
Elina kaget saat melihat sosok Ryan memasuki cafetaria. Seperti biasa, lelaki itu memesan kopi dan roti bakar sebelum ke sudut cafetaria untuk duduk. Beberapa hari kemarin Elina tidak melihat Ryan.
Ryan menepati janjinya untuk menemui Elina di akhir pekan.
"You okay?" tanya Ryan saat melihat wajah pucat Elina.
Elina tersenyum, mencoba menyembunyikan sakit pada perutnya.
"Saya baik-baik saja" jawabnya.
"Sudah menyiapkan jawaban atas lamaranku pekan lalu?" tanya Ryan.
"Apakah kamu sudah yakin dengan keputusan mu?" Elina tidak menjawab, ia malah melontarkan pertanyaan.
Ryan mengangguk.
"Itulah sebabnya aku berada di sini"
"Meskipun saya hanya seorang pelayan cafe?"
Ryan kembali mengangguk.
"Aww" Elina meringis.
"Kamu kenapa?"
"Perut ku sakit" jawab Elina jujur.
"Ayo ke rumah sakit" ajak Ryan.
Elina menggelengkan kepalanya.
"Saya hanya sedang dalam masa periode. Tidak perlu secemas itu" katanya.
Ryan menghela napasnya lega.
"Sebenarnya hari ini aku sudah berjanji kepada seseorang untuk membawamu bertemu dengan dia. Tapi karena perut mu sedang sakit, mungkin nanti saja"
"Who is?"
"My little sister."
"saya mau" ucap Elina cepat.
"Meskipun perut mu sedang sakit?" tanya Ryan.
"Sakitnya perlahan akan menghilang"
Ryan membawa Elina ke rumahnya untuk bertemu Vy.
"Dek?" teriak Ryan dari bawah.
Lama menunggu Vy dan tidak mendapatkan jawaban, Ryan berlari kecil menaiki tangga. Ia membuka kamar adiknya. Betapa kagetnya saat ia mendapat adiknya sedang menangis tersedu-sedu.
"Hei, adik kakak kenapa hmm?" tanya Ryan dengan sangat lembut.
"Ada darah" jawab Vy.
"Dimana hmm? Kamu luka?" tanya Ryan cemas, ia meneliti tubuh adiknya.
"Di celanaku. Setiap adek ganti celana, selalu ada darah"
Ryan mencerna ucapan adiknya. Ia bernapas lega saat menyadari adiknya baru mendapatkan period pertamanya sebagai seorang remaja.
"Jangan nangis hmm. Itu hal yang wajar bagi perempuan. Sekarang adek ke kamar mandi, kakak akan beli pembalut untuk adek " Ryan mengelus rambut adiknya, melihat hingga adiknya memasuki kamar mandi dan menutup kembali pintunya.
Di bawah sana, Elina sudah cemas. Bagaimana jika adik Ryan tidak menyukainya dan tidak ingin bertemu dengannya.
"Maaf membuat mu menunggu, adikku baru saja mendapatkan period pertamanya. Hal itu membuatnya menangis dan ketakutan" jelas Ryan kepada Elina.
Elina mengangguk paham. Apa yang ada dipikirannya tidak terjadi.
"Apakah kamu punya stok pembalut?" tanya Elina.
"Aku baru akan membelinya " jawab Ryan.
"Aku ada persediaan, kamu bawa ke atas saja."
Ryan mengangguk setuju. Ia tidak menyangka akan menjalani hidup seperti ini. Orang tuanya meninggal dan ia menjadi satu-satunya yang adik punya.
15 menit kemudian, Ryan kembali menuruni tangga, bersama Vy yang lagi-lagi menjadi seperti koala di gendongan Ryan.
"Haloo" sapa Vy ramah saat ia sudah sampai di depan Elina. Ia mencium punggung tangan Elina.
"Namaku Vy"
Elina tersenyum dan mengangguk. Saat diperjalanan tadi, Ryan sempat menceritakan secara singkat tentang keluarganya, tentu saja tidak semuanya.
"Namaku Elina"
"Selamat datang di kediaman kami, kak" sambut Vy dengan ceria.
Ryan senang melihat dua orang di depannya berkomunikasi dengan baik.
"Apakah perut mu sakit? Aku dengar tadi kamu mendapatkan period pertama mu" tanya Elina.
Vy menggelengkan kepalanya.
"Tidak sakit, hanya saja aku merasa bingung. Ini hal yang baru bagiku dan aku belum mempelajarinya.
