The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 46 Perdebatan antara dua bocah


Sherlin mengerinyit. "Apa yang kamu lakukan wortel?."


Bocah laki-laki berambut oranye itu tersenyum tipis. "Tentu saja aku di sini untuk menjemput mu tomat!."


Sherlin mengangkat salah satu alisnya. "Hah?!."


...----------------...


Krik...krik...krik...


Suasana menjadi hening seketika.


Sherlin terdiam, dia memijat pelipisnya sembari berbicara pelan. "Wortel, lebih baik kamu jangan menambah masalah untukku."


"Apa maksudmu?!." Dengan raut muka jengkel Robert bertanya pada Sherlin. Dia sangat kesal sekarang. Apa salahnya jika dia hanya ingin menjemput teman nya? lagipula, dia juga ingin melihat Sherlin memakai gaun itu. UPS! sepertinya tujuan Robert ketahuan..


Memang benar, dia hanya ingin menjemput Sherlin tanpa niat apa-apa. Tapi, setelah berpikir sejenak semangat Robert membara. Jika dia menjemput Sherlin bukankah dia juga akan melihat penampilannya memakai gaun manis itu?!.


Jika dibayangkan Sherlin pasti sangat imut. Dan pikiran Robert benar. Lihatlah, betapa manisnya Sherlin sekarang.


Sherlin mendengus kesal, dia menggertakkan giginya lalu berbicara jika Robert hanya mengganggu nya saja. Dia sudah lelah dengan kegiatan ini dan sekarang? si bocah kekanakan itu ingin menambah beban pikirannya?.


"Hei! apa salahnya jika aku menjemputmu?!. Ini juga permintaan ibu mu pada ku tahu!. Ibu mu itu khawatir dengan mu tomat!. Huh, seharusnya kamu berterimakasih pada ku. Tapi lihatlah ini. Kamu sangat menyebalkan." Robert berkacak pinggang dan mempertajam tatapan nya, sedetik kemudian dia memalingkan wajahnya ke samping.


Semburat merah terlihat di telinganya.


Sherlin mendengus. "Huh! baik baik!."


Dia kemudian mengacuhkan Robert dan melewatinya lalu naik ke kereta kuda.


Tap.


Sir Nocton membantu Sherlin untuk naik. "Hati-hati nona.."


"Ya."


"....."


Robert terdiam, dia menghentakkan kakinya. "Heii!!!."


"Tomatt!! kamu mengacuhkan ku?! kamu in–.


Sherlin menyeringai dan berbicara pada kusir untuk segera berangkat. "Ayo berangkat!."


Kusir menengok ke belakang. "Eumm..t-tapi nona bagaimana dengan tuan muda Zekallion?."


"Tidak perlu risau, tak apa. Ayo, jalankan keretanya. Aku ingin segera kembali, aku lelah."


"B-baik nona!."


Hiyaaa.


Tak tuk tak tuk.


Kereta kuda mulai berjalan meninggalkan Robert yang sedang mengoceh.


Saat Robert melihat kereta kuda nya mulai berjalan, dia berlari dan berteriak. "H-heii!!. Tunggu aku!! tomatt! hentikan keretanya!!!."


Drap drap drap.


Dengan kencang Robert berlari, dia mengejar kereta kuda itu.


"Heii!! kubilang berhenti!!."


Ugh!


Robert membaca mantra dan dia dengan seketika berpindah tempat di depan kuda yang sedang berjalan.


Ngiikkk.


Kuda itu terkejut dan langsung berhenti.


Sherlin membelalakkan matanya, dia tidak percaya jika Robert melakukan hal semacam ini yang bisa membahayakan keselamatan nya.


'Ck ck ck, si bocah wortel itu memang sangat gegabah.'


Dengan menghentakkan kakinya Robert berjalan menuju ke pintu kereta kuda yang di naiki Sherlin. Dia membuka pintu nya dan langsung naik.


Bruk.


Robert duduk di depan Sherlin, posisi mereka sekarang berhadap-hadapan.


"Huh!." Robert mendengus kesal.


"........"


Sherlin yang mendengar dengusan Robert hanya menatap nya datar.


"Tsk, kamu bahkan tidak meminta maaf!."


Sherlin menyenderkan punggungnya ke bangku dan melipat kedua tangannya. "Untuk apa?." Ujar Sherlin santai.


Robert semakin di buat kesal, dia menggertakkan giginya. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, kemudian menarik nafas lalu menghembuskan nya.


"Huuuffftt."


