ANAGATA

ANAGATA
Arunika Gantari H.


Bayi kecil nan cantik itu diberi nama Arunika Gantari Harrison. Arunika berarti cahaya fajar, Gantari berarti menyinari, sedangkan Harrison adalah nama keluarga. Secara keseluruhan bisa disimpulkan jika Arunika Gantari Harrison adalah cahaya fajar yang menyinari keluarga Harrison.


"Cantik sekali cucu oma" bayi kecil itu menjadi idola baru, baik dari keluarga Gregorius maupun dari keluarga Dhanurendra.


"Mau lihat juga" Hana tidak mau ketinggalan. Ia duduk disebelah Alana, agar bisa melihat wajah comel Arunika.


Sementara di sofa yang berada di sudut ruang perawatan diisi oleh Aland, Atlas dan Ryan.


"Aderald udah bisa itu" kompor Ryan.


"Anaknya belum mau. Mau selesaikan pendidikan dulu" frustasi Atlas. Beberapa kali ia berusaha membujuk anak pertamanya untuk menikah.


"Ya wajar lah. Namanya anak laki-laki mesti mapan dulu. Eh, tapi Aderald kurang mapan bagiamana yah? Anak muda itu bahkan lebih dari mampu daripada anak-anak lain seusianya" ucap Aland.


"Ya gimana, anaknya belum mau" pasrah Atlas. Padahal ia juga ingin segera menggendong cucu. Apalagi tadi melihat wajah menggemaskan Arunika, keinginan itu semakin besar.


"Gimana kalau saya bawa Arunika pulang ke rumah aja?" tawar Atlas pada Ryan.


"Yee, mana boleh om" jiwa bapak-bapak Ryan seketika keluar.


Aland dan Atlas tertawa. Menjadi seorang ayah memang sangat luar biasa.


Tiga hari kemudian Alena sudah bisa pulang ke rumah bersama bayinya. Kediaman Harrison yang tadinya damai, kini terdengar tangisan anak kecil. Warna baru kembali tertuang dalam perjalanan hidup mereka.


"Vy, gue mau lihat ponakan lo dong" pinta Yuki.


"Gue juga. Dari fotonya aja udah lucu" Rosa juga terlihat semangat.


"Akhir pekan nanti ada syukuran di rumah, kalian datang deh" undang Vy.


"Lo jangan polos gitu, Vy. Nih anak 2 kalau lihat anak kecil kayak kesurupan. Lo nggak ingat gimana Viona dulu?" Keysa mengingat bagaimana adiknya menjadi bulan-bulanan Yuki dan Rosa beberapa tahun lalu.


Vy meneguk air ludahnya. Kenapa ia bisa melupakan fakta itu. Yuki dan Rosa sama-sama anak tunggal, jika mereka melihat anak kecil, jiwa kakak-kakak mereka seketika keluar.


"Tapi janji yah, jangan di unyel unyel, adik aku masih secimit" Vy menunjukkan nya lewat ibu jarinya yang berada di ujung jari telunjuknya.


"Nggak Vy, serius" ucap Yuki.


"Nggak janji maksudnya" Rosa menyambung ucapan Yuki.


Vy meringis.


Tawa ketiga temannya meledak melihat ekspresi khawatir Vy.


"Mereka nggak sejahat itu, Vy" Keyla menenangkan.


"Ya mana tahu nanti mereka greget " kata Vy.


✨✨✨


Akhir pekan akhirnya tiba. Kediaman Harrison cukup ramai karena kedatangan beberapa orang. Bayi kecil nan merah itu seolah menjadi bola yang dioper kesana kemari oleh para tamu. Elena ngeri sendiri melihat anaknya kesana kemari dalam gendongan orang yang berbeda.


"Gak usah khawatir, itu tandanya mereka menyambut kedatangan Arunika dengan suka cita" Alana menepuk pundak Elena.


"Iya, Tante " Elena mengangguk.


Bayi kecil itu sedang berada dalam keranjang baby di ruang tamu. Di sana, ada 4 orang gadis cantik yang mengelilinginya.


"Matanya lucu" takjub Yuki. Sejak tadi pandangan nya tidak terlepas dari bayi mungil di depannya.


"Bibirnya merah, kayak ceri " Keyla menimpali .


"Vy, gue bawa pulang deh" ngawur Rosa.


