan Aku.” Vaska memeluk gadisnya. “Aku tak akan membiarkan mereka mengambil nyawamu.” berbisik di telinga Judith.
Satu jam lamanya gadis itu menumpahkan semua kesedihannya hingga membuat pakaian yang dikenakan Vaska saat ini basah oleh air mata Judith.
“Judith...” Vaska menarik karena tak lagi mendengar suara tangis. “Dia tertidur rupanya.” mendapati gadis kecilnya tidur dalam dekapannya.
Vaska menyentuh pipi Judith dan mengapa sisa air mata yang membasahi pipi. Ia kemudian menggendongnya dan membawanya masuk ke kamar.