"Baiklah. Sekarang aku akan berbaik hati untuk memaafkan mu dan tidak memperbesar masalah ini." Robert berbicara sembari menyilangkan kakinya.


Sherlin hanya diam, dia kemudian tersenyum tipis seraya memandangi langit dari jendela.


'Hahaha tumben sekali dia mengalah.' Batin Sherlin cekikikan.


Setelah itu, suasana di dalam kereta kuda kembali hening.


Mereka berdua hanya diam sembari menatap langit.


Bermaksud untuk menyelesaikan keheningan, Robert memulai pembicaraan kembali.


"Eum, ngomong-ngomong kemana si bocah kasar itu tomat? bukankah dia seharusnya bersama denganmu?. Aku tidak melihatnya dari tadi."


Sherlin melirik sebentar ke arah Robert. Dia menjawab dengan nada malas. "Siapa si bocah kasar?."


"Tsk, tentu saja si Penople!!."


"Penople? Hei! namanya Penelope!."


"Hm, ya terserah."


Sherlin termenung sebentar, dia kemudian membulatkan matanya dan berteriak. "Astaga!!!!."


Mendengar teriakan Sherlin, Robert menutup telinganya dan memejamkan mata. "Hei! kecilkan suara mu tomat!."


Grepp.


Sherlin menggenggam tangan Robert, dia memelas. "Astaga! ak-aku melupakan dia! bagaimana bisa aku melupakan Penelope!!! dia pasti sedang kecewa sekarang!.


Sherlin panik dan gelisah, berbeda dengan Robert. Dia sekarang ini seperti sedang melayang-layang. Hatinya berbunga-bunga dan jantung nya seperti terguncang-guncang.


Rasa-rasanya dia ingin saat itu juga menghentikan waktu dan menunjukkan pada semua orang jika tangan nya sedang di genggam oleh Sherlin!.


Sherlin melepaskan genggamannya membuat Robert tersadar dari lamunannya. Wajah Robert terlihat masam.


'Si tomat itu!!.' Batin Robert jengkel.


"Berbalik menuju kediaman Conscy! Sekarang!!." Sherlin memberi perintah dengan lantang.


"Baik nona!."


...----------------...


Sementara itu, di kediaman Conscy.


Angin berhembus sedang, seorang gadis berambut biru tua berbaring terlentang di atas sofa. Gadis itu terlihat muram dan tidak bersemangat.


Iris mata cokelatnya berkali-kali memandangi lampu gantung yang berada di atas langit-langit atapnya.


Dia menghitung tiap-tiap butir berlian yang berada di lampu gantung itu.


Gadis itu bergumam kecil. "Tiga ratus dua puluh satu, tiga ratus dua puluh dua, tiga ratus dua puluh tiga–.


Gadis yang tak lain Penelope itu sudah menghitung setiap berlian yang berada di lampu gantung itu! dia sudah memulai hitungannya ketika sudah menunggu hampir selama dua jam!.


"Haaahhh, kapan Sherlin datang??. Ini sudah sore. Apakah pesta nya ada perubahan jadwal?." Penelope menghentikan kegiatan menghitung nya sebentar lalu memulai kembali kegiatannya.


"Tiga ratus dua puluh empat, tiga ratus dua puluh lima–.


Penelope terhenti ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok.


"Nona, apa anda didalam?." Tanya seorang pelayan.


"Ya, ada apa?. Apa Sherlin sudah datang?."


"E-eum, ya nona. Putri Edinburgh sudah datang."


Penelope berkedip beberapa kali, dia kemudian bangkit dan langsung mendobrak pintu nya keras.


Drap drap drap.


Brakkk.


Pintu di buka dengan keras membuat pelayan yang berada di depan pintu terpukul ke belakang.


Penelope melirik pelayan itu sebentar. "Oh! maaf ya!."


Pelayan itu tersenyum kikuk dan mengacungkan jempol nya ke atas.


Penelope berlari dengan cepat menuju ke halaman depan.


Setibanya disana, dia melihat kereta kuda dengan lambang Edinburgh. Matanya berbinar dan menulusuri setiap sudut untuk mencari Sherlin.


"Sherlin!!." Penelope melambaikan tangannya.


Sherlin tersenyum canggung, dia membalas lambaian tangan Penelope dengan pelan.


Grepp.


"Akhirnya kamu datang! aku sudah menunggu mu!." Ujar Penelope sambil menggenggam tangan Sherlin.


"......." Sherlin hanya tersenyum kikuk, dia gugup. Apakah Penelope akan marah besar padanya?.


