
Tiga bulan yang lalu.
Hotel Luxury kota Newyork pukul sepuluh pagi.
Isyana merebahkan tubuhnya dia atas ranjang empuk berukuran 200×200. Setelah perjalanan panjang menggunakan pesawat akhirnya dia sampai juga.
"Huh..." Isyana menghela nafas sambil menutup matanya yang lelah.
Jika bukan karena job besar Isyana tidak akan mau pergi meninggalkan sang suami. Jauh dari suami tentunya tidak biasa untuknya setelah 8 bulan menikah.
Iqbal Pratama Lubis, pria yang dia nikahi delapan bulan lalu. Walaupun itu adalah perjodohan. Akan tetapi Isyana juga sudah merasakan benih-benih cinta yang mulai tumbuh, dengan seiring berjalannya waktu.
Isyana menyayangi dan sangat menghargai sosok Iqbal. Pria yang dipilihkan sang ayah untuknya. Kepribadian Iqbal yang dewasa dan perhatian, cukup bisa membuat hati Isyana nyaman. Dengan usia yang terpaut lima tahun, Isyana merasa Iqbal bisa menjadi suami yang baik.
Iqbal dulunya adalah sekertaris dan orang kepercayaan atau bisa dibilang tangan kanan ayah Isyana. Karenamemutuskan u sangat mempercayakan sang anak Isyana pasti hidup bahagia bila menikah dengan Iqbal.
Sekarang ayah Isyana telah pensiun dan perusahaan dialihkan kepada Iqbal. Dengan dibantu oleh paman nya Isyana Iqbal mampu mengelola perusahaan besar GS COMPANY. Perusahaan yang bergerak di bidang media elektronik.
Sedangkan Isyana dari setelah dia menyelesaikan kuliahnya, Isyana tetap tidak mau bergantung pada perusahaan sang ayah. Dia lebih memilih untuk merintis perusahaan nya sendiri dari bawah. Alhasil kini Isyana telah memiliki perusahaan milik nya sendiri yang bergerak di bidang property.
Dan sekarang Isyana berada jauh dari sang suami karena sebuah job besar. Ada perusahaan besar yang mempercayakan sebuah acara pembukaan cabang baru di kota Newyork kepada Even Organizer milik Isyana. Tentu Isyana akan turun tangan sendiri, dia tidak mau mengecewakan klien besar tersebut.
Drrt...drrt...drrt.
Isyana mendengar suara ponselnya yang bergetar. Ia pun beranjak dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas samping ranjang. Isyana tersenyum bahagia. Sebuah pesan masuk dari suami tersayangnya.
...****************...
"Sayang, kamu jangan lupa makan ya. Jaga kesehatan baik-baik...aku gak mau kamu terlalu capek juga. I Love u, sayangku!" ~Iqbal.
^^^"Iya mas, kamu juga ya...jaga kesehatan. Makasih sudah perhatian, Love u to mas." ~Isyana.^^^
"Malam ini aku ada acara Reuni Kampus, sayang." ~Iqbal.
^^^"Iya mas, pergi saja...asal jangan banyak minum ya." ~Isyana.^^^
^^^"Iya sayang, pasti kok. Yasudah sekarang kamu istirahat..." ~Iqbal.^^^
...****************...
Setelah membalas pesan dari Iqbal. Isyana pun bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi. Membersihkan diri lalu bersiap tidur.
Sedangkan disisi lain, lebih tepatnya dikamar sebelah. Seorang pria tampan baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Semerbak aroma mint memenuhi seisi kamar. Pria itu baru saja selesai mandi. Dia juga baru saja sampai di kota Newyork.
Dengan handuk yang melilit di pinggangnya, dia keluar dari kamar mandi. Kulitnya yabg putih dengan otot lengan dan otot perut yang sixpack sempurna. Ditambah rambutnya yang dibiarkan nya setengah basah.
Ialah Elvano Mubarak Direktur Pimpinan Perusahaan Elmubarak Company (EM COMPANY), nampak begitu gagah dan menawan.
EM COMPANY bergerak di bidang Media Elektronik sama dengan GSC. Namun bedanya EMC baru berjalan sekitar tujuh tahun. Sedangkan GSC sudah berjalan selama lima belas tahun.
Akan tetapi EMC sudah sangat berkembang pesat, dan bisa dibilang menjadi saingan GSC dalam lingkup bisnisnya.
