ANAGATA

ANAGATA
Vineland


Vy berpisah dengan kakaknya di restoran hotel. Ia beranjak lebih dulu setelah melayangkan kecupan di pipi sang kakak dan kakak ipar. Ia juga tak lupa mengecup kedua pipi Arunika.


Vy melangkah kemana saja ia suka. Tapi tempat pertama yang ia datangi adalah museum. Waktu Adnan masih hidup, ia pernah membawa Vy mendatangi museum itu. Adnan memperlihatkan banyak hal di dalam sana yang mampu menambah wawasan anak-anaknya, terutama Ryan saat itu yang sudah bersekolah.


Setelah puas berada di museum, Vy jajan ice cream. Ia duduk di bangku besi yang memang disediakan untuk pejalan kaki. Vy juga tadi membeli roti. Tangannya kadang bergantian memotret bangunan atau jalanan, sesekali tangannya ia gunakan untuk makan roti.


"Kebiasaan kalau makan sambil main" ucap seseorang yang duduk di sebelah Vy.


Vy menoleh, sebab seseorang yang duduk disebelahnya berbicara dengan bahasa yang sama dengannya.


"Kak Brian" kaget Vy.


Brian terkekeh, sebelah tangannya mengacak poni Vy. Kebetulan rambut Vy ia gerai hari ini.


"Sendirian aja?" tanya nya.


Vy mengangguk.


"Kok bisa di sini?" tanya Vy kemudian.


"HEH, selama ini gue memang di sini yah" Brian nge-gass.


"Gak usah nge-gass juga kali. B aja napa pak?" Vy memutar bola matanya.


"Ya kamu nanya nya ada-ada aja." Brian tidak mau kalah.


"Gue ada kontrak dengan klub di sini, makanya berada di sini. " kata Brian lagi.


"Aku lupa, hehe" Vy menampilkan cengiran polosnya.


"Lo memang pelupa ,sih. Kan udah tua" tawa Brian meledak setelahnya.


"Ejek aja terus" Vy berdiri untuk membuang sampah rotinya. Ia kemudian kembali duduk di sebelah Brian.


"Kemarin ke Briceland?" tanya Brian.


"Iya. Kebetulan om Aland dan Tante Alana ngajak, aku juga libur, ya udah, ikut deh"


"Terus kesini nya sama siapa?" tanya Brian lagi.


"Sama kakak, kakak ipar dan Arunika."


"Arunika? Who is?"


"Anaknya kak Ryan."


"Ehh, udah lahir rupanya " ucap Brian.


"Iya, anaknya lucu" Vy gemas sendiri membayangkan wajah keponakannya.


"Habis ini mau kemana?" tanya Brian.


"Jalan-jalan aja disekitar sini, cari barang-barang yang menarik perhatian, juga oleh-oleh untuk yang lain" jawab Vy.


"Gue temanin, mau?" tanya Brian.


"Memangnya nggak apa-apa? Kak Brian nggak sibuk?"


Brian menggelengkan kepalanya cepat.


"Pekan ini libur kok. Jadi waktunya digunakan untuk santai-santai "


"Kok nggak pulang aja ke Atlantis?" heran Vy.


"Nanti aja pulang nya. Lagian mami dan papi mau kesini katanya." jawab Brian.


"Mau jalan sekarang?" tanya nya.


Vy mengangguk. Keduanya kemudian berdiri dan berjalan menyusuri jalan yang panjang.


"Kameranya kasih ke aku" Brian menengadahkan tangannya.


Vy melepaskan kamera tersebut dari lehernya, memberikannya kepada Brian. Brian cukup handal dalam hal fotografi.


Langkah Vy terhenti saat melihat sebuah toko yang logonya ada gambar kupu-kupu.


"Kok berhenti?" tanya Brian.


"Tokonya baru yah? Dulu aku nggak pernah lihat"


Brian mengangguk.


"Tokonya dibuka belum lama setelah gue datang"


"Ayo, masuk dulu" Brian menarik pergelangan Vy memasuki toko itu.


Vy seolah dimanjakan dengan isi toko. Di dalamnya ada berbagai macam barang dengan gambar kupu-kupu. Juga ada aksesoris yang diberi hiasan kupu-kupu.


Vy menyusuri tiap lorong yang ada di dalam toko. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah gelang dengan bandul kupu-kupu. Vy berjalan mendekat, melihat lebih jelas gelang tersebut.