"Kalau begitu, ayo Sherlin. Kita berangkat sekarang!." Penelope dengan girang berjalan sembari menggandeng tangan Sherlin menuju kereta kuda.


"Eh?!, t-tunggu sebentar Pene! i-ini–.


"?!?!!".


Penelope terdiam sejenak, sedetik kemudian. Dia berteriak. "Hei! kamu! bocah menyebalkan!! kenapa kamu disini?!. Enyahlah! aku akan pergi bersama Sherlin berdua! Hanya berdua!!."


Robert menahan tawanya habis-habisan, tubuhnya bergetar. "Fffttt."


"Hei! dasar aneh! cepat minggir!."


"Ck ck ck, sungguh malang sekali dirimu bocah kasar. Ekspektasi mu sudah hancur berkeping-keping sekarang." Dengan santai Robert berbicara sembari menggelengkan kepala dan menyeringai.


"Hah? apa maksudmu?!."


"Tsk, dasar bodoh. Pesta nya sudah selesai sedari tadi! jadi, kamu tidak akan pergi dengan Sherlin sekarang! hahahaha!! benar kan tomat?."


Robert dan Penelope menatap Sherlin, orang yang di tatap malah memalingkan wajahnya dan memejamkan mata.


"B-benarkah itu Sherlin??." Penelope menatap Sherlin dengan raut muka meminta penjelasan.


Sherlin mengangguk pelan membuat Penelope membeku.


"J-jadi...k-kita berdua...tidak pergi ke pesta teh nona Evans?."


"Bukan bodoh! hanya kamu yang tidak pergi!." Robert menyela.


"A-apa?." Penelope kembali membeku.


Sherlin menatap Penelope cemas, Sherlin takut dia marah. Dengan lembut Sherlin memegang pundak Penelope, dia menjelaskan semuanya dengan pelan dan hati-hati supaya tidak melukai perasaan Penelope.


"Maafkan aku...Pene. Maaf karena sudah membuat mu menunggu sangat lama dan maaf membuat mu kecewa." Sherlin menundukkan kepalanya.


"....." Penelope tidak bergeming, dia tidak tahu harus berkata apa.


Penelope dengan ragu menggenggam tangan kanan Sherlin. Sebenarnya tidak apa-apa, dia tidak marah pada sahabatnya itu. Hanya saja, mungkin dia sedikit kecewa karena tidak jadi pergi bersama Sherlin.


"Tidak apa-apa Sherlin. Aku mengerti." Penelope tersenyum kecil.


Sherlin mengangkat kembali kepalanya, dia dengan ragu-ragu menatap Penelope.


"B-benarkah?."


"Tentu saja!." Penelope tersenyum manis.


Hati Sherlin menghangat, dia kemudian mengucapkan terimakasih dan memeluk Penelope.


Penelope membalas pelukan Sherlin, mereka berpelukan seperti menyalurkan kasih sayang satu sama lain.


"Sebagai balasannya, pekan nanti aku akan mengajak mu untuk mengunjungi taman hamparan bunga mawar ku." Sherlin tersenyum.


"Benarkah?!." Penelope dengan cepat melepas pelukannya dan bertanya dengan girang.


"Tentu!."


"Yeah!!!. Aku setuju! mari pergi bersama!!." Penelope melompat-lompat kegirangan, dia menatap Robert yang sedari tadi diam di kereta dengan tatapan mengejek.


Robert menggertakkan giginya. "Tomat! aku akan ikut!."


"Heii!!! apa-apaan kau! ini spesial hanya untuk aku dan Sherlin! kamu tidak boleh ikut!. Itu dilarang!!."


"Hah?! apa hakmu melarangku ikut?! taman itu juga bukan milikmu! itu milik Sherlin, jadi hanya Sherlin yang berhak melarang ku. Yahh meskipun begitu, Sherlin pasti akan mengajak ku ikut!."


"Tidak boleh! itu melanggar!."


"Apa maksudmu bocah kasar?!?!."


"Maksud ku?! aku hanya melarang mu ikut! karena kali ini hanya untuk kami berdua saja!."


"Apa!?. Tidak! mau bagaimana pun, aku akan tetap ikut!."


"Tidak! kau tidak boleh!."


"Boleh!."


"Tidak boleh!."


"Boleh~."


"Tidakk bolehh!!!!!!."


Sherlin hanya diam menatap datar pada kedua bocah yang sedang berdebat itu. Lagi-lagi, mereka berdua bertengkar.


Haahhh. Apa yang harus dia lakukan sekarang pada mereka?.


TBC.