
Robert hendak membuka kotak hadiah pemberian Sherlin, tapi sebelum itu Sherlin mencekal tangan Robert.
"Hei! jangan dibuka sekarang! bukalah nanti, dasar tidak sopan!." Alis Sherlin berkerut.
Robert memanyunkan bibirnya. "Tapi aku sangat penasaran!."
"Huh! aku tidak peduli. Pokoknya jangan dibuka sekarang." Sherlin memalingkan wajahnya.
"Huff baiklah.."
Srak srak.
Tap tap tap.
Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki. Suara itu semakin mendekat ke arah Sherlin dan Robert berada.
"Sherlin!." Teriak Penelope sambil melambaikan tangannya.
Penelope berjalan setengah berlari dengan terburu-buru.
"Penelope! perhatikan langkah mu."
William dengan santai mengikuti Penelope dari belakang. William berjalan dengan berwibawa, raut mukanya nampak tenang.
Sherlin berbalik ke belakang, dia melihat Penelope berjalan setengah berlari ke arah nya dengan di ikuti William di belakangnya.
"Sherlin! maafkan aku, aku telah membuat mu lama menunggu." Penelope dengan cemas menatap Sherlin sambil menggenggam tangan nya.
"En, tak apa." Sherlin tersenyum kecil.
Seperkian detik kemudian William dan Penelope membungkukkan badannya di hadapan Robert.
"Senang bertemu dengan anda Tuan muda Zekallion. Saya putra tunggal Marquess Conscy, William Henry De Conscy. Selamat menginjak usia enam tahun tuan muda."
"Saya putri tunggal Marquess Conscy, Penelope Cruz De Conscy. Selamat menginjak usia enam tahun tuan muda Zekallion."
Robert hanya menganggukkan kepalanya. "Ya."
Haahhh... berbicara sebegitu banyaknya hanya dijawab dengan satu kata oleh nya!.
Si bocah wortel sungguh sangat menyebalkan!
......................
Aula pesta.
Sherlin dan yang lainnya sekarang sedang berkumpul di jamuan makan. Di meja makan terdapat berbagai macam makanan dan minuman, vas bunga yang mewah disusun rapi sedemikian rupa, kursi-kursi berbaris rapi di sisinya.
Sherlin duduk di tengah-tengah antara ayah dan ibunya. Begitu juga dengan Robert, William dan Penelope.
Lalu Duke Zekallion bangkit dari kursinya dan kemudian membuka mulutnya. "Saya sangat berterimakasih kepada semua orang yang datang pada pesta kelahiran putra tunggal saya, terimakasih atas kunjungan dan waktunya. Silahkan nikmati hidangan nya! saya harap semua hidangan ini sesuai dengan selera anda sekalian."
Dengan lantang dan tegas Duke Zekallion berbicara. Semua tamu menganggukkan kepalanya dan bersorak. "Terimakasih kembali Tuan Duke!."
Para pemain musik memainkan lagu yang tenang. Alunan suaranya mampu membuat pikiran terhanyut.
Semua tamu yang di datang memulai makan mereka, begitu pula dengan Sherlin dan kedua orangtuanya. Mereka makan dengan tenang.
Sherlin terlihat sangat menikmati steak daging yang di makannya.
'Steak ini memiliki cita rasa yang sempurna!.'
Saat Sherlin tengah menyantap steak nya lagi.
Musik berganti menjadi alunan musik yang lembut dan kalem. Ini sepertinya musik untuk berdansa.
Sebagian besar tamu bangkit dan mulai berdansa di tengah-tengah aula. Dan sisa nya masih setia memakan makanan mereka.
Pasangan Zekallion dan pasangan Conscy juga ikut berdansa. Mereka sangat serasi.
"Riana, ayo berdansa." Duke Edinburgh mengecup tangan ibu Sherlin.
Duchess Edinburgh merona, dia dengan senang hati menganggukkan kepalanya. "Ya, ayo Ren."
Mereka berdua berjalan berdampingan lalu kemudian berdansa bersama.
Pasangan-pasangan itu!! mereka meninggalkan anaknya sendirian di meja makan!. Untung saja mereka semua pintar, jadi tidak akan ada masalah.
Klak.
Robert yang dari tadi makan menghentikan kegiatan makannya dan berdiri lalu membungkuk di samping kanan Sherlin.
"Hei, Ayo berdansa!." Robert dengan malu-malu mengulurkan tangannya.
Para tamu yang melihat itu bersorak-sorai.
"Wow! lihat! tuan muda Zekallion yang dirumorkan kasar itu mengajak Lady Edinburgh berdansa!."