"Gelangnya cantik" ucap Brian di dekat Vy.


Vy mengangguk, mengiyakan ucapan Brian. Segala hal yang menyangkut tentang kupu-kupu memang selalu cantik menurutnya.


"Yuk" ajak Vy.


"Vy, gue kayaknya mau ke toilet. Tunggu bentar" pamit Brian.


Vy hanya menganggukkan. Ia melihat sekitarnya, jajaran boneka kembali menyita perhatiannya. Ia berjalan menuju rak boneka itu, semuanya berbentuk kupu-kupu. Vy kemudian mengambil 2. 1 berwarna merah biru, satunya lagi berwarna pink biru. Yang berwarna pink biru akan ia berikan untuk Arunika.


Saat Brian kembali, keranjang Vy sudah terisi oleh boneka. Vy juga mengambil kunciran rambut yang ada hiasan kupu-kupu nya.


Setelah membayar belanjaannya, mereka meninggalkan toko.


"Mau kemana lagi?" tanya Brian.


"Ke restoran hotel" jawab Vy. Restoran hotel yang Vy maksud adalah tempat dimana dirinya, Ryan, papanya dan Atlas pernah makan bersama.


"Tahu nggak, waktu aku masih kecil, aku pernah makan bareng papi kamu di sini?"


Brian menggelengkan kepalanya.


"Papi nggak ada cerita"


"Kejadiannya udah lama kok, mungkin udah dilupa juga." kata Vy.


Mereka berada di rooftop hotel yang tidak semua orang bisa menuju ke sana. Vy mengenal penjaga hotel ini, itu sebabnya ia dibolehkan naik ke atas rooftop.


"Gue nggak tahu kalau lo bisa dengan mudah naik ke atas sini" ucap Brian.


"Yang tadi temannya papa. Tadi aku kasih lihat kartu namanya papa" jujur Vy.


Langit jingga terlihat begitu megah dari atas sini. Mereka bercakap-cakap, tapi Brian sambil memotret sekitarnya.


"Vy, natap sini" suruh Brian.


Vy menoleh.


Cekret


Siluet tubuh Vy terlihat begitu kontras dengan cahaya jingga dibelakangnya.


Mereka kemudian duduk di bangku yang ada di sana, bersamaan dengan pelayan yang membawa makanan yang tadi Vy pesan. Mereka makan sambil bertukar cerita.


"Vy, tangan lo mana?" tanya Brian saat mereka selesai makan.


Vy menyimpan lengannya di atas meja. Memperlihatkan tangannya.


Dengan sangat cepat Brian mengaitkan gelang tersebut di pergelangan tangan Vy.


"Apa nih? Lagi simulasi mau nembak cewek?" tanya Vy.


Brian menyentil dahi Vy.


"Sembarangan " ucapnya.


"Ini tuh buat lo, anggap aja hadiah ulang tahun lo kemarin" kata Brian lagi.


Vy hendak membukanya.


"Nggak usah, astagaa. Gelangnya mahal ini, simpan aja" kata Vy. Ia belum berhasil membuka kaitan gelangnya.


"Jangan di lepas ih. Nakal banget" Brian menahan tangan Vy.


"Serius deh, nggak usah." ucap Vy.


"Gue nggak terima penolakan, Vy. Pokoknya jangan di lepas" tegas Brian.


"kajak nggak ada pacar?" tanya Vy tiba-tiba.


"Tumben nanya-nanya nih"


"kakak gabut soalnya. Malah beli gelang buat aku. Cari pacar gih" ucap Vy.


"Nanti aja, gue mau fokus ke karir dulu"


Vy mengangguk.


"Kak Bri, makasih yah" ucapnya kemudian.


"Tumben panggil kakak" heran Brian.


"Lagi senang dapat gelang" jujur Vy.


Brian tertawa mendengar ucapan Vy.


"Jangan dilepas, makanya. Pakai terus yah"


Setelah senja benar-benar tidak terlihat lagi, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Gue anterin lo ke hotel deh" khawatir Brian, biar bagaimana pun, Vy adalah tetangganya.


"Terima kasih, kak Bri. Nggak mau ketemu kak Ryan dulu?" tawar Vy.


Brian menggelengkan kepalanya. Ia kemudian mengembalikan kamera Vy.


"Have fun, Vy" katanya sebelum pergi.