
Burung-burung gagak itu beterbangan di dalam rumah tua itu, Ikel dan Detektif Yano kini aman di bawah meja itu, entah apa yang ditulis oleh ikel di atas meja itu dan sebuah lingkaran yang dia buat mengelilingi meja itu sehingga burung-burung gagak itu tidak berani melewati area lingkaran itu. Saat burung-burung gagak itu pergi, mereka Merasa lega. Kemudian mereka menoleh ke belakang mereka, seketika mata mereka melotot dan mereka terpaku di bawah meja itu, jantung mereka terdengar sangat jelas, rumah itu di penuhi oleh mayat orang-orang yang mati terbunuh.
Ada yang tanpa kepala, ada pula yang tubuhnya terbelah dua, dan berbagai macam mayat lainya. Detektif Yano hendak berlari keluar rumah tua itu, segera ikel menarik baju detektif Yano.
"Berbahaya di luar batasan." kata Ikel.
"Batasan? bagaimana kau tau?" tanya detektif Yano.
"Ya!" jawab Ikel.
"Siapa kau sebenarnya, apa kau seorang dukun atau sejenisnya?" tanya detektif Yano.
"Kau terus saja membicarakan hal-hal aneh!" ucap Ikel.
"Setidaknya jelaskan kepadaku." kata Detektif Yano.
"Hujan mengerikan adalah saat ikan atau bubuk besi turun dari langit seperti lumpur yang kau lihat tadi. Hujan hitam misterius itu di sebut hujan mengerikan." kata Ikel mencoba menjelaskan.
"Apa yang kau bicarakan?" Detektif Yano tidak mengerti.
"Roh jahat menggunakan kekuatannya, lalu dewa mengirimkan hujan hitam itu untuk memperingatkan manusia di bumi. Jadi hujan mengerikan ini tidak berbahaya." kata Ikel.
"Tidak berbahaya?" Ucap detektif Yano.
"Ya, kau benar. Hal terpenting kita harus mencari tahu penyebab hujan ini." kata Ikel.
Ikel menekan nomor dan menghubungi biksu Joy.
...----------------...
Di kuil Budha, biksu Joy dan biksu Jay sedang mencari informasi dengan komputer dan handphone mereka. Tiba-tiba handphone biksu Joy berdering.
[Misteri Channel Profesor Ikel Menelfon...]
"Halo, aku biksu Joy, profesor Ikel." jawab Biksu Joy.
"Pak, bukankah patung Budha terkutuk itu di temukan di gunung timur kota City Land?" Tanya Ikel.
"Ya, kau benar! tapi sekarang, patung Budha terkutuk itu sedang di pamerkan di kantor wilayah balai kota City Land." Ucap biksu Joy.
"Kamu serius? Kenapa patung itu bisa ada di sana?" Tanya Ikel.
"Tampaknya kantor wilayah balai kota menuntut ingin memamerkan patung Budha terkutuk itu disana. Gubernur yang baru terpilih itu, ingin menjadikannya objek wisata dan bersikeras untuk mengeluarkannya. Selain itu, seseorang sengaja menghapus segelnya." kata biksu Joy.
"Kenapa orang-orang gila itu berani menghapus segelnya?" Ucap Ikel geram.
"Ah, kami sedang bersiap untuk menuju balai kota City Land saat ini." kata Biksu Joy.
"Pak, jangan gegabah! balai kota saat ini di tutup. Aku di balai kota sekarang!" kata Ikel.
"Semoga kamu di lindungi! Profesor Ikel, dengarkan aku baik-baik. Siapapun yang menatap mata patung Budha terkutuk itu mereka akan melihat neraka. Mereka mendengar dan melihat sesuatu, itu sangat berbahaya bagi mereka yang berhati lemah dan jika mereka melihat mata patung Buddha terkutuk yang sudah tidak bersegel, balai kota dan sekitarnya akan menjadi kacau balau." kata Biksu Joy mengingatkan.
"Ya, baiklah!" jawab biksu Joy.