"Tapi.... bukankah ajakannya terlalu blak-blakan? itu sangat tidak sopan dan tidak romantis."
"Kamu benar. Apakah Lady Edinburgh akan menerima ajakan nya?haha kurasa tidak!."
Semua orang berbisik satu sama lain. Tapi....tetap saja ucapan mereka semua terdengar jelas di telinga!. Sama saja omong kosong!. Dasar para penggosip gila itu!.
Sherlin terkejut, dia tidak menyangka jika si bocah wortel akan mengajak nya berdansa.
William menyindir Robert. "Tuan muda, bukankah ajakan anda terlalu blak-blakan?."
Robert mendengus, "Huh! terserah!."
Sherlin tersenyum tipis. Tidak buruk juga menerima ajakan nya si bocah wortel. Dia akan menerima nya semata-mata untuk melatih hasil dari pembelajaran berdansa nya bersama dengan tutor nya itu.
"Baiklah..." Sherlin menerima uluran tangan Robert.
Robert tidak bisa menyembunyikan perasaan puas nya di wajahnya, dia tersenyum lebar sambil melirik ke arah William.
William merespon dengan tenang, dia tersenyum tipis.
'Heh!.'
Robert menuntun Sherlin ke tengah-tengah aula pesta. Robert dan Sherlin memulai dansa pertama mereka. Gaun Sherlin berkibar, mereka berputar di tengah-tengah aula pesta. Robert dan Sherlin saling bertatapan. Mereka berdua terhanyut dalam pikiran nya masing-masing.
'Gerakan si bocah wortel ternyata sangat lihai.' Batin Sherlin kagum.
Sedangkan isi hati Robert sendiri tidak ada yang tahu selain dirinya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh bocah laki-laki berambut oranye itu.
♪♪♪♪
♪♪♪
♪♪
♪
Pada penglihatan para tamu Robert dan Sherlin terlihat begitu serasi, mereka berdansa tanpa hambatan, mereka berdua nampak seperti peri kecil yang sedang berdansa di langit. Kaki dan tangan kecil mereka berdua terlihat sangat imut. Setiap langkah dan setiap gerakan di amati oleh para tamu.
Robert menatap Sherlin lekat lekat. Di mata Robert Sherlin terlihat sangat imut!
'Dia cantik sekali..'
Sherlin yang merasa tidak nyaman di tatap oleh Robert membuka mulutnya. "Aku tahu aku itu cantik."
Robert tersentak kaget, kemudian mengalihkan pandangannya. "Cih! dasar! kamu itu terlihat seperti tomat! cantik dari mana nya?."
Sherlin menggelengkan kepalanya pasrah.
'Terserah dia saja lah.'
Penelope yang melihat Sherlin berdansa bersama Robert terbakar api cemburu.
'Bisa-bisanya si rambut oranye itu!.'
Penelope menarik kakaknya ke tengah aula. "Kakak! ayo berdansa!."
"Eh? Pene!? bukankah kamu belum sempurna bisa berdansa?. Bagaimana jika kamu jatuh?." William bertanya dengan khawatir.
Penelope tersenyum kecil. "Kakak! itu tidak akan pernah terjadi! namun jika aku jatuh...kakak kan bisa menangkap ku nanti."
"Hufff. Baiklah.."
Penelope berdansa dengan kaku, dia selau menginjak sepatu William.
"Ups! maaf kak! tidak sengaja haha."
"Eh? maaf!."
"Ouch! maaf maaf!!."
Dan begitu seterusnya sampai musik berakhir.
Nyutt, nyutt, nyutt.
Kaki William berdenyut kesakitan, dia pasrah pada takdir kejam yang menimpa kaki nya itu.
'Haaah~ sudah kuduga ini akan terjadi...' Batin William.
Semua tamu mengakhiri dansa mereka. Sherlin dan Robert memberi salam satu sama lain.
"Kemampuan berdansa mu ternyata bagus juga ya tomat!."
"Heh! tentu saja Wortel. Aku kan pintar." Sherlin mengangkat bahunya.
"Ugh! kutarik kata-kata ku tadi!."
"He-heii!!."
Krieettt.
Suara pintu menjadi pusat perhatian, semua orang termasuk Sherlin melihat ke arah pintu yang dibuka.
Sherlin yang tadi akan memaki Robert terhenti saat melihat segerombolan orang yang memakai pakaian khas.
'M-mereka....
Hi~
Jika ada typo tolong kasih tahu author di kolom komentar ya!.
To Be Continued~