
Pagi kembali menyapa bumi, dua gadis penghuni presiden suite di dalam sana masih tertidur. Hal itu tentu saja sangat wajar, sebab mereka tidur saat jam menunjukkan pukul 2 dini hari.
Ponsel Vy berdering, dengan mata tertutup, perempuan itu meraba nakas, mencari dimana ponselnya berada.
"Haloo" sapa Vy dengan suaranya yang khas bangun tidur.
"Belum bangun?" tanya Ryan.
"Baru bangun, kak."
"Kalau masih ngantuk, tidur dulu aja. Nanti sore baru ke mama dan papa" ucap Ryan.
"Tungguin adek yah" ucap Vy sebelum mematikan sambungan telponnya. Ia kembali memejamkan matanya dan memasuki alam mimpi.
Keadaan di kamar sebelah tidak jauh berbeda. Dua orang pesepakbola itu juga masih tertidur.
Mereka bangun saat hari sudah siang, pukul 11 waktu setempat. Demi menghindari paparazi, mereka memilih makan di kamar.
"Ingat, sore nanti ada pertemuan" Ucap Adriel.
"Iya, Riel. Gue belum pikun"
"Kali aja lo kembali tidur"
"Kagak elah" ucap Brian.
Vy dan Raya masih makan.
"Raya, nebeng yah . Bokap nggak bisa jemput" pinta Adriel.
"Lo yang nyetir tapi" kata Raya.
Adriel mengangguk.
"Aman"
Mereka berempat dengan santai keluar dari lift dan berjalan ke mobil, seolah tidak khawatir jika media meliput mereka. Brian dan Adriel duduk di depan, sementara Vy dan Raya di belakang. Mobil kemudian melaju.
"Lha, si anjing" umpat Raya saat melihat headline di aplikasi burung biru.
"Kenapa kak?" tanya Vy.
"Di hotel tadi ada paparazi" jawab Raya. Ia kemudian menelpon Atlas dan meminta papinya untuk membereskan hal tersebut.
"Lagian kenapa sih kalau mereka tahu?" tanya Adriel.
"Ya jangan. Lo berdua enak, lah kami. Kami masih mau hidup tenang. Memangnya lo bakal biarin kami hidup dalam kendali netizen? Gue tahu lo pasti berpikir kesana, itu sebabnya lo nggak pernah sekalipun membiarkan orang lain tahu tentang orang tua lo" jawab Raya panjang lebar.
"Kan gue dan Brian bisa beralasan kalau kalian berdua tuh teman gue."
"Teman, teman. Pokoknya nggak boleh"
Raya tahu jika Adriel bercanda saat mengatakan nya.
"Canda kali"
Nah kan, Raya juga bilang apa.
Jika Raya dan Brian memasuki kediaman Atlas, beda lagi dengan Vy dan Adriel yang memasuki halaman rumah Adnan.
"Terima kasih kak" ucap Vy sebelum benar-benar memasuki halaman rumahnya.
Raya membentuk tanda 'Ok' .
Adriel membaringkan tubuhnya di sofa bed ruang keluarga, sementara Vy langsung ke dapur untuk mengambil minum.
"Udah pulang rupanya" kata Ryan saat melihat Adriel berbaring.
"Belum lama kok datangnya" timpal Adriel.
"Vy mana?" tanya Ryan, ia mencari keberadaan adiknya.
"Di sini" Adriel hendak menjawab, tapi keduluan oleh Vy yabg datang dengan jus ditangannya.
"Istirahat lagi aja. Nanti sore kakak bangunin" ucap Ryan, ia tahu jika adiknya masih mengantuk.
Vy menyimpan dua gelas jus dimeja.
"Aye aye captain" Vy kemudian mencium pipi Ryan sebelum menaiki tangga rumahnya.
✨✨✨
Tidak hanya Vy, Ryan dan Alena yang berkunjung ke makam Juli dan Adnan. Ternyata Aland juga membawa anak dan istrinya untuk berziarah ke makam keluarga Fenerdic.
"Jangan lupa pamit ke om Adnan " Alana mengingatkan anaknya, sebab kurang dari 24 jam Adriel akan meninggalkan Atlantis untuk waktu yang cukup lama.
