Aku Bukan Bidadari Surgamu

Aku Bukan Bidadari Surgamu
61. Pantai


"Aku nggak cemburu mas!" tegas Mina menatap suaminya. Ia mencoba menyangkal padahal ia benar-benar cemburu.


"Kamu jangan bohong sayang, mata kamu menunjukkan kalau kamu cemburu,"


"Mas..aku nggak cemburu, aku cuma merasa bodoh aja, kenapa aku nggak tau kalau kamu pernah di jodohkan, malah aku tau dari orang lain,"


"Kan itu masa lalu sayang, semua orang pasti punya masa lalu, termasuk aku. Ya udah deh aku minta maaf kalau aku udah buat kamu marah. Aku juga minta maaf karena semalam aku mampir ke rumah Safiyah tanpa mengabari kamu, kamu maafin aku kan," ucap Athar bersungguh sungguh.


Mina menghela nafas dalam. ia mencoba berpikir positif untuk segala halnya. "Udah mas, aku juga salah kok, aku minta maaf ya, nggak seharusnya aku bersikap dingin sama kamu terlepas dari semua alasan itu,"


"Nggak sayang, kamu nggak salah," tutur Athar sembari memeluk sang istri.


"Ya udah mendingan kita sarapan yuk mas," ajak Mina seraya menggenggam tangan Athar menuju ruang makan.


Kini Athar dan Mina tampak sarapan bersama di ruang makan. Mina tampak menuangkan air minum ke gelas Athar dan menyiapkan sarapan untuk Athar.


"Makasih ya sayang," ucap Athar sebelum ia makan.


Mina menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Oh ya mas, maafin aku ya, padahal kemarin kemarin aku pernah bilang kalau aku mengizinkan kamu untuk menikah lagi, tapi aku malah cemburu saat kamu bertemu dengan Safiyah," ucap Mina hingga membuat Athar tersedak saat ia minum.


"Kamu bicara apa sih sayang, siapa yang mau nikah lagi? kan aku udah janji sama kamu kalau kamu adalah satu satunya yang pertama dan terakhir menjadi pendamping hidup aku," tegas Athar menatap Mina dengan serius.


"Mas...jangan bohong kalau kamu merindukan sosok anak, aku tidak mau egois mas, kamu berhak mendapatkan kebahagian kamu, dan kebahagiaan orang tuamu, makanya aku ingin kamu memikirkannya baik-baik," tutur Mina dengan serius.


"Ada banyak cara untuk bahagia sayang, nggak harus dengan memiliki anak secepat ini, kita bisa tunggu sebulan, dua bulan atau bahkan setahun lagi, intinya kita sabar aja," tutur Athar dengan lembut.


Mina hanya terdiam dan menundukkan wajahnya. Ia mendengarkan perkataan Athar meski merasa bersalah pada suaminya itu.


...***...


Satu bulan kemudian,,


Pagi itu Mina mendapat telpon dari pondok pesantren. Ia dengan semangat mengangkat karena ingin berbicara dengan Aisha.


"Halo.. assalamualaikum umi.." sapa Aisha di telpon.


"Waalaikumussalam sayang..gimana kabar kamu Aisha, betah di pesantren,"


"Alhamdulillah betah umi, tapi Aisha rindu sama umi, sama teman teman panti juga,"


"Sabar ya Aisha, itu memang pengorbanan untuk menuntut ilmu, suatu saat pasti tiba masanya kita bisa bersama sama lagi,"


"Iya Mi, umi sama Abi sehat kan?" tanya Aisha


"Alhamdulillah sehat, kamu jaga diri baik baik ya, kalau butuh apa apa langsung kabari kami," ucap Mina yang amat senang mendengar suara Aisha meski hanya dari Telpon.


Tak lama kemudian, Aisha pun menutup Telpon karena tidak bisa lama lama meminjam hp salah satu ustadzah di pesantren itu.


"Telpon dari siapa sayang?" tanya Athar yang baru usai memberi makan ayam.


