
Drap drap drap.
Aku berlari menghampiri guru Fernand.
Penelope terkejut, dia berlari menyusul ke arah ku dengan membawa Felix di gendongan nya.
"Guru! Guru! apa kamu baik-baik saja!?." Tanya ku cemas sambil menggoyang-goyangkan lengannya guru Fernand.
"Ya, tuan Zelary anda tidak apa-apa?." Tanya Penelope.
"Uhuk! Uhuk! aku baik-baik saja. Kalian tidak usah cemas." Guru Fernand menjawab sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang sekarang sangat kotor.
Sekarang wajah, seluruh pakaian dan tubuhnya guru Fernand sangat kotor! seluruh tubuhnya seperti di cat dengan warna hitam saat ini. Ah sepertinya aku keterlaluan.
"Huhu, maafkan aku guru! a-aku sudah melebihi batas. I-ini salahku huhu." Aku memelas sambil memeluk lengan kanan guru Fernand yang kotor.
Guru Fernand menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Sudah, tidak apa. Ini bukan salahmu muridku. Ini salah guru karena kewaspadaan dan kecekatan ku kurang."
Kini Guru Fernand perlahan bangkit dan berdiri, haa untung saja aku tidak terlalu memberikan daya ledak yang besar pada peluru kendali itu. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada guru Fernand.
Aku menghela nafas lega. "Fyuuhh... untung saj–.
Ucapan ku terhenti saat melihat ada sosok yang tak asing berlari ke arah ku.
"Hei tomat!."
"K-kamu! kenapa kamu datang kesini??." Tangan ku bergetar saat menunjuk ke arah si bocah wortel.
Kenapa dia datang!?
D-dan kenapa dia tiba-tiba kemari!?
Lalu k-kenapa–
Hah! tunggu! aku... seperti mengenal manset kancing yang dikenakan si bocah wortel itu.
Ho~ aku ingat. Itu hadiah yang kuberikan!
Fufu seperti nya dia menyukai hadiah ku.
Robert berlari dengan cepat menghampiri ku dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Ayo kita berduel!." Ujarnya lantang.
"Apa!?." Sahut ku dengan berteriak tepat di depan mukanya.
Robert mengusap wajahnya kasar. "Ugh! kamu! ludahmu mengenai wajahku!."
"...."
Aku terdiam sambil menundukkan kepala.
'B-bocah wortel ini!.'
Oke, aku sekarang sedang malu setengah mati saat ini jadi biarkan aku menenangkan diri ku duluミ●﹏☉ミ.
......................
Beberapa saat kemudian (~‾▿‾)~.
Masih menundukkan kepala, aku menatap ke tanah dengan tatapan rumit.
Robert mendengus. "Huh! kamu berpikir terlalu lama, apakah kamu takut? heh!."
Guru Fernand, Penelope dan Felix masih berdiri di belakang ku dan menatap interaksi antara aku dan si bocah wortel.
Aku melirik ke arah guru Fernand, berharap dia akan mengizinkan ku untuk menerima tantangan duel Robert.
Ha! pandangan kami bertemu. Guru Fernand menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Aku membalas senyuman guru Fernand dengan lebar lalu menatap Robert tajam sambil mengulurkan tangan. "Cih! baiklah, ku terima tantangan duel mu."
Robert menyeringai dan menjabat tangan ku. "Bagus, ayo mulai!."
Aku mendengus kesal, pasalnya dia sangat arogan tahu!? dia sama sekali tidak mempunyai sopan santun. Bahkan dia tidak menyapa guru Fernand dan Penelope, betapa menjengkelkan nya!.
Huh oke, pikirkan itu nanti. Sekarang aku harus fokus pada duel ini! aku harus menang melawan si bocah wortel. Akan sangat memalukan jika aku kalah darinya.
Guru Fernand berjalan mendekati Robert dan aku sambil tersenyum simpul. "Duel ini dibatasi dengan skor 4, skor pemenang akan dihitung jika lawannya jatuh ke tanah atau melewati tempat latihan ini. Dan, jika lawan mengaku menyerah maka yang satunya akan menjadi pemenang."
