
Orang-orang berhamburan keluar dari ruangan auditorium itu. Aurelie menarik tangan wanita paruh baya yang bersamanya untuk keluar dari ruangan auditorium itu.
Di luar gedung balai kota, juga telah terjadi kekacauan yang luar biasa. Banyak orang telah dirasuki oleh roh-roh Jahat. Kebanyakan dari orang-orang yang di rasuki itu, membunuh orang dan sebagian dari orang-orang itu ada yang bunuh diri, mereka bahkan melompat dan menjatuhkan diri mereka dari gedung-gedung yang tinggi.
"Lari...!!!" orang-orang berteriak.
"Cepat pergi..!!!" teriak orang-orang sambil berlarian.
Kekacauan luar biasa terjadi, festival budaya Balai kota City Land, Patung Budha pengabul permintaan, berubah menjadi bencana yang tidak bisa di bayangkan.
Aurelie dan wanita paruh itu terpisah. Aurelie berdiri di antara orang-orang yang berhamburan berlari untuk menyelamatkan diri mereka. Ia lalu melihat wanita paruh baya yang bersamanya berdiri di seberang jalan.
"Nak Aurelie, apa yang terjadi?" Wanita itu berteriak.
Namun tiba-tiba sebuah truk melintas dan menabrak wanita tua itu di hadapan Aurelie. Aurelie terkejut bukan main melihat wanita tua itu terlempar jauh dan badannya hancur karena tertabrak truk.
"Terus lari..!!" Orang-orang berteriak satu sama lain saling mengingatkan.
Orang-orang yang kerasukan roh-roh Jahat itu saling membunuh dan membunuh orang-orang yang mereka temui. Darah orang-orang muncrat kemana-mana bagaikan hujan yang turun. Aurelie hanya terus berlari tampa arah dan tujuan.
Aurelie kemudian mengikuti gubernur dan orang-orang lainnya berlari ke lobi dimana patung Budha terkutuk itu di simpan.
"Tutup pintunya!" Teriak gubernur.
Gubernur lalu memerintahkan orang-orang untuk memblokir semua pintu dan jendela untuk memastikan mereka yang selamat aman di dalam lobi balai kota.
1 jam kemudian, berita mengenai bencana misterius yang terjadi di upload ke internet.
[Peringatan bencana! Balai kota City Land dan area sekitarnya dinyatakan sebagai area bencana nasional.]
"Area bencana nasional? Sial! Apa yang terjadi?" Kata seseorang dalam lobi.
"Apa yang terjadi? Apa yang akan di lakukan oleh orang-orang disini? Tidak ada yang bisa masuk ataupun keluar." kata salah satu pejabat pada gubernur.
"Kurasa kita dalam masalah!" kata salah seorang dalam lobi.
"Semuanya! Tolong jangan panik. Kita semua mendapatkan lesan peringatan bencana di handphone kita masing-masing. Itu yang berarti pemerintah pusat mengetahui masalah ini. Kita harus tetap tenang dan menunggu. Ini hanya bencana, semuanya akan baik-baik saja." kata gubernur mencoba menenangkan orang-orang.
...----------------...
Gubernur kemudian menyuruh bawahannya yang masih selamat untuk menghubungi pihak kepolisian. Namun berapa kali pun mencoba, tidak ada jawaban.
"Pak gubernur, pihak polisi tidak menjawab panggilan telepon." ucap bawahannya.
"Kenapa polisi tidak menjawab telepon?" kata gubernur marah.
"Katanya ada terlalu banyak panggilan yang masuk." jawab bawahannya.
"Pak gubernur, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya salah satu masyarakat yang ada di dalam lobi balai kota.
"Kenapa tiba-tiba semua orang bertindak gila? Kamu harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kami semua." kata salah satu masyarakat di dalam lobi balai kota itu.
"Apa ini yang terjadi? Ini semua karena hujan hitam misterius yang terjadi kemarin." ucap bawahan gubernur.
"Hujan?" kata Aurelie dalam hatinya.
Aurelie duduk di sudut ruangan sambil terus gemetaran karena ketakutan.
"Coba kalian pikirkan, ada hujan hitam! Ya hujan hitam misterius. Pasti ada kandungan yang aneh disana. Semacam virus mungkin." kata bawahan gubernur mencoba menjelaskan.
"Virus?" kata orang-orang di dalam lobi balai kota.
"Maksudmu, ada virus dalam hujan itu?" tanya salah satu masyarakat.
"Ya, itu yang telah membuat semua orang berubah menjadi gila! Yang telah terinfeksi bukan lagi manusia! Mereka harus di bunuh atau kita semua akan mati." kata gubernur membenarkan ucapan bawahannya.
"Bunuh? Membunuh orang?" kata salah satu orang dalam lobi itu.
"kalian lihat sendiri tadi. Menurut kalian mereka itu manusia? Mereka bukanlah manusia." ucap bawahan gubernur itu.
"Lalu bagaimana kita bisa membunuh mereka?" ucap salah satu orang di lobi itu.
"Mereka bukan manusia. Apa yang harus kita lakukan?
Sementara semua orang berdebat. Tiba-tiba Aurelie terjatuh dan pingsan. Salah seorang di dalam lobi itu berteriak dan membuat semua orang ketakutan.
"Lihat! Ada yang terinfeksi disini. Cepat pegangin dia sekarang!!!" teriak salah seorang di dalam lobi itu.
Semua orang termaksud gubernur tidak berani melakukan apapun. Pria itu kemudian bertindak dan mengambil sebuah linggis di sudut ruangan itu.
