ALAM MAUT

ALAM MAUT
Awal Perjalanan


Hari itu matahari terbenam di ufuk barat, menciptakan perpaduan warna oranye dan merah yang begitu memukau. Namun, di tengah keindahan itu, seorang wanita muda dengan mata berkaca-kaca duduk di samping jalan yang penuh dengan puing-puing mobil yang hancur. Aurelie, namanya, baru saja mengalami kecelakaan mobil yang mengerikan. Darah mengalir dari pelipisnya yang terluka, dan serpihan kaca menancap di sana-sini.


Dia mencoba bernapas dengan susah payah, meskipun sakit yang tak tertahankan menghantam seluruh tubuhnya. Tangannya gemetar saat mencoba mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya yang rusak. Sambil bergetar dan berdebar, ia mencoba memanggil nomor darurat, tetapi suaranya hampir tak terdengar.


Beberapa menit kemudian, suara sirene mobil ambulans terdengar semakin dekat. Aurelie mencoba tersenyum kecil, meskipun rasa sakit semakin tak tertahankan.


"Aku akan selamat," batinnya.


Paramedis yang datang pertama kali dengan sigap mengangkatnya dan meletakkannya di atas tandu. Mata Aurelie berkaca-kaca saat ia melihat kerumunan orang yang penasaran berkumpul di sekitarnya. Ia berusaha untuk berbicara, tetapi suaranya hanya mengeluarkan suara gemetar yang hampir tak terdengar.


Saat ambulans bergerak pergi, Aurey melihat langit yang mulai gelap dan merasa seperti waktu melambat. Ia merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Pernapasan yang perlahan-lahan meredup, dan pandangannya memudar saat ia merenungkan kehidupan yang pernah ia jalani.


Di saat-saat terakhirnya, Aurelie merasa seperti ia tengah tenggelam dalam lautan kenangan dan emosi yang meluap. Ia berharap bahwa semua yang telah ia lakukan dalam hidupnya memiliki makna. Dan kemudian, tanpa peringatan lebih lanjut, ia merasa dirinya terlempar ke dalam kegelapan.


...----------------...


Aurelie merasa seperti dalam keadaan melayang, tak lagi merasakan tubuhnya. Semuanya gelap, kecuali cahaya yang samar-samar bersinar di kejauhan. Dia merasa seperti sedang berada dalam alam antara hidup dan mati.


Ketika Aurelie semakin mendekati cahaya itu, dia merasa kehadiran yang penuh kasih yang sulit dijelaskan. Ini adalah momen yang sulit untuk digambarkan, seperti penyatuannya dengan energi universal, dan saat yang sama, merasa terpisah dari segala hal yang pernah dikenalnya.


Cahaya itu semakin terang, membawanya ke dalam dimensi baru yang penuh warna dan suara yang tak dapat dipahami. Aurelie merasa ada sesuatu yang sangat penting yang menantinya di tempat ini, sesuatu yang harus ia pahami.


Dia mulai melihat kilas balik dari hidupnya. Kenangan-kenangan indah dan pahit berkelebat di hadapannya seperti layar sinematik yang tak berujung. Ia melihat dirinya saat masih anak-anak, berlari-lari riang di halaman rumahnya. Ia juga melihat saat-saat bahagia bersama teman-temannya, dan saat-saat sulit yang telah menguatkannya.


Kemudian, kilas balik itu membawanya ke saat terakhir sebelum kecelakaan. Dia melihat gambaran kecelakaan itu muncul, dan ia merasakan kembali rasa sakit yang tak terlupakan.


Seketika, ia merasa seperti ditarik ke dalam lubang hitam yang mengerikan. Dia merasa ketakutan dan terpisah dari segalanya. Namun, ketakutan itu perlahan-lahan berganti menjadi rasa damai, seolah-olah ia melepaskan beban yang selama ini ia pikul.


Aurelie tidak tahu berapa lama ia berada dalam keadaan ini. Waktu, di sini, terasa seperti konsep yang kabur. Namun, tiba-tiba, ia mendengar suara yang lembut dan menenangkan.


"Dia harus siap dalam 49 hari."


Suara itu muncul dari dalam dirinya sendiri, seakan-akan berasal dari kedalaman hatinya. Aurelie merasa sedikit bingung, tetapi juga merasa penasaran. Apa yang harus dia siapkan? Dan apa arti dari 49 hari?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aurelie merasa seperti berada dalam medan yang kabur antara kesadaran dan alam lain. Suara yang mengatakan "Dia harus siap dalam 49 hari" terus berputar-putar di benaknya, meskipun dia belum memahami sepenuhnya apa artinya.


