
Badai salju telah di mulai. Elvano terpaksa harus mendobrak pintu mansion yang telah lama tidak di pakai itu. Aroma debu nampak tercium di rongga hidungnya.
"Sya, bangun Sya..." Dia terus memanggil nama Isyana seraya menggendong tubuh Isyana yang masih melemas. Membawanya masuk kedalam mansion.
Di dalam nya tidak terdapat barang-barang apapun hanya sebuah sofa sepanjang dua meter yang berada di pojok ruangan. Elvano merebahkan perlahan tubuh Isyana di atas sofa itu.
Elvano duduk di lantaj tepat disebelah kepala Isyana. Dia memandangi wajah pucat wanita cantik yang beberapa hari ini tidak dia lihat. Dia meraih tangan kanan Isyana. Mengecupnya dengan lembut.
"Sya, kumohon bertahanlah." Sorot matanya nampak begitu khawatir.
Elvano mengusap wajahnya dengan kasar. Dia frustasi harus berbuat apa. Dia tidak mau Isyana sampai kenapa-kenapa. Wanita itu harus di beri pertolongan.
Elvano pun berdiri dan hendak keluar meminta bantuan atau melakukan sesuatu untuk menolong Isyana. Namun, ketika dia akan melangkahkan kakinya.
Tangan dingin menggenggam tangan nya, menahan dirinya pergi. Elvano menoleh kearah Isyana. Wanita itu membuka matanya dan tersenyum lemah.
Elvano kembali berjongkok dan mengusap-usap keala Isyana dan memegangi pipi wanita itu. "Sya, kamu sudah sadar?"
Isyana mengangguk pelan dan tersenyum lemah. "A-aku baik-baik saja, El."
"Aku cari bantuan dulu ya," ucap Elvano seraya berdiri. Tapi lagi-lagi ditahan oleh Isyana.
"Sya, plis ini untuk kebaikan mu," ucap Elvano menatap nanar di matanya.
"El, tetaplah disini..." Isyana mendekatkan telpak tangan Elvano ke wajahnya.
"Tapi, Sya-"
Elvano diam sejenak menatap arah luar jendela. Benar yang dikatakn Isyana. Di luar sedang ada badai. Bahkan ponselnya juga tidak ada jaringan. Elvano pun kembali duduk di tempatnya tadi.
Dia memandangi wajah Isyana yang begitu pucat. Begitu pun Isyana yang menatap Elvano dengan begitu lekat. Bahkan air matanya yang menetes sudah tidak terasa lagi saking kedinginan nya.
Elvano terus terjaga. Dia tidak mau terjadi apa-apa terhadap Isyana. Tangan nya terus bergerak mengusap-usap kepala Isyana dengan lembut. Memberikan rasa nyaman yang teramat dalam buat Isyana.
Tidak terasa sudah satu jam berlalu. Tidak ada tanda-tanda badai akan redah. Malah suasana semakin dingin mencekam. Elvano menoleh kearah Isyana yang terlelap.
Badan nya bergetar hebat. Wajahnya semakin pucat. Pemilik mata indah itu membuka matanya. Mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu. Tapi, bibirnya terasa kelu karena kedinginan.
"Ada apa Sya? Kamu kenapa? Bicara," ucap Elvano panik. Dia memegangi pipi Isyana dan terus menggenggam tangan nya dengan kuat.
"A-aku...di-ding-"
"Kmu dingin?" serobot Elvano yang mengerti ucapan Isyana. Wanita itu mengangguk.
Elvano memegangi baju yang Isyana kenakan. Semua nya basah, bahkan sampai kedalam nya sudah pasti basah. Membuat Elvano semakin frustasi. Dia bingung harus berbuat apa.
Elvano kesana kemari. Mencari sesuatu di dalam mansion itu yang barang kali bisa dipakainya untuk menghangatkn tubuh Isyana. Namun hasilnya nihil.
"SIAL!!!!"
Elvano memukul dinding mansion itu. Kenapa hal ini bisa terjadi. Dia membayangkn bagaimana jadinya Isyana jika tidak ada dia disini. Wanita itu bisa mati membeku diluar sana. Walaupun sudah sempat menjauh. Tapi, takdir mempertemukan mereka lagi. Bahkan di tempat ini, yang rasanya kebetulan sekali.