"Oke, berhati-hatilah semoga berhasil." kata Ikel dan kemudian memutuskan panggilan teleponnya.
"Jadi, maksudmu, semua ini terjadi karena patung Buddha itu?" tanya detektif Yano.
"Ya, kurasa begitu." Ucap Ikel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tengah-tengah kekacauan yang terjadi di kota besar yang sebelumnya sangat sibuk dan terletak sebuah tempat yang tidak terlupakan oleh kebanyakan orang, dimana Kota City Land penuh dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, pusat bisnis, dan kehidupan malam yang gemerlap. Namun, dalam Sekejap mata setengahnya dari kota city land berubah menjadi sesuatu yang misterius, mengerikan dan bahkan sampai mematikan.
Semuanya dimulai dengan serangkaian bencana yang tampaknya tidak memiliki penyebab yang jelas.
Aurelie yang sedang terikat itu berusaha semampunya untuk melepaskan tali yang membelenggunya itu. Tidak ada seorangpun yang mencurigainya, kini ia berhasil melepaskan ikatan itu, ia lalu mencari cela agar bisa keluar dari lobi balai kota tersebut. Saat semua orang terlihat lengah, ia lalu menemukan cela dimana dia bisa menyusup keluar dari tempat yang tadinya dia pikir aman untuk berlindung tapi kini malah mengancam nyawanya dan tidak jauh berbeda dengan kekacauan yang terjadi di luar gedung balai kota dan sekitarnya itu.
"Aku harus bisa keluar dari tempat ini, aku akan mencari bantuan dan menyelamatkan mereka yang terikat bersamaku. Sebelum itu aku harus bisa keluar dari sini." pikir Aurelie sambil berjalan perlahan-lahan menuju pintu rahasia yang hanya di ketahui oleh pejabat yang sebelum bencana terjadi sempat ia lihat.
Tidak ada yang menyadari kalau ia pergi karena banyaknya orang yang ada di lobi itu, dan semua orang kelelahan karena pasokan makanan dan minuman tidak ada. Kini ia berhasil keluar dari gedung balai kota, situasi di luar gedung sangat mencekam. Aurelie berjalan dengan sangat hati-hati, sebisa mungkin ia bersembunyi dan terus berjalan. Ia lalu mengirim pesan kepada detektif Yano.
"Pak detektif tolong aku, aku sedang di balai kota saat ini. Dan aku ada di luar gedung." ucap Aurelie.
Detektif Yano mendapatkan pesan singkat dari Aurelie dan menyuruh Ikel untuk pergi ke lokasi.
"Gadis ini, selalu saja dalam masalah, Ikel ayo kita kesana sekarang. Namun, tunggu sebentar apa yang kau gambar di kap mobil tadi? Apa itu bisa bekerja?" Tanya detektif Yano.
"Ya aku rasa begitu! Itu membuat kita tidak terlihat. Jadi jangan keluar dari mobil." Ucap Ikel.
"Baiklah, bisakah kita pergi sekarang? Aku khawatir anak ini , dia sudah seperti putriku." kata detektif Yano.
Tanpa berlama-lama, mereka Segera pergi ke lokasi dimana Aurelie berada.
20 menit kemudian, mereka tiba dan polisi itu hendak membuka pintu mobil namun ikel menghentikannya.
"Jangan sekarang, situasinya sedang berbahaya, kita aman dalam mobil karena mereka tidak melihat kita." ucap Ikel.
"Lalu bagaimana dengan anak itu?" Tanya Detektif Yano.
"Apa dia bisa berlari dengan cepat?" Tanya Ikel.
"Aku rasa begitu." ucap Detektif Yano.
"Maka suruh dia berlari kesini dan saat ia mendekat buka pintu mobil agar dia bisa masuk lalu segera tutup." kata Ikel.
Detektif Yano mengirimkan pesan pada Aurelie dan setelah menerima pesan itu tanpa berlama-lama Aurelie berlari dengan sangat cepat ke arah mobil mereka.
"Astaga anak itu!" Detektif Yano menggelengkan kepalanya.
Bersambung....👉