Lalu, dengan lembut, Aurelie merasa seperti ia melayang menuju sebuah pintu cahaya. Pintu itu terbuka begitu saja di depannya, dan dia merasa seperti tidak punya pilihan selain masuk. Di dalam, dunia yang baru terbentang di hadapannya, seperti tanah ajaib yang penuh misteri.


Aurelie berjalan melalui medan yang aneh dan indah. Bunga-bunga yang tak pernah ia lihat sebelumnya bermekaran di bawah langit yang tak seperti dunia yang pernah ia kenal. Suara-suara yang indah dan musik yang lembut mengiringi langkahnya.


Saat ia menjelajah, Aurelie bertemu dengan sosok-sosok yang sepertinya bukan manusia. Mereka tampak seperti entitas spiritual yang bercahaya, dengan wajah yang penuh kasih sayang dan kedamaian. Mereka memberikan senyuman kepada Aurelie, seolah-olah mereka tahu sesuatu yang belum dia ketahui.


"Aurelie, kamu berada di antara alam kehidupan dan kematian. Kamu memiliki 49 hari untuk mempersiapkan diri sebelum melangkah lebih jauh. Ini adalah kesempatanmu untuk memahami dan memperbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki."


Aurelie menatap sosok spiritual itu dengan rasa ingin tahu dan kebingungan.


"Apa yang harus saya persiapkan? Dan mengapa 49 hari?" Tanya Aurelie.


Sosok itu tersenyum lembut.


 "49 hari adalah waktu yang diberikan agar kamu bisa memeriksa kembali hidupmu, memaafkan dirimu sendiri, memperbaiki hubungan yang mungkin belum terselesaikan, dan memahami tujuan sejati dari eksistensimu. Kamu akan bertemu dengan orang-orang yang pernah ada dalam hidupmu, dan kamu harus melewati berbagai ujian."


Aurelie merasa hatinya berdebar. Ini adalah perjalanan yang sangat berarti dan mendalam. Ia ingin benar-benar memahami dan mengambil manfaat dari setiap momen dalam 49 hari yang diberikan padanya.


Aurelie melangkah lebih dalam ke dalam alam spiritual ini, siap menghadapi ujian dan pelajaran yang akan mengubahnya selamanya.


...----------------...


Aurelie melangkah lebih dalam ke dalam alam spiritual itu, di setiap langkahnya, ia merasa semakin terhubung dengan esensi sejati kehidupan dan kematian. 49 hari yang diberikan padanya menjadi tugas yang tak terelakkan.


Dalam perjalanan itu , Aurelie mulai mengalami pengalaman yang mengejutkan. Ia bertemu dengan arwah-arwah teman-temannya yang pernah meninggal sebelumnya. Saat berinteraksi dengan mereka, Aurelie belajar tentang kehidupan yang dulu mereka jalani dan bagaimana setiap tindakan dan kata-kata memiliki dampak yang mendalam pada orang lain.


Salah satu temannya, Sarah, muncul dalam bentuk cahaya yang bersinar terang.


"Aurelie, aku ingin meminta maaf," kata Sarah dengan suara gemercik seperti angin.


Aurelie terkejut. "Maaf? Tentang apa, Sarah?"


Sarah terlihat menyesal.


"Selama hidupku, aku seringkali tidak memahami perasaanmu dan terlalu fokus pada diriku sendiri. Aku ingin meminta maaf atas semua ketidakpedulian dan egoisitasku."


Aurelie merasa haru.


"Terima kasih, Sarah. Aku juga punya kesalahan yang harus kujalani. Ini adalah kesempatan untuk kita saling memaafkan."


Selama 49 hari ini, Aurelie juga mengalami berbagai ujian. Beberapa ujian melibatkan pengambilan keputusan yang sulit, sementara yang lain melibatkan introspeksi mendalam tentang hidup dan tujuannya. Ini adalah proses pembersihan batin yang mendalam, dan Aurelie semakin menyadari nilai-nilai sejati dan pentingnya cinta, empati, dan pertumbuhan pribadi.


Saat hari ke 49 mendekat, Aurelie merasa semakin dekat dengan pemahaman yang lebih dalam tentang arti eksistensinya. Namun, ada juga rasa sedih yang menghantui pikirannya. Dia menyadari bahwa waktunya di alam ini akan segera berakhir, dan dia harus siap untuk melangkah lebih jauh, menuju alam abadi yang tak terkenal.


Bersambung...👉