"Nggak boleh" ucap Vy cepat. Enak saja ponakannya dibawa pergi. Ia saja belum puas melihat wajah lucu itu.


"Kalau misalkan nanti ada kerja kelompok, kita kerjanya di sini aja Vy" pinta Yuki.


"Gue tebak, lo nggak kerja kelompok, tapi momong adiknya Vy" ucap Keyla tepat sasaran.


"Dedeknya diambil dulu yah. Beberapa tamu ayahnya mau pulang, terus minta foto bersama" izin Alena sebelum menggendong anaknya.


"Nah, bundanya datang. Rasain" ejek Keyla.


"Nanti bawa kesini lagi yah kak" pinta Rosa.


Elena tersenyum.


"Iya "


"Dek, ikut juga" panggil Elena pada Vy.


Vy mengangguk. Ia berdiri,


"Tunggu bentar yah. Kalian makan dulu gih"


"AMAN VY" heboh ketiganya. Apapun bisa dilewatkan, selain makan gratis.


Vy memang di kenal oleh teman-teman terdekat Adnan. Mereka sengaja datang untuk mengucapkan rasa bersuka cita atas kelahiran putri pertama Ryan.


Setelah sesi foto bersama itu selesai, Vy menciumi punggung tangan mereka satu persatu sebagai tanda hormatnya. Orang-orang itu jugalah yang membantu Aland menjaga dan memajukan perusahaan keluarga.


"Bilang ke teman-temannya Vy yah, dedeknya mau dikasih ASI dulu " pesan Elena kepada adiknya iparnya.


"Iya kak" Vy mengangguk. Ia ikut makan bersama teman-temannya.


Hari berganti malam, rumah kembali sepi, sebab para tamu sudah pulang.


"Nggak belajar?" tanya Ryan pada adiknya. Sejak tadi ia melihat adiknya berada di sisi Arunika terus.


"Mau belajar kok ini" jawab Vy.


"Kakak lihat Arunika bentar yah, adek ambil buku pelajaran dulu" gadis itu berlari kecil menuju kamarnya untuk mengambil buku juga MacBook nya.


Ryan menggelengkan kepalanya heran, namun juga bersyukur, sebab adiknya begitu menyayangi Arunika.


Vy belajar di sebelah Arunika yang sedang tertidur. Bayi yang belum berumur sebulan itu hanya bisa tidur, minum ASI dan pup. Ryan tidak jauh beda, ia juga melakukan pekerjaannya di sebelah anak dan adiknya.


"Makan dulu" ajak Elena. Pemandangan ini sudah menjadi hal biasa sejak kelahiran Arunika. Ia berharap agar anaknya selalu mendapatkan banyak cinta dari semua orang.


"Aye- aye kapten" kompak Vy dan Ryan.


Elena terkekeh. Ia duduk di sebelah anaknya, menggantikan posisi kakak beradik itu untuk menjaga gadis kecilnya.


"Kak, Arunika tidur di kamar adek yah?" pinta Vy pada Ryan. Mereka berdua masih makan.


"Mana boleh dek? Gimana kalau dedeknya bangun tengah malam mau minum?" Ryan memberikan pengertian kepada adiknya.


"Iya juga yah. Masa mau ke kamar kakak lagi" ucap Vy.


"Kalau dedeknya agak gedean dikit, nanti boleh kok tidur sama-sama " Ryan menambahkan nasi dan lauk ke dalam piring adiknya.


"Udah, kak. Udah kenyang ini" Vy menjauhkan piringnya.


"Nggak, tadi makannya sedikit. Ayo, makan lagi. Adek udah kurus banget itu"


Vy pasrah saja, daripada mendapatkan omelan dari sang kakak.


"Makan yang banyak. Gak usah diet segala " ucap Ryan lagi.


"Iyaa, kak. Adek nggak pernah diet juga " Vy kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Setelah makan, Vy membersihkan meja makan, sementara Ryan yang mencuci piring. Hal itu menjadi aktivitas sehari-hari bagi mereka. Elena yang akan menyiapkan makanan dan dua bersaudara itu yang membersihkan setelah makan.


Padahal Ryan sudah menyiapkan untuk mempekerjakan ART di rumah mereka, tapi Elena dan Vy menolak jika ART itu masak. Sehingga ART yang kerja di rumah mereka hanya bagian membersihkan saja