"Dari pesantren mas, katanya Aisha betah kok di sana, jadi kita nggak perlu khawatir lagi,"


"Alhamdulillah..bagus kalau gitu, Mas..Swety udah makan?"


"Udah," jawab Athar


"Bagus ya..aku semalam nggak makan kamu nggak lakuin apa apa tuh, giliran Swety aja kamu langsung perhatiin kalau dia nggak makan," ucap Mina yang tampak bercanda.


"Ih mulai deh..cemburu lagi? masa sama Swety aja kamu cemburu sih sayang,"


Athar tersenyum sembari mencubit pipi Mina.


"Tau nggak..5 telor Swety udah mau menetas kayaknya, kita lihat yuk,"


"Ayo...ayo mas..aku juga pengen lihat,"


Athar dan Mina kini buru buru melihat telur telur ayam yang akan menetas.


Sampailah di kadang ayam. Mina dengan serius menatap telur itu yang mulai retak dan menunjukkan wujud anak ayam yang lucu.


"Ayamnya udah bersuara mas," Mina dengan girang menatap anak anak ayam yang masih di sekitar retakan cangkang telur.


Athar pun ikut senang melihat ayam kesayangannya kini memiliki anak yang banyak.


"Selamat ya Swety, kamu beruntung punya anak sebanyak ini," tutur Athar menatap ayam yang sudah berkeliaran bersama kelima anaknya.


Mendengar ucapan Athar itu seolah membuat Mina merasa tersentuh. Andai mina pun bisa memiliki anak seperti Swety. Mina terdiam sejenak dan memikirkan hal hal yang harusnya tak perlu ia pikirkan.


"Maaf sayang...aku nggak bermaksud menyinggung kamu," ucap Athar, ia tau bahwa Mina tersinggung dengan perkataannya.


"Nggak pa pa kok mas, kamu benar Swety beruntung tidak seperti aku,"


"Sayang..kamu jangan bicara kayak gitu dong, kamu juga beruntung kok, udah..jangan di pikirkan ke arah sana lagi ya, mendingan sekarang kita jalan jalan, kamu mau kan.."


Mina pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya seraya mengiyakan.


Jalan jalan kali ini mereka tidak menaiki mobil namun mengendarai motor. Dengan membaca bismillah, Mina naik ke motor Athar.


"Pegangan sayang.." ucap Athar pada Mina yang ia bonceng di belakangnya.


"Kok naik motor sih mas.."


"Iya..biar keren sayang, kamu nggak bosan naik mobil mulu, oh ya..kamu mau jalan jalan kemana?"


"Kemana ya..aduh aku juga bingung mas, terserah mas aja deh,"


"Oke..kalau gitu kita ke pantai mau?"


"Ya udah deh aku ngikut aja mas," sahut Mina dari belakang.


Sampailah di pantai.


Mina menginjakkan kakinya di pasir tepi pantai. Angin berhembus sejuk menerpa wajahnya. Mina merasa senang karena baru kali ini ia berdua di pantai bersama athar.


"Gimana? kamu suka kan ?" tanya Athar menatap sang istri yang tampak menikmati pemandangan pantai sembari melangkahkan kakinya di pasir yang sesekali di lalui ombak.


"Iya mas..kamu lihat deh, pantai ini masih bersih dan indah untuk di pandang," ucap Mina menoleh ke arah Athar di belakangnya.


"Iya sayang ..indah, tapi di mataku kamu lebih indah," balas Athar sembari merangkul Mina. Keduanya menikmati hari, melepas semua beban di hati masing-masing.


"Terimakasih untuk semuanya mas, perjuangan kamu untuk bersama ku sungguh luar biasa, dan kini kamu masih bisa bersikap seolah kamu baik baik saja tanpa keturunan hanya untuk setia bersama ku, aku tak tau lagi bagaimana caranya berterima kasih, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu mas athar," ucap Mina dalam hatinya saat ia memandangi wajah Athar di tepi pantai.


...------------...


Tetap dukung karya ini ya..😉