Elvano meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Sambil menyeruput kopi Elvano menscroll kontak di ponselnya. Ia berjalan ke arah balkon lalu duduk disalah satu kursi santai.
Panggilan vidio pun tersambung. Nampak seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang. Sedang memegang sebuah kuas blush on dan mengaplikasikannya ke pipi kanan kiri secara bergantian.
"El...apa-apaan kamu ini," teriak wanita itu dengan dahi yang mengkerucut.
"Pakai bajumu! Bagaimana jika Nano melihatmu begitu..." ucap wanita cantik itu dengan wajah khawatir.
"Biarkan saja...." balas Elvano tidak perduli sambil menyeruput kembali kopinya.
"Dimana Nano?Apa dia sudah tidur?"
"Iya dia sudah tidur."
Wanita itu menjawab singkat dan masih sibuk dengan alat make up di tangan nya. Elvano menghela nafas nya seakan tidak suka.
"Nabila, apa kamu yakin mau pergi acara reuni kampus tanpaku?" Wajah Elvano terlihat masam.
Nabila Oktavia, wanita cantik ini adalah istrinya. Begitu pun juga dengan Nano adalah buah hati hasil pernikahan mereka yang sudah berjalan selama tujuh tahun.
Elvano dan Nabila menikah diusia mereka yang masih sangat muda, yaitu 23 tahun. Karena sebuah kesalahan yang mengharuskan mereka menikah muda saat itu.
"Kamu kenapa sih El? Kita ini sudah menikah hampir tujuh tahun, masa pergi reuni saja kamu gak percaya sama aku!" ucap Nabila dengan nada sedikit tinggi.
"Ya ya ya...baiklah terserah kamu saja! Aku hanya bertanya kenapa kamu bicara dengan membentak! Sudahlah aku mau tidur...sebentar malam aku ada pertemuan penting..."
Tak mau berlama-lama bicara dengan Nabila yang tempramental. Elvano pun memutuskan panggilan secara sepihak. Karena merasa begitu kesal dengan nada bicara Nabila yang membentak.
Elvano pun memutuskan untuk tidur saja dan mengistirahatkan tubuhnya menunggu waktu pertemuan malam nanti.
Delapan jam kemudian.
Restauran seafood lantai sepuluh.
Seperti biasa Isyana mengenakan setelan kasualnya. Celana kain putih, kemeja hitam, dan jas putih, yang biasa dia gunakan untuk bertemu kliennya. Dia harus tampil sempurna dan rapi, karena penampilan seseorang akan mencerminkan kualitas kinerjanya. Begitu prinsip yang dimiliki Isyana dari dia masih sekolah.
"Good Evening, Miss."
Seorang pelayan laki-laki menghampiri Isyana yang sudah berada di pintu masuk restauran. Isyana pun tersenyum dengan ramahnya dan memberikan sebuah kertas kepada pelayan tersebut.
"Ok, please follow me," kata pelayan itu.
Pelayan itu mengantarkan Isyana kesebuah ruangan privasi. Yang sudah dipesan oleh klien besar nya. Namun saat memasuki ruangan tersebut.
Isyana terdiam dan mematung. Matanya tak berkedip menatap seorang pria ya g tengah sibuk membaca sebuah proposal ditangan kekarnya.
Pupil mata Isyana berkedut dan tiba-tiba saja dia merasakan jantungnya yang berdetak sangat kuat. Sampai-sampai dia harus memegangi dadanya untum bertahan.
"Ada apa denganku? Tidak biasanya jantungku seperti ini?" batin Isyana bertanya -tanya.
Pria itu pun menyadari kedatangan Isyana, ia pun langsung berdiri menyambut dengan senyuman manis dan mengulurkan tangan nya pada Isyana.
"Selamat malam, senang bertemu dengan anda Bu Isyana..." ucap pria itu dengan suara serak dan chadel nya karena tidak fasih mengucapkan huruf R.
"Pak Elvano Mubarak? Senang bertemu dengan anda juga." Isyana tersenyum kikuk sembari menjabat tangan pria tampan didepan nya itu.
Elvano pun mempersilahkan Isyana untuk duduk.
"Dari penampilan nya yang cantik dan anggun, sepertinya tidak salah jika aku mempercayakan acara pembukaan cabang ini padanya," batin Elvano.
...To Be Continued....