"Kak, bisakah kita makan di luar? Adek lapar sementara kak Raya tidak di rumah. Adek tidak enak jika harus merepotkan Tante Alana dan Tante Hana" pinta Vy.
Ryan mengangguk.
"Maaf, Elina. Untuk urusan makanan kami masak sendiri, itulah sebabnya kami hanya menyuguhkan cake kepada mu"
"Bukan masalah " Elina tersenyum.
Mereka bertiga menuju warung makan yang bersebelahan dengan minimarket.
"Kak, sekalian yah beli pembalut" Vy mengingatkan kakaknya.
"Mau kakak temanin?" tawar Elina.
Vy menatap kakaknya, seolah meminta persetujuan. Saat Ryan tersenyum, barulah Vy menjawab,
"Boleh kak. Terima kasih"
Ryan berjalan memasuki warung untuk memesan makanan dan meng-klaim meja, sementara Vy dan Elina memasuki minimarket.
"Yang paling nyaman yang mana kak?" tanya Vy.
Tangan Elina mengambil salah satu produk yang ia gunakan.
"Menurut kakak yang ini"
Vy mengangguk. Ia mengambil merk yang sama dengan yang dipegang Elina. Ia juga mengambil merk lain yang ukurannya lebih panjang. Saat melihat Elina hendak menyimpan kembali pembalut yang ada ditangannya, Vy melarang nya.
"Kata kak Ryan, kakak juga sedang masa period. Yang itu buat kakak" paksa Vy.
✨✨✨
Ryan mengantar Elina lebih dulu pulang ke kostan nya, sebelum pulang ke rumahnya sendiri.
"Kak, mau makan ice cream, coklat juga" pinta Vy.
"Mau yang dimana?" tanya Ryan.
Saat di warung tadi, ia sempat membaca jurnal tentang masa menstruasi di ponselnya. Menurut beberapa penelitian, sebagian wanita akan mempunyai mood makan yang bagus saat sedang menstruasi.
"Yang di depan kampus kakak sepertinya enak" jawab Vy.
Di depan kampus Ryan ada sebuah toko kue dan juga ice cream yang digabung. Beberapa kali Ryan membeli disana untuk adiknya.
Hari masih sore saat mobil Ryan memasuki halaman rumahnya.
"Vyy!" teriak Raya saat melihat Vy turun dari mobil.
Vy tersenyum.
"Dari mana?" tanya Raya.
Vy mengangkat kantongannya. Ada kantongan yang berisi pembalut dan juga berisi coklat dan ice cream, ada kue coklat juga.
"OMG, adik gue udah gede. Udah mens" teriak Raya heboh, ia bahkan berlari ke arah Vy dan memeluk Vy.
Sementara di teras kediaman Atlas, Brian terkekeh mendengar teriakan kakaknya. Ia tidak menyangka jika Raya se-excited itu hanya karena mengetahui jika Vy mendapatkan mens pertamanya.
"Ayo kak, makan coklat. Sambil nonton film" ajak Vy.
"Bentar yah, kakak pulang dulu ganti baju." kata Raya.
Vy mengangguk. Ia berjalan memasuki rumahnya. Ia harus merapikan dulu belanjaannya sebelum menghabiskan waktu dengan Raya.
Saat ia kembali turun dari kamarnya, rumahnya sudah dalam keadaan ramai. Ada Adriel, Raya dan juga Brian.
Kedua pemain bola junior itu sedang adu skill bermain play station.
"Yang kalah upload foto gue" kata Raya. Di pangkuannya sudah ada setoples kripik pisang coklat.
"OGAH" kompak Adriel dan Brian.
Vy ikut duduk di sebelah Raya.
"Perutnya nggak sakit kan?" tanya Raya.
"Nggak kok, kak." jawab Vy.
"Lo sakit, Vy?" tanya Adriel, ia menoleh ke belakang. Hal itu dimanfaatkan oleh Brian untuk mencetak gol.
"Goll" heboh Brian. Ia berdiri dan melompat-lompat.
"HEH" Adriel memukul betis Brian, meminta lelaki itu diam. Pandangan Adriel kembali mengarah kepada Vy, menunggu jawaban Vy.
"Nggak sakit kak Reil."
"Lo khawatir banget deh. Tuh anak baru mendapatkan mens pertamanya" ucap Brian enteng.
"Mulutnya yah" tegur Raya.
Wajah Vy memerah mendengar ucapan Brian.
Adriel mengangguk paham.
"Jaga diri" pesannya.