
Sesampainya dikantor Isyana.
“Aku sudah minta Dira untuk mengantarmu saat pulang kerja, maaf aku tidak bisa jemput lagi banyak kerjaan,” ucap Ikbal saat Isysna hendak keluar dari mobil.
Isyana menghela nafas dan matanya berputar malas. “Pekerjaan apa yang dilakukan malam hari,” gerutunya pelan.
Isyana pun langsung disambut Dira yang sedari tadi menunggu di lobby.
“Sudah lama menunggu?” tanya Isyana seraya berjalan menuju lift. Disusul Dira yang memegang tablet ditangan nya.
“Lumayan, Bu. Ada setengah jam,” jelas Dira.
“Ini materi yang sudah saya siapkan untuk rapat nanti.” Dira memberikan tablet tersebut pada Isyana.
Saat pintu lift menutup Dira segera menekan tombol lantai 3, dimana ruang rapat berada.
Ting...
Pintu lift terbuka. Isyana mengenakan jas kerja yang sudah disiapkan pegawainya yang menunggu di depan ruangan rapat. Isyana, Dira dan dua karyawan nya masuk ke dalam ruang rapat.
“Maafkan atas keterlambatan saya,” ucap Isyana meminta maaf kepada klien nya.
“Tidak masalah, Bu Isyana.”
Seketika itu Isyana menegakkan pandangan nya terkejut, mendapati Elvano yang kini tengah berada di depan nya. Bersama dengan kedua karyawan nya yang siap membawa beberapa berkas ditangan mereka.
“Bu Isyana!”
Isyana mematung hingga tidak mendengar panggilan dari Dira.
“Bu Isyana!”
Panggilan kedua sedikit menuntut, tapi yang di panggil tetap tidak bergeming. Dira pun mendekat dan menyentuh pundak Isyana.
“Hah?” Isyana tersentak kaget menatap Dira yang ada di samping nya. Dira sang asisten memberi isyarat bahwa sedang ada klien di tempat itu.
“Oh iya-iya, maaf aku sedikit tidak fokus,” ucap Isyana gelagapan.
“Pak Elvano, silahkan duduk.”
“Terima kasih, Bu. Bisa kita mulai rapatnya?” Elvano juga tidak mengalihkan pandangan nya pada Isyana. Membuat wanita itu semakin gugup.
“Baik ... Dira mari kita mulai,” ucap Isyana seraya mengalihkan pandangan nya kepada Dira.
Selama dua jam mereka rapat. Isyana tidak bisa tenang, mata nya selalu mencuri-curi pandang ke Elvano. begitu pun juga dengan Elvano. secara terang-terangan dia tidak segan menunjukkan dia menatap Isyana. Membuat Dira sadar bahwa ada sesuatu pada kedua orang itu. Seperti tiga bulan lalu saat mereka mengerjakan proyek di Newyork, untuk perusahaan Elvano.
“Bu Isyana?” panggil Elvano saat Isyana hendak masuk kedalam lift.
Isyana terkejut saat Elvano memanggilnya. Dia menatap Dira dan karyawan yang lain, yang sedang menunggunyta masuk kedalam lift. Isyana tidak mau para karyawan nya akan salah paham terhadap hubungan nya dengan Elvano kali ini.
“Ya, ada apa Pak Elvano?” tanya Isyana seraya tersenyum tipis.
“Sudah jam makan siang, saya mau traktir anda makan,” ucap Elvano. Melihat raut wajah Isyana yang tegang.
“Sekalian ada yang mau saya bahas soal pekerjaan,” lanjutnya.
“Baiklah ... Dira kamu makan siang bareng karyawan yang lain saja, hari ini saya makan siang dengan Pak Elvano.” Isyana pun keluar dari lift tempat para karyawan naik. Pintu lift tertutup Isyana langsung menatap Elvano dengan tajam.
Elvano tersenyum sambil mengedikkan bahunya. “Ada apa? Apa saya ada salah bicara? Saya cuman mau mentraktir anda makan siang, Bu Isyana!”
“Ya sudah, ayo. Jangan malah senyum-senyum aja,” ucap Isyana menggerutu.
Elvano tertawa pelan sambil mengikuti langkah Isyana menuju keluar kantor. Sudah lama sekali rasanya dia tidak menjahili Isyana. Wajah cemberut wanita itu adalah hal yang paling dirindukan oleh Elvano.
Elvano mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah restoran makanan cina.
Elvano membukakan Isyana pintu mobil. Isyana pun keluar dari mobil, menatap bagian depan restoran tersebut. Dia ingat kalau sang ayah dulu suka membawanya ketempat itu. Elvano mengisyaratkan Isyana untuk masuk dan dia mengikuti di belakang.
“Selamat datang!” sambut pegawai restoran dengan ramah.
DIa menatap sekeliling. Sudah banyak yang berubah dari tempat itu semenjak tiga tahun lalu, terakhir kali dia ketempat tersebut.
Pupil mata Isyana seketika melebar. Dadanya berdebar sampai-sampai dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Saat tidak sengaja menangkap pemandangan yang membuat darah di dalam badannya mendidih. Yaitu, Ikbal dan Nabila yang sedang bergandengan dengan mesra memasuki salah satu ruangan privasi.
“Bu Isyana!” Elvano memanggilnya. Membuat tubuhnya tersentak kaget.