Adriel mengangguk. Ia tentu tidak lupa dengan sosok Adnan. Selain papinya sendiri, Adnan juga merupakan role modelnya dalam menjalani hidup. Sosok sederhana yang penuh cinta dan kasih sayang. Sosok manusia yang memanusiakan manusia lainnya.
"Besok berangkat jam berapa?" tanya Vy.
"Agak siang, pesawatnya take off jam 1" jawab Adriel.
Vy mengangguk.
"Ehh, tapi nanti kak Geya lihat, gimana dong " panik Vy kemudian.
Adriel terkekeh.
"Nggak mau coba ketemu Geya dulu? Geya baik, kok"
Vy menggelengkan kepalanya.
"Nanti aja"
"jadi besok mau nganterin atau tidak?"
"Kalau kak Geya ada, nggak usah deh"
"Geya nggak bakalan ada kayaknya. Nanti malam gue mau ketemu dia, seharusnya itu sudah cukup" ucap Adriel yakin.
"Jikalau pun Geya ada, ayah pasti bisa mengatasi keadaan sangat cepat "
Vy tidak meragukan kemampuan Aland dalam hal melindungi mereka semua. Pria itu bahkan dengan cepat bisa mengundang banyak orang.
Vy kemudian mengangguk.
✨✨✨
Setelah Adriel pergi, Brian menyusul keesokan harinya. Raya juga akan segera berangkat.
"Ingat, lo harus temanin mami gue" ucap Raya lagi, entah sudah yang keberapa kalinya .
"Iya, kak, iya" pasrah Vy.
"Baik-baik lo" pesan Raya lagi
Vy mengangguk. Ia memeluk Raya.
"Kak Raya juga baik-baik yah, jaga kesehatan, bahagia terus di sana"
Kedua perempuan itu bercipika cipiki. Sebenarnya Vy sangat ingin mengantar Raya ke bandara, tapi hal itu hanya sebatas keinginan saja, sebab ia harus bersekolah. Ini saja , ia sudah berpakaian rapi, hanya saja ia ke kediaman Atlas untuk melihat Raya sebelum perempuan itu pergi jauh untuk waktu yang lama.
Sesampainya di sekolah, Vy langsung duduk di bangkunya.
"Napa lo?" tanya Yuki.
"Kak Raya keluar kota. Di rumah bakalan sepi" jawab Vy.
"Lo kayak orang susah aja, teman-teman lo ada banyak" ucap Yuki.
Belum banyak siswa yang hadir di kelas. Rose dan Kayla bahkan belum sampai.
"Tapi beda, Yuki"
"Daripada galau, mari kita lihat kegiatan cowok-cowok cakep di luar negeri." ajak Yuki. Ia mendekatkan ponselnya ke Vy, agar temannya bisa ikut menonton live salah satu pemain yang sudah menjalani harinya diluar negeri.
"Jiahh, live berempat" heboh Yuki. Awalnya hanya Athar yang live, beberapa menit kemudian Adriel ikut bergabung, Brian menyusul dan terakhir ada Dylan.
"Waktu Athar nyapa di lift, kamu diam-diam aja. Tapi pas live gini, lo kayak cacing kepanasan" ucap Al.
Yuki memutar kedua bola matanya.
"Namanya juga blank saking kagetnya berada di jarak yang cukup dekat idola. Saat itu gue rasa otak gue udah nggak ada, nggak bisa berpikir soalnya" jujur Yuki.
"Sekarang otaknya udah gak kosong?" tanya Vy dengan tatapan polos.
Yuki sudah siap ngamuk, tapi tertahan saat melihat Kayla datang dengan ponsel ditangannya.
"Nonton live pasti" tebak Yuki.
Kayla mengangguk membenarkan ucapan Yuki.
"Rose belum datang?" tanya Kayla, tapi matanya fokus ke ponselnya.
"Belum" yang menjawab Vy.
Ia sedang bertukar pesan dengan Adriel. Ia mengirimkan foto layar ponsel Yuki.
****Kak Adriel****
Nonton gue ternyata.
****Vyy****
Bukan aku yah. Tapi temanku, bangku kami bersebelahan.
'Selamat pagi untuk adik kesayangan gue di sana, yang sepertinya sedang berada di sekolah ' cuap-cuap Adriel dengan sengaja.
****Vyy****
Udah ah, Vy ngambek.
"Lah, udah berhenti, baru juga mau nanya Adriel beneran punya adik apa kagak?" frustasi Yuki.