Aku Atau Dia Yang Pelakor

Aku Atau Dia Yang Pelakor
Bab 9


Tidak lama kemudian. Elvano keluar dari dalam kedai kopi itu sambil membawa dua gelas putih dengan asap yang banyak di atas gelas tersebut. Kemudian memberikan salah satu gelas itu kepada wanita yang menyambutnya dengan senyum manis.


Wanita itu menatap nya seakan menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Elvano. "Aku membelikan mu susu hangat...bukan kopi."


"Benarkah-"


Belum sempat Isyana melanjutkan kata-katanya. Elvano dengan cepat memotong. "Maaf, bukan nya lancang...hanya saja menurutku wanita tidak baik meminum kopi," katanya.


Wanita berwajah sendu itu terpaku dan tak sadar sudah menatap intens ptia didepan nya. Dia begitu perhatian dan tidak ada crlah keburukan dalam dirinya. Lagi-lagi kata pujian terus terucap dalam hati Isyana untuk Elvano.


"Terima kasih, El...aku juga tidak suka minum kopi."


Elvano bernafas lega, saat pilihan nya tidak salah dan tidak membuat Isyana ilfil padanya. Yang sudah lancang mengatur minum padahal mereka baru saja saling kenal.


Pria itu pun menarik kursi dan ikut duduk bersebelahan dengan Isyana. Menikmati minuman hangat masing-masing sambil menatap derasnya air hujan yang tidak kunjung redah.


Sesekali Elvano mencuri pandang kearah Isyana yang memegangi gelas dengan kedua tangan. Dia tahu jika itu untuk menghangatkan kedua tangan nya yang kedinginan. Sikap itu memacu sebuah senyuman tipis di bibir Elvano. Kemudian dia kembali berpaling menatap arah depan.


"Kamu kenapa? Kok senyum-senyum gitu?" tanya Isyana yang tidak sengaja melihat Elvano tersenyum sendiri.


"Hah? Hahah, aku tidak apa-apa kok," ucap Rlvano sembari terkekeh menatap Isyana.


Keadaan setengah basah itu membuat sinar diwajah Isyana semakin terlibat. Dengan rambut sedikit teracak karena basah membuatnya sangat cantik. Tangan nya pun tidak sadar tergerak sendirinya, meraih beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajah wanita cantik itu.


Isyana terdiam mematung. Sentuhan lembut tangan Elvano yang juga mengenai kulit wajahnya. Seakan membuat tubuhnya meremang. Rasa dingin di wajahnya kini berganti jadi rasa hangat disekitar pipinya.


Beberapa detik kemudian pria itu tersadar dan langsung gelagapan. Dia gugup ditatap intens wanita yang rambutnya dia sentuh tanpa izin. Apalagi saat wanita itu tak kunjung berkata sesuatu dan hanya diam. Menambah rasa gugup dihatinya.


"Oh, honeey are you okay?"


Meskipun sudah tua mereka nampak begitu romantis. Tangan yang saling bergandengan dan bercanda ria di tengah hujan. Sungguh pemandangan yang menyejukan mata.


Elvano menoleh ke arah Isyana. Wanita itu ternyata sedang menikmati pemandangan menyejukan itu. Dengan wajah berseri dan senyuman yang tergambar jelas diwajahnya. Sungguh pemandangan yang tak kalah menyejukan di mata Elvano.


Namun pandangan Elvano tertuju pada jemari Isyana yang bergetar. Bibir merah nya yang tersenyum juga ikut bergetar. Menandakan jelas bahwa dia sedang menggigil kedinginan. Dengan sigap dia membuka jaketnya lalu menyelimuti tubuh Isyana menggunakan itu.


Isyana terkejut dia langsung menoleh ke Elvano. Pria itu tersenyum sambil mengusap pucuk kepalanya.


"Jangan dilepas, aku tau kamu lagi kedinginan kan," ucapnya menahan tangan Isyana yang hendak membuka jaket itu.


"hmm sekali lagi makasih ya," jawab Isyana.


Melihat Elvano yang kembali menatap kedepan membuat Isyana kembali mengikuti arah pandang pria itu. Dia sedang menatap kedua sejoli yang romantis tadi tengah bertatapan dan salah satu nya mencium kening pasangan nya.


"Mereka sangat romantis," ucap Elvano.


"Ya, aku sangat iri diusia mereka yang sudah lanjut...tapi hubungan mereka sangat romantis," imbuh Isyana kemudian.


Membuat Elvano menoleh menatap wajah Isyana. Begitu pun Isyana yang juga menoleh ke arah Elvano. Keduanya terlibat saling tatap dengan begitu intens. Berbicara pada batin masing-masing.


"Entah kenapa hatiku terasa tenang, hanya dengan menatap wajahmu," batin Elvano.


"Rasa nyaman ini semakin besar, padahal kita baru saja bertemu, apakah aku salah?" batin Isyana.


...To be continued....