
Disisi lain. Seorang pria tampan dengan baju kaos hitam yang dilapisi jaket kulit berwarna coklat, serta celana levis yang juga hitam dipadukan sepatu boots kulit hitam. Berjalan dengan gagahnya memasuki lobby yang sama diresort tempat Isyana berada.
Dia disambut dengan ramah oleh pegawai resort itu. Dia melirik arloji ditangan nya sudah ha.pir pukul enam sore. Elvano pergi menemui manager resort dan menanyakan tentang even nya. Apakah Isyana sudah datang ketempat itu?
Manager resort sudah memberitahunya dengan detail. Bahkan Elvano juga bertanya apakah Isyana masih berada diresort itu? Karena hanya menerka saja manager resort mengatakan bahwa Isyana sudah pulang sejak tadi. Padahal saat itu Isyana tengah berada di mansion puncak menikmati pemandangan sore.
Entah ada ikatan batin atau perasaan. Elvano pun juga meminta petugas stasiun kereta gantung itu mengizinkan nya naik keatas puncak. Tentu sempat di tolak oleh petugas. Akan tetapi dengan memohon seperti yang dilakukan Isyana dan berjanji akan turun sebelum jam 7 malam. Elvano di perbolehkan naik.
Elvano memijakan kakinya di mansion tersebut. Ujung jari telunjuknya menyentuh debu di kaca yang nampak kusam. Mansion itu sudah lama tidak dipakai. Ada dua lorong menuju balkon. Dia memilih lorong yang pertama disebelah kiri.
Tanpa dia sadari baru saja ada wanita yang berjalan melewatinya melalui lorong yang kedua. Karena terlalu sibuk dengan diri sendiri mereka tak sadar. Isyana berjalan dengan pandangan ke arah ponselnya.
"Entah kenapa aku jadi teringat olehnya," ucap Isyana menatap layar ponselnya yang memunculkan kontak Elvano.
Tiba-tiba dia kepikiran pria tersebut. Begitu pun juga dengan Elvano yang melihat hujan salju sudah mulai berjatuhan. Dia teringat sosok cantik seputih salju yang waktu itu hujan-hujanan bersamanya.
Sudut bibir nya tertarik. Dia mulai tersenyum mengingat raut wajah Isyana saat mereka tertawa bersama. "Aku merindukanmu, Syana."
Hujan salju semakin deras berjatuhan. Isyana melirik arloji nya yang ternuata sudah menunjukan pukul setengah tujuh. Cepat-cepat ia kembali ke kereta gantung. Namun, kereta itu tak kunjung bergerak.
Buram-buram matanya melihat kearah bawah sana di tengah hujan salju. Isyana tidak bisa melihat petugas tersebut. Bahkan resort mewah itu hampir setengah tidak terlihat.
Dia panik tidak tahu harus berbuat apa. Isyana merogoh sakunya. Bodoh sekali, ponselnya malah mati. Karena terlalu banyak mengambil gambar dia sampai lupa jika ponselnya mati.
"Bagaimana ini?" harap nya cemas.
Isyana menoleh kearah mansion yang sudah lama tidak terpakai itu. Saat hari semakin gelap mansion itu terlihat sedikit menyeramkan baginya.
Hujan salju semakin deras. Tiba-tiba listrik padam membuat sekeliling mansion menjadi gelap. Isyana terkejut setengah mati. Dia sangat takut kegelapan. Isyana berlari ke arah lorong. Berjongkok dengan memeluk lututnya di sudut lorong.
Dia takut membuka matanya di tengah kegelapan. Tanpa sadar air matanya menetes. Dia menggigil, badan nya terus bergetar. Kulitnya yang putih semakin memucat. Isyana merasakan pusing yang hebat, namun dia harus tetap terjaga.
"El, tolong aku," gumam Isyana tanpa sadar yang dia ingat adalah Elvano disaat seperti ini. Denga. Suara nya yang melemah dan bergetar.
Sedangkan disisi lain. Listrik tiba-tiba padam. Elvano yang saat itu masih nyaman di balkon, terkejut. Dia menatap sekelilingnya yang menjadi gelap. Dia berlari dengan cepat kearah kereta gantung. Tebakan nya benar, kereta gantung itu juga mati. Dia tidak bisa kembali turun.
"Sial!!!" umpat Elvano sambil meremas rambutnya frustasi.
Hujan salju itu begitu deras mengenai jaket kulitnya . Elvano pun cepat-cepat kembali masuk kelorong sebelah untuk menghindari hujan salju itu.
Di kegelapan dia tidak sengaja mendengar suara wanita. Apakah itu hantu? Elvano berpikir yang aneh-aneh. Karena dia tahu kalau dirinya sendirian di mansion itu.
Matanya menyipit mencoba menatap sekeliling lorong gelap itu. Pandangan nya tertuju pada satu titik. Sosok berbaju putih tengah berjongkok disudut lorong, dia seorang wanita. Cepat-cepat Elvano berlari kearah wanita tersebut.
"Hey, miss are you okay?" tanya nya kepada wanita yang tengah menunduk dengan badan bergetar itu.
Deg.
Isyana bisa mengenali suara yang familiar itu. Suara itu, suara yang dia rindukan beberapa hari ini. Dengan perlahan dia mendongak menatap seseorang yang mungkin sedang dikhayalkan nya saat ini.
"El," ucap nya tersenyum lemah. Namun sesaat kemudian pandangan nya mulai kabur dan dia pingsan.
"Syana!!" teriak Elvano histeris menangkap tubuh Isyana yang melemas dihadapan nya. Wanita itu tidak sadarkan diri. Elvano panik dan mendekap erat tibuh Isyana. Sambil terus memanggil-manggil namanya agar terus terjaga.
To be continued...
Note : Maaf ya author gak up kemarin, karena ada banyak kerjaan. mohon dimaklumin yah☺️