"Apa yang kalian pikirkan! Minggir kalian dan jangan halangi aku." kata pria itu.
"Kita harus membunuh siapa saja yang telah terinfeksi." kata pria itu sambil berjalan ke arah Aurelie.
"Tidak! Jangan bunuh dia." seseorang mencoba menghentikan pria itu.
"Kalian sudah gila? Wanita ini hanya pingsan. Dia tidak terinfeksi." ucap nenek tua.
Namun, karena semua orang telah termakan oleh perkataan pria itu yang mengatakan kalau Aurelie yang pingsan telah terinfeksi hanya diam saja dan tidak melakukan apapun. Hal itu membuat pria itu merasa berkuasa di di ruangan itu. Ia kemudian memukuli nenek tua itu yang mencoba melindungi Aurelie. Nenek itu terkapar di lantai dengan darah yang mengalir keluar dari kepalanya, namun tidak ada seorangpun yang datang untuk menolong atau menghentikan aksi gila. pria itu.
"Tidak! Jangan bunuh gadis itu." ucap nenek itu memohon.
"Hey dia itu bukan lagi manusia!" jawab pria itu sambil berjalan ke arah Aurelie.
Saat pria itu hendak membunuh Aurelie, nenek itu menarik kaki pria itu dan memohon untuk tidak membunuh Aurelie.
...----------------...
Di tengah kepanikan dan kebingungan dalam lobi handphone Aurelie berbunyi. Gubernur menghentikan pria itu dan nenek itu merangkak ke arah Aurelie untuk mengangkat telponnya.
Setelah berbicara dengan seseorang, tiba-tiba saja anak dari nenek tua itu berbicara padanya. nenek tua itu menghidupkan pengeras suara handphone Aurelie.
Gubernur tersenyum dan mengambil ponsel itu dari nenek tua dan berbicara dengan anak nenek tua itu.
"Halo, ini gubernur City Land." ucap gubernur.
"Baik, Pak gubernur! Semua orang sedang berada di balai kota sekarang." kata anak nenek itu.
"Ya, kami ada di balai kota. Dimana kamu? Jika diluar, bisakah kau ke kantor polisi sekarang? Dan menurunkan polisi atau SWAT untuk kami?" ucap gubernur.
"Begini, aku kepala polisi kantor pusat City land." ucap anak nenek itu.
"Benarkah?" ucap gubernur.
"Pak gubernur, nenek itu adalah ibuku. Tolong jaga dia baik-baik. Kami akan segera kesana." kata anak nenek itu.
"Ya terima kasih! Cepatlah kemari." ucap gubernur.
"Baiklah. Bisa tolong sambungkan dengan ibuku?" ucap polisi itu.
"Ya, ini ibu." ucap nenek tua itu.
"Ibu, tunggu dan diamlah disitu, aku akan segera datang." ucap anaknya.
"Baik." jawab nenek tua itu.
Setelah telefon selesai, gubernur membantu nenek tua itu berdiri dan memeluknya.
"Putramu teryata seorang polisi." Kata gubernur.
Gubernur dan bawahannya tersenyum dan membuat pengumuman di lobi balai kota.
"Dengar semuanya. Kalian bisa tenang sekarang. Polisi akan segera datang. Kita aman sekarang. Kita harus tetap tenang disaat seperti ini. Dan jangan sampai tersulut emosi." kata gubernur.
Semua orang merasa lega mendengar ucapan gubernur. Namun pria itu tidak merasa senang dan ia sangat kesal juga marah pada semua orang.
"Hey anak muda, jangan terlalu kejam pada orang lain. Kau tidak. Oleh melakukannya pada orang yang lebih tua darimu." kata gubernur pada pria itu.
Kemudian gubernur kembali berpidato pada semua orang.
"Semuanya kita aman sekarang!" kata gubernur senang.
Saat semua orang sudah merasa tenang. Pria itu kemudian berteriak dan membuat suasana di lobi menjadi menakutkan.
"Hey kalian semua. Aku ingin bertanya. Di antara kalian, yang terkena hujan hitam misterius kemarin angkat tangan!" kata pria itu sambil memegang sebuah linggis di tangannya.
Beberapa orang mengangkat tangannya. kemudian bawahan gubernur juga mengangkat tangannya.
"Aku juga kehujanan kemarin. Aku basah kuyup dan aku pulang untuk berganti pakaian. Tiba-tiba hujan hitam itu turun." kata bawahan gubernur itu.
Pria itu seketika melompat dan menendang bawahan gubernur itu. Ia memukul-mukuli bawahan gubernur itu dan tidak ada seorangpun yang berani menghentikan pria itu.
"Seseorang tolong aku! Pak gubernur tolong aku." Teriak bawahannya itu.
Kemudian, pria itu menghampiri dan menyuruh gubernur untuk mengikat semua orang yang mengangkat tangannya yang telah terkena hujan hitam itu kemarin.
"Hey kau apa yang kau lakukan? Ikat semua orang mengangkat tangannya itu. Mereka semua terkena hujan hitam itu kemarin, bisa saja mereka akan terinfeksi." kata pria itu.
"Ya...ya.. Kau benar, lebih baik kita waspada." kata gubernur tidak ada pilihan lain.
"Dan satu lagi, aku bukan pria muda!" kata pria itu sambil mendorong gubernur itu.
karena merasa terancam, gubernur tidak punya pilihan lain selain menyuruh untuk mengikat semua orang terkena hujan hitam misterius itu kemari.
"Ikat mereka semua." perintah gubernur.
Kekacauan kembali terjadi di lobi balai kota.
Bersambung...👍👉