The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 42 Pelampiasan


Malam harinya pun tiba.


Makan malam bersama sudah di lakukan sekitar tiga jam yang lalu Jadi, Sherlin sekarang sedang menghabiskan waktu di kamarnya.


Sherlin saat ini sedang membaca buku di sebuah sofa sembari di temani beberapa cemilan dan secangkir cokelat panas.


Gloxinia dan Felix juga ada di dalam kamar nya itu, mereka berdua duduk dengan santai di dekat Sherlin.


Jari-jari Sherlin membalikkan halaman-halaman buku itu satu persatu, Sherlin sangat fokus membaca buku itu.


Di sisi lain Felix memandangi Sherlin jengkel. Dia sangat kesal, bukankah saat siang dia meminta Felix mendatanginya karena ada yang penting? tapi....apa ini!? dari siang sampai malam dia tidak membicarakan hal itu lagi. Apa dia membual?.


Huh! padahal dia sudah mengorbankan waktu istirahat nya untuk itu.


Felix membuka suaranya. "Hei bocah tengik! aku sudah menunggu lama! ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan!?."


Sherlin melirik sebentar ke arah Felix dan kemudian dia kembali melanjutkan membaca bukunya itu.


'Yang benar saja!.' Felix berteriak di dalam hatinya.


Gloxinia hanya menyimak dengan tenang, dia tenggelam dalam pikirannya. Kalian tahu? Gloxinia saat ini sedang berbincang-bincang dengan adiknya itu. Tentu saja, mereka berdua bertelepati.


'Kakak! apa kamu mencoba membunuh ku dengan tumpukan-tumpukan kertas ini!?!?. Ayo! segera kembali ke sini!!!.' Teriak adiknya Gloxinia.


Gloxinia dengan terkekeh menjawab. 'Ahh tenanglah adikku yang manis. Kakak ingin kamu membantu kakak saja hahahaha. Lagipula, kakak sibuk di sini. Bukankah membantu kakaknya yang kesusahan merupakan salah satu dari contoh adik yang baik kepada kakaknya??.'


'Apa!? kakak...apa kamu bercanda!?. Kamu menyerahkan semua pekerjaan ini padaku selama lebih dari lima tahun!!! apakah ini merupakan salah satu contoh kakak yang baik?.'


'Aku jauh lebih sibuk dari pada kakak!.'


Gloxinia seketika terdiam, dia dengan gugup menjawab adiknya. 'Eum...Hufftt baiklah. Aku akan segera kembali. Tapi, nanti. Aku akan meminta izin dari nona.'


Adik Gloxinia merubah nada bicaranya menjadi lebih tenang. 'Benarkah? kakak akan kembali? Tsk! baiklah. Aku akan menunggu, tapi...lihat saja kalau dalam jangka waktu lama kamu tidak datang! aku tidak akan lagi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ini!.'


Wushh.


Adik Gloxinia memutuskan telepati nya secara tiba-tiba. Gloxinia terkejut, dia sebenarnya tidak tega meninggalkan semua pekerjaan itu pada adik satu-satunya itu. Tapi, bagaimana pun juga dia ingin bersama dengan Sherlin sepanjang waktu. Haaahhh, dia akan membicarakan ini dengan Sherlin nanti.


Kembali ke Sherlin.


Sherlin memejamkan mata dan berkosentrasi.


Wushh.


Cangkir bercorak bunga yang berisi cokelat panas itu melayang ke atas. Samar-samar terlihat sebuah jaring yang terhubung antara tangan Sherlin dan cangkir itu.


Beberapa detik kemudian Sherlin membuka matanya, dia tersenyum puas.


"Berhasil!."


Felix dan Gloxinia melihat cangkir yang terangkat ke atas itu. Mereka berdua takjub.


"Woahh! nona! bagaimana bisa cangkir itu terbang!? anda sangat hebat!." Puji Gloxinia. Matanya berkilau dan mulutnya tak henti-henti tersenyum.


Sherlin terkekeh. "Hehe, aku mencoba membuat teknik baru dengan menerapkan konsep jaring-jaring mana pada benda tertentu selain peluru."


Gloxinia ber'oh'ria. Di sisi lain reaksi Felix cukup menyebalkan.


Felix berdehem. "Ekhem! cukup menarik."


"....." Sherlin menatap datar Felix.


Sherlin mempunyai alasan ketika dia tidak menjawab pertanyaan Felix tadi. Dia saat itu sedang serius membaca buku tentang ahli sihir. Buku itu tebal dan terlihat tua, tapi isinya masih bagus dan utuh.


"Maaf kan aku membuat mu menunggu Felix."