Kami berdua mengangguk.
Duel ini tidak terlalu sulit. Heh! akan ku buat kamu menjadi kelinci percobaan serangan baru ku bocah wortel(•̀ ヘ•́ )╯.
Brrrrr.
Robert merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya. Dia...bisa dibilang merinding.
'Hiiikk, hawa dingin apa ini!?.'
......................
Kami berdua berada di tengah-tengah lapangan latihan dengan posisi berhadap-hadapan. Guru Fernand berdiri di sisi kanan dengan pakaian yang baru.
Ya tentu saja guru Fernand sudah mengganti pakaian dan membersihkan tubuhnya tadi, mana mungkin author membiarkan salah satu karakter tamvan di novel ini berpenampilan kuchel:v*.
(Kuchel - Kucel \= Kumal/Dekil*)
Ekhem!
"Bersiap!."
Aku memasang kuda-kuda, begitu juga dengan si bocah wortel.
"Mulai!." Ujar Guru Fernand dengan lantang.
"Διάδοση κεραυνού!."
Si bocah wortel yang pertama kali menyerang, dia menyerang dengan membuat serangan petir.
Wushh.
Zrtt Zrtt
Rambatan petir itu menuju ke arah ku dengan cepat, si bocah wortel menyeringai.
"Heh!."
Sringg.
Wush.
Zrtt Zrtt
Kini rambatan petir si bocah wortel sudah ku halau dengan serangan yang sama persis pula.
Kedua rambatan petir itu beradu sama lain dan meledak menciptakan hempasan angin yang lumayan kencang.
Boommmm.
Wushhhh.
Si bocah wortel membelalakkan matanya dan berteriak. "Apa!? heii!."
"Ada apa? kenapa kamu terlihat kesal seperti itu??." Aku bersidekap tangan sambil mengangkat salah satu alis.
"Tsk!. Aku tidak akan bermain-main lagi! bersiaplah tomatt!!!."
Robert memasang kuda-kuda dan merapalkan mantra. "έκπληξη μπάλα του εδάφους!."
Syuuu.
Dengan kencang Robert melesat menuju ke arah ku.
Wushh.
Dengan cepat aku menghindar, ahaha serangannya mudah sekali ditebak.
Tap.
Aku menghindar ke sebelah kanan si bocah wortel, aku berbalik menatap nya sambil terkekeh.
"Ffftt fufufu wortel! hanya segini?? kamu de–.
Ucapanku terhenti saat melihat seringai yang menghiasi bibir si bocah wortel.
Wushhh.
"Hah!?."
Brakkkkk.
Sebuah bola tanah yang berukuran sangat besar menghantam tanah tempat ku berpijak.
Sriingg.
Tap.
"Hosh hosh hosh." Aku menatap nanar ke tempat bola tanah itu terjatuh dengan terengah-engah.
'Untung saja aku cepat berteleportasi dan menghindar di tempat yang aman, jika tidak...entah apa yang akan terjadi padaku.'
'Cih! sepertinya aku telah meremehkan si bocah wortel ini!.'
'Dia sengaja secara terang-terangan melesat ke arahku supaya bisa memancing ku untuk berada di target jatuhnya bola tanah itu dan dia bisa memperkirakan kemana aku akan menghindar. Jika saja aku menghindar ke arah kanan atau terjatuh maka dia bisa mendapatkan satu skor pertama. Heh! boleh juga strategi dia.'
"Baiklah, aku akan lebih serius kali ini!."
Aku memejamkan mata beberapa detik lalu kemudian sebuah peluru kendali yang lumayan besar muncul di sekeliling ku dengan jumlah sekitar tiga sampai empat buah.
"Serang dia, rudal ku tersayang!." Ucapku sambil menunjuk ke arah Robert.
Syat.