Isyana cepat-cepat menggandeng Elvano pergi. Dia tidak mau Elvano sampai melihat Ikbal suaminya sedang bersama wanita lain. Isyana sangat malu.
Saat berada di dalam ruang makan yang di pesan Elvano. Isyana pun sadar dan langsung melepaskan tangan Elvano lalu duduk dengan gugup di kursi yang disediakan.
“Maafkan aku,” ucap nya lirih.
Elvano diam tak menjawab dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Isyana. Sejak saat itu suasana di dalam ruangan itu hening dan canggung. Isyana pura-pura sedang membaca sesuatu di ponselnya. Tapi sesekali dia mencuri pandang ke Elvano. pria itu juga hanya diam dengan wajah datar, menatap layar ponselnya.
“Gara-gara Mas Ikbal, aku sampai tidak sadar ... sepertinya Elvano marah,” batin Isyana.
“Bodohnya, aku tidak tahu harus berkata apa-apa pada Isyana,” batin Elvano.
Tidak lama kemudian pelayan datang membawa makanan pesanan mereka, lalu menatanya di atas meja dengan rapi. Isyana menatap semua makanan itu sambil tersenyum. Dia ingat semuanya sama persis seperti yang dipesan sang ayah jika mereka makan di tempat itu.
Isyana menengadah menatap Elvano yang ternyata sejak tadi sedang menatapnya. Elvano bingung kenapa Isyana menatapnya dengan mata sendu.
“Tidak suka makanannya?”
Isyana menggeleng matanya sedikit berkaca. “Aku suka, terima kasih.”
Isyana pun mulai menyendok beberapa makanan begitu juga dengan Elvano. pria itu tersenyum bisa melihat Isyana makan dengan lahap. Karena dia ingat kalau Isyana pernah cerita bahwa tempat ini adalah kenangan nya bersama sang ayah.
Drrt drrt drrt. Ponsel Isyana tiba-tiba bergetar. Isyana pun membuka pesan dari Dira. Sambil makan Isyana membaca berkas yang dikirim oleh asistennya itu. ‘Ini data pribadi wanita yang Bu Isyana minta saya cari tahu.’
“Nabila Oktavia, umur 30. Kerjaan seorang model dan memiliki sebuah butik. Butik nya ada di jalan pahlawan, lumayan dekat dari apartemenku ... sudah menikah dan memiliki seorang putra.” Isyana membaca pelan data Nabila.
Elvano tidak mendengar dan hanya bisa memperhatikan Isyana dengan kesal. Karena wanita itu tidak fokus makan dan terus menatap ponselnya.
“Ya Dir, siapkan mobil dan jemput saya di restoran cina di jalan tiga generasi 30 menit lagi,” ucap Isyana saat dia melakukan panggilan telepon.
“Iya, bawa se ... uhuk uhuk uhuk.” Isyana tiba-tiba tersedak. Sampai-sampai air matanya menetes.
Elvano pun dengan sigap menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu memberikan nya pada Isyana. Pria itu kemudian mengambil ponsel Isyana yang masih di genggam sama pemiliknya.
“Apa tidak bisa fokus makan dulu? Kerjaan itu nomor dua, bagaimana jika terjadi sesuatu yang fatal saat kamu tersedak tadi? Kebiasaan burukmu itu makan sambil menerima telepon bisa membuat mu celaka,” ucap Elvano kesal. Saking kesalnya dia tidak sadar kalau sudah mengomeli Isyana.
Isyana terdiam lalu tidak sengaja menjawab, “Iya iya El, aku tahu itu ... kamu,” kemudian dia tersadar dan jadi gelagapan, “maaf, maksudku ... Pak Elvano.”
“Hahaha!!” Elvano tersenyum lalu tertawa lepas karena tidak bisa menahan nya. saat melihat wajah Isyana yang memerah.
“Dia malah tertawa!” gerutu Isyana pelan dengan wajah berubah cemberut.
“Sya, aku mau kita bicara santai lagi, tidak perlu formal seperti ini. Rasanya seperti orang asing saja,” tutur Elvano.
Isyana diam dan menatap Elvano dengan lekat.
“Maafkan aku, bukan nya aku menganggap kita seperi orang asing ... tapi aku mengira kamu nggak akan nyaman kalau aku panggil dengan namamu,” jawab Isyana lirih.
Elvano hanya tersenyum tidak menjawab perkataan Isyana. Mereka berdua pun berbicara santai mengenai pekerjaan. Setelah selesai makan. Isyana di jemput oleh Dira. Elvano mengantarnya sampai ke mobil.
“Makasih ya makan siang nya, El.” Isyana membuka kaca mobilnya.
Elvano mengangguk dan tersenyum. “Hati-hati dijalan.”
Mobil yang di kendarai Dira pun melaju dengan kecepatan sedang keluar dari area restoran. Saat Elvano berbalik dan hendak menghampiri mobilnya. Dia tidak sengaja melihat Nabila berada di sebuah mobil mewah bersama dengan seorang pria. Elvano saat Elvano mau mengikutinya, mobil itu sudah melaju kencang, tidak bisa dia kejar.
“Apa aku salah lihat? Tadi itu memang Nabila, tapi dia sama siapa? Kelihatan nya sangat akrab,” ucap Elvano di dalam mobil.
To be continued...