Felix merubah wujudnya menjadi manusia, dia bersender di sofa. "Hm! tak apa!. Jadi, apa sesuatu yang penting itu?


Sherlin tersenyum kecil, dia menurunkan cangkir itu ke tempat nya semula. "Sebenarnya...tidak ada."


"???."


Felix memasang raut muka bingung. Sherlin yang melihatnya hanya tersenyum lebar.


"Felix, raut muka mu terlihat bodoh." Ujar Sherlin sambil terus tersenyum.


"Ti...dak. Ada?." Felix menundukkan kepalanya, dia mengeluarkan aura suram.


Sherlin dengan santai menjawab, dia menaikkan bahunya. "Ya. Tidak ada, aku hanya ingin kamu menemani kelas sihir ku saja."


"Ah begitu ya. Padahal aku sudah mengorbankan Istirahat ku yang nyaman...." Felix mengangkat pandangan nya dan menatap ganas Sherlin.


"Dasar bocah tengik sial*n!!!! dasar bodoh!! kamu $@#_ $@_#)#)( @$#)//#/#." Felix mengumpat tak henti-henti menyebabkan Gloxinia terbengong-bengong. Sherlin hanya tersenyum sambil menutup kedua telinganya.


Beberapa saat kemudian, Sherlin berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Felix dan Gloxinia.


Tap tap tap.


Saat Sherlin hendak meraih gagang pintu, Felix menghentikan nya.


"Hei! bocah tengik! kamu jangan pergi dulu!!! aku belum me–.


Hap!


Gloxinia menutup mulut Felix dengan tangannya, dia tersenyum manis pada Sherlin.


"Pergilah, nona. Saya akan menangani ini."


Sherlin tersenyum kecil dan mengangguk. "Terimakasih, Gloxinia."


"Tentu nona."


Klek.


Sherlin membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali. Dia berjalan dengan agak cepat menuju ke ruangan kerja ayahnya. Tujuan Sherlin datang ke ruangan kerja ayahnya tidak lain adalah menanyakan mengenai seputar upacara pemanggilan spirit.


Drap drap drap.


Suasana di lorong mansion lumayan sepi. Sherlin melihat persekitaran lorong-lorong yang di lewati nya.


'Ini sepi, mungkin semua orang sudah tidur?.' Sherlin bergumam pelan.


Yahh, bagaimana pun juga sekarang sudah larut malam. Bahkan Lili juga sudah beristirahat di kamarnya.


Di tengah-tengah perjalanan, Sherlin bertemu dengan kepala pelayan di tangga. Dia baru saja turun dari lantai empat.


Sherlin menggaruk tengkuknya. "Oh! Sebastian! hahaha, a-aku ingin ke ruang kerja ayah."


Sebastian menatap Sherlin selama beberapa detik, kemudian dia dengan sopan menjawab. "Jadi begitu. Mari nona muda, saya akan mengantar anda."


Sherlin tersentak. "E-eh? Sebastian tidak perlu haha. Kamu pergi istirahat saja, aku bisa sendiri."


"Tapi nona muda, ini sudah larut malam. Jika di jalan anda lelah saya bisa menggendong anda nanti."


"A-apa?."


"Sebastian, kamu–.


Sherlin dan Sebastian berdebat dengan sengit. Dan beberapa waktu berlalu, debat di menangkan oleh Sebastian dan Sherlin dengan pasrah di antar ke ruang kerja ayah nya.


Srek srek srek.


Di luar ruangan terdengar samar-samar suara orang yang sedang menulis.


Sherlin tersenyum kecil, dia berada tepat di depan pintu ruang kerja ayahnya.


Tok tok.


"Tuan, ini saya kepala pelayan. Nona muda ingin bertemu dengan anda."


Sebastian mengetuk pintu dan berbicara dari luar ruangan dengan sopan.


Duke berhenti menulis dan menatap pada pintu, dia membuka suara nya. "Masuklah."


Klek.


Sebastian membuka pintu nya pelan lalu menutupnya kembali. Sherlin berada di belakangnya dia muncul dari balik Sebastian dan melambaikan tangan pada Duke.


"Selamat malam! ayah!."


"Sherlin, mengapa kamu belum tidur? ini sudah malam. Dan juga apa yang membawa mu kemari?." Duke berbicara sembari terus menulis.


Sherlin tertawa dengan nada kecil, dia berjalan menghampiri meja tempat Duke bekerja dan merangkul lengan kirinya.


"Hehehe, aku tidak bisa tidur karena merindukan ayah ku yang tamvan ini." Ujar Sherlin sambil bergelayut manja di lengan Duke.


Duke menghentikan kegiatan menulis nya, dia mengusap-usap kepala Sherlin lembut.