Robert terkejut, dia berkali-kali menghindar kesana-kemari dengan cepat. Peluru kendali itu mengikutinya dengan lihai, Robert sepertinya kewalahan terus-terusan menghindar seperti itu.
'Hosh hosh, benda aneh ini! aku sudah berbelok-belok dengan lincah tapi kenapa tetap saja mengikuti!?.'
'Tidak ada pilihan lain! aku akan menyerang benda aneh ini!.'
Robert menggertakkan giginya. "Κεραυνός!."
Sebuah rambatan petir di luncurkan pada peluru kendali ku.
Syungg.
Booommm.
Peluru kendali itu meledak menghempaskan Robert beberapa meter ke belakang dan Robert berakhir terjatuh dengan posisi telungkup.
"Aaakkk!."
"Ugh!. Apa!? Uhuk! s-sebenarnya benda apa itu!?."
Aku tersenyum manis sambil mengibaskan rambut ku. "Satu skor pertama untukku!."
Guru Fernand mengangkat salah satu tangannya. "Satu-kosong."
Penelope bersorak gembira. "Yey! horee! semangat Sherlin!!!."
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum.
Robert mendecih lalu bangkit tapi peluru kendali yang meluncur kembali meledak.
Boommmm.
Wushhh.
"επίγεια ασπίδα!."
Robert membuat sebuah perisai dari tanah tapi itu hancur dan dia kembali terhempas ke belakang.
Brukk.
"OUCH!."
"Dua-kosong." Ujar ku dengan guru Fernand bersamaan.
"Tsk!. Toomaaattttt!!!." Robert berteriak lantang dengan urat-urat yang muncul di dahinya.
"Ups, sepertinya dia kesal setengah mati." Aku menutup mulut ku dengan tangan kanan sambil mengerinyit. Aku sementara menahan peluru kendali ku yang tersisa dua untuk tidak meluncur terlebih dahulu.
Robert menggertakkan giginya dan mengusap mukanya kasar, dia kemudian bangkit berdiri sambil menatap ku tajam. Sebaliknya, aku membalas tatapan tajam si bocah wortel dengan santai.
"Wortel, ini belum selesai semua lho~." Aku menggerakkan tangan kiri ku, menunjuk ke arahnya.
"Serang."
Wushh.
Syuuu.
Peluru kendali ku meluncur dengan cepat ke arah si bocah wortel.
Robert menatap nanar peluru kendali itu. "Ugh!."
Syat.
Boommmm.
Peluru kendali kembali meledak. Robert kembali terhempas dan terjatuh ke tanah.
Brukkk.
"Uhuk! Uhuk!." Robert terbatuk-batuk, dia mengibaskan tangannya.
Guru Fernand kembali bersuara. "Tiga-kosong. Pemenangnya adalah Sherlin. Duel ini selesai."
Penelope bersorak kegirangan sampai berjingkrak-jingkrak.
"Horee! Sheer-Lin! Sheer-Lin! Sheer-Lin!!!!! Sheerr-Liiinnn Meeeennaanggg!!!. Woohooo!."
Penelope melompat-lompat kegirangan, Felix yang berada di gendongan nya sampai terguncang guncang.
'Ugh! si bocah biru tua si*laannn.' Batin Felix jengkel.
Flashback tutup~
"Nah, sudah kalah kan? ayo kubantu kamu bangun." Aku mengulurkan tanganku pada si bocah wortel yang terduduk di tanah.
"Hmph!." Robert memalingkan wajahnya kesal.
"Hei! bocah menyebalkan! Sherlin dengan baik hati membantu mu berdiri tapi kamu! tsk! bisa-bisanya mengabaikan pertolongan Sherlin!." Ujar Penelope sambil bertolak pinggang.
"Bukan urusanmu." Robert dengan dingin menyahuti.
"Hah!?!?."
"Cukup! tidak apa-apa Pene." Aku memegang telapak tangan kanan Penelope. Lebih baik dicegah terlebih dahulu sebelum mereka berdua berdebat.
"Tapi Sherlin, dia–."
Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum tipis.
"....Hufftt. Baiklah...."
