Aku Atau Dia Yang Pelakor

Aku Atau Dia Yang Pelakor
BAB 4


"Mas? Itu hpnya siapa?"


"Oh, itu hp kantor aku sayang," Iqbal menjawab dengan kikuk.


Iqbal pun membangunkan wanita yang sedang tertidur itu dengan menepuk bahunya. Wanita itupun terbangun. Dengan wajah cantik saat bangun tidur wanita itu menyibak rambutnya kebelakang. Iqbal menunjuk arah ponsel wanita itu yang terus berdering.


"Elvano..." desis wanita itu pelan. Dia pun segera beranjak dari ranjang sambil membalut tubuhnya dengan selimut kemudian berlari kearah balkon. Menjawab panggilan nya.


"Aku mandi dulu ya sayang," ucap Iqbal seraya mengalihkan pembicaraan Isyana yang terus bertanya.


"Baiklah Mas, aku juga lagi ada pertemuan ini. Kamu jangan lupa sarapan ya..." Panggilan pun terputus.


Iqbal menghela nafas lega. Dia pun merebahkan kembali tubuhnya sambil memijit keningnya yang terasa penat. Hampir saja dia ketahuan.


"Astaga, apa yang sudah kulakukan? Ini pasti gara-gara mabuk semalam..." Iqbal memaki dirinya sendiri.


"Nabila? Kamu baru bangun? Kamu dimana sekarang?"


Nabila menggigit kukunya bingung untuk menjawab pertanyaan Elvano. "A-aku baru bangun El, semalam capek banget.."


"Bagaimana dengan Nano? Apa kamu tidak mengurusnya sekolah?" Suara Elvano terdengar kesal membuat Nabila semakin ketakutan.


"Nano sudah pergi sekolah El, kamu tenang saja. Aku mau mandi dulu nanti aku hubungi lagi ya..."


Nabila segera menutup panggilan dengan cepat. Kemudian berjalan masuk kembali kedalam kamar menghampiri Iqbal.


"Nabila, apa yang sudah kita lakukan?" ucap Iqbal dengan wajah bingung nya.


"A-aku juga gak tau, mungkin karena kamu mabuk semalam." Nabila menghela nafas panjang.


"Bagaimana jika istriku tahu?"


"Ya aku juga gak tau, bagaimana juga jika Elvano tahu tentang ini...habislah kita berdua..."


"Aku tidak takut pada Elvano, dari waktu kuliah aku tidak pernah takut padanya..."


"Sekarang sebaiknya kamu mandi dan aku akan mengantarmu pulang, kita bicarakan masalah ini nanti..."


Nabila pun mengangguk dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Didalam kamar mandi Nabila terus mengingat kejadian semalam.


"Nabila makin cantik aja..." batin Iqbal.


"Sepertinya Iqbal sudah sangat mapan, dari dulu aku memang tidak bisa melupakan nya..." batin Nabila.


Nabila dan Iqbal dulunya adalah sepasang kekasih waktu kuliah. Namun karena sebuah kesalahan Nabila harus menikah dengan Elvano, membuat Iqbal sangat geram. Sejak saat itu Iqbal tidak pernah bertemu dengan Nabila lagi. Akan tetapi di reuni semalam mereka dipertemukan kembali.


***


Isyana kembali duduk di kursinya. Bersamaan dengan Elvano yang selesai menelpon. Elvano menyadari perubahan raut di wajah Isyana. Ia pun bertanya.


"Ada apa Bu Isyana? Apa ada masalah?" tanya Elvano.


Isyana tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Pak. Mari kita lanjutkan pembahasan proposal nya."


"Baiklah, jadi besok kita pergi bersama ke lokasinya ya..."


Isyana mengangguk. Meskipun dia sedang membicarakan masalah pekerjaan. Akan tetapi pikiran nya tidak bisa berhenti memikirkan sang suami. Ada rasa curiga yang terbesit dibenaknya. Perasaan nya tidak tenang. Terlebih saat dia mendengar deringan ponsel yang sangat asing di telinga nya.


"Ada apa denganku? Isyana kamu tidak boleh mencurigai suami sendiri hanya karena suara hp...mungkin aja Mas Iqbal mengganti nada dering hpnya...berpikirlah positif Isyana," batin Isyana tidak tenang.


Elvano yang melihat raut wajah Isyana yang tidak karuan. Terlebih dia malah diam melamun. Mengibas udara di depan wajah Isyana.


"Bu Isyana? Apa anda yakin baik-baik saja?"


Isyana tersadar dan mengangguk. "Saya baik-baik saja."


"Sepertinya pembahasan kita kali ini sampai sini saja."


...To Be Continued....