"Semakin hari kamu semakin pintar berkata manis."


Sherlin hanya tersenyum kecil, dia tidak membalas ucapan Duke barusan.


"Ngomong-ngomong kenapa ayah masih bekerja? bukankah seharusnya ayah biasanya sudah tidur bersama ibu sekarang? apakah pekerjaan yang harus di selesaikan semakin banyak?." Sherlin melihat-lihat berkas yang bertumpukan di meja Duke.


Sherlin diam-diam berkata dalam hatinya. 'Ngeri juga!.'


Dia menatap horor pada kertas-kertas itu. Mereka sangat banyak! sampai-sampai semua berkasnya jika ditumpukkan bisa menyamai tinggi bahu Sherlin.


Di masa mendatang Sherlin pasti akan mengalami hal ini juga. Mengerjakan pekerjaan pekerjaan dan urusan wilayah Dukedom.


Sherlin meneguk ludahnya kasar.


Gluk.


Duke menatap ke arah samping dia dengan gugup menjawab pertanyaan Sherlin. "Y-ya. Pekerjaan ayah hari ini sangat b-banyak hahaha. Jadi, a-ayah harus lembur."


Sebastian yang masih berada di ruangan itu hanya tersenyum tipis sembari melihat ke arah samping. Dia mendengar jawaban Duke dengan bingung, Sebastian menaikkan alisnya.


Sebenarnya tadi saat makan malam selesai Duke langsung pergi ke ruangan nya dan mengambil berkas-berkas yang menumpuk dan mengerjakan pekerjaan yang seharusnya untuk minggu depan.


Sebastian sudah menanyakan perihal kenapa Duke mengerjakan pekerjaan itu? bukankah itu untuk minggu depan?. Dan Duke hanya memberi jawaban jika menurut nya pekerjaan itu jangan ditunda-tunda, lagipula jika sudah selesai dia akan memilih waktu luang yang banyak.


Sebastian berpikir keras, dia mengingat jika tadi pagi dia mendapat kabar dari pelayan yang lain bahwa Duke dan Duchess sempat bertengkar.


Jadi, Sebastian menganggukkan kepalanya paham dengan situasi yang terjadi. Duchess pasti mengusir Duke keluar dan mereka tidur terpisah lalu Duke menyibukkan dirinya pada pekerjaan untuk mengalihkan hal itu. Jadi, dia bekerja lembur. Mungkin Duke akan bekerja semalaman?.


Sebastian menahan tawanya diam-diam, menurutnya ini lucu.


Sedangkan di saat Sebastian menahan tawanya, Sherlin sedang duduk menyender di sofa.


Duke melirik ke arah Sebastian, dia menyadari Sebastian sedang menahan tawa dan dia dengan jengkel menyuruh nya keluar.


"Sebastian, keluar." Ujar Duke dingin.


Sebastian mengangguk patuh dan membungkuk kemudian keluar.


Klek.


Pintu ditutup dengan pelan, Duke menghampiri Sherlin yang sedang duduk di sofa.


"Ekhem, sebenarnya ada keperluan apa putriku ini datang malam-malam ke ruangan kerja ayahnya?." Duke berdehem dan menatap Sherlin.


"Eum, itu ayah. Apa...ayah tahu kapan upacara pemanggilan spirit dimulai?." Sherlin tersenyum kikuk.


Duke ber'oh'ria. Ah ternyata begitu, putrinya menanyakan perihal tentang pemanggilan spirit toh. Duke kemudian memejamkan matanya dan mengingat-ingat.


"Mengenai upacara pemanggilan spirit, baru-baru ini ayah dan bangsawan lainnya sudah mengadakan pertemuan penting dengan kaisar dan tetua kuil. Pemanggilan nya masih cukup lama, sekitar satu bulan-an."


"Kamu tenang saja putriku, ayah pastikan kamu tidak tertinggal dan soal persiapannya itu sudah siap semua. Tinggal menunggu waktu saja."


Duke tersenyum menatap Sherlin dengan hangat, dia menggenggam tangan nya.


Sherlin menganggukkan kepalanya dan memeluk Duke. "Terimakasih, ayah!."


"Ya, sama-sama putriku."


"Sherlin, lebih baik kamu segera ke kamar mu dan tidur. Ayah akan menyelesaikan pekerjaan ayah yang menumpuk."


"A-apa ayah baru saja mengusirku??." Sherlin melepaskan pelukannya dan menatap Duke tajam.


"Hahaha, bagaimana mungkin?."


Sherlin menghela nafas dan kemudian pamit, dia keluar dengan sendirinya.


Duke menatap kepergian Sherlin dengan gugup.


TO BE CONTINUED.