Guru Fernand berjalan mendekat ke arah ku. "Kerja bagus muridku." Ujar Guru Fernand sambil mengusap-usap kepala ku.
"Eum!."
Robert bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor.
Pak.
Pak.
Pak.
"Tuan muda Zekallion, anda sudah bekerja keras.." Guru Fernand tersenyum simpul pada Robert.
"....."
"Hmph!."
Guru Fernand tersenyum canggung, dia berdehem. "Ekhem, Ekhem."
Robert berbalik menatap lekat ke arahku. "Tomat, sebenarnya benda apa itu!? bagaimana dia bisa dengan tepat mengikuti kemana pun aku menghindar??."
"Ah, itu sederhana. Peluru kendali, serangan yang baru kubuat itu menggunakan jaring-jaring mana untuk membuat peluru kendali ini bergerak dengan lincah kesana-kemari. Aku hanya perlu berkosentrasi membuat jaring-jaring mana nya dan menentukan target dari penyerangan saja." Aku dengan semangat menjelaskan.
Robert masih menatap ku, dia sepertinya tidak mengerti apa yang aku katakan barusan.
'Tsk!. Tapi...guru Fernand mengerti bukan??.' Spontan aku melirik ke arah guru Fernand, dia terlihat menunjukkan raut muka khasnya jika sedang berpikir yaitu....memegang dagu sambil memejamkan mata dengan di iringi anggukan-anggukan kepala.
'Hehe guru Fernand memang sa~ngat cerdas.'
......................
JUST INFO~
Sherlin : "Hello~."
Sherlin : "Aku Sherlin! Disini aku akan menjelaskan secara simpel bagaimana peluru kendali (rudal) ku bisa bekerja."
Sherlin : "Menurut Wikipedia peluru kendali (disingkat: rudal) atau misil adalah senjata roket militer yang bisa dikendalikan atau memiliki sistem pengendali otomatis untuk mencari target atau menyesuaikan arah."
Sherlin : "Nah bisa disimpulkan jika peluru kendali atau rudal ku bisa tepat sasaran karena ada sistem pengendali, tapi ini berbeda. Sistem pengendali yang dipakai adalah pikiran ku sendiri. Seperti yang telah di jelaskan, aku membuat jaring-jaring mana supaya bisa menjadi penghubung antara peluru kendali dengan pikiran ku. Jadi, aku bisa sesuka hati mengendalikan dan meledakan nya kapan saja."
Sherlin : "Seperti itulah cara kerja serangan baruku✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Sherlin : "Apakah kalian mengerti?."
Readers : "....."
Sherlin : "Oke...eumm aku tahu ini terlalu terbelit-belit, kalau begitu apa kalian tahu Sasori Akatsuki dari anime Naruto??
Readers A : "Tahu!."
Readers B : "Enggak!."
Sherlin : "Ahaha jika ada yang tidak tahu..bisa searching di google ya:^ (Plakkk)
Ouch!
Author : "Yang bener ngejelasinnya!!."
Tsk! Oke!
(Intinya dia adalah ninja pengendali boneka dengan media benang chakra)
Sherlin : "Nah begini....Sasori Akatsuki kan ninja pengendali boneka yak? nah pengendali nya pake benang chakra bukan? yup! bisa di jabarkan jika cara kerja peluru kendali ku hampir sama persis seperti cara Sasori Akatsuki mengendalikan boneka nya. Tapi...hanya saja ini lewat pikiran melalui penghubung mana sihir yang rumit dan tidak terlihat. Dan itulah penyebab alasan aku tidak bisa menciptakan peluru kendali dengan jumlah banyak. Yup! tepat sekali! karena membuat jaring-jaring mananya~
Sherlin : "Itu sa~ngat rumit dan memeras otak!."
Readers : "Ouhh ternyata begitu toh! okelah paham!."
Author : "Jika masih ada yang tidak paham silahkan berkomentar~
Sherlin : "Jangan lupa! beritahu author jika ada